Cinta Tianda Ganti (Ketika Cinta Datang Dan Pergi)

Cinta Tianda Ganti (Ketika Cinta Datang Dan Pergi)
Bertanggung Jawab


__ADS_3

"Ada perlu apa Kania kau datang ke sini?" tanya Permadi to the point. Kania mengerutkan keningnya heran akan pertanyaan Permadi yang dianggapnya tidak masuk akal.


"Setelah apa yang kita lakukan selama satu tahun lebih. Kau bertanya padaku, ada perlu apa aku datang ke sini?'' senyum sinis terkesan menyakitkan baginya.


Dan ia sendiri tidak habis pikir setelah Permadi menceraikan Nadia, Kania justru masih belum bisa memiliki Permadi seutuhnya. Separuh dari hatinya masih tertinggal entah untuk putra kesayangannya Fafa atau baru menyadari perasaannya untuk mantan istrinya Nadia.


"Maafkan aku Kania. Aku hanya bertanya padamu bukan, maksud ku menyakiti mu," ucap Permadi sedikit merendah.


"Mas apa yang terjadi malam itu saat terakhir kita bertemu di club." cecarnya pada Permadi.


"Maksud mu?" tanya Permadi balik.


"Aku hamil mas,"


"Apa?!"


Permadi sangat terkejut mendengar penuturan Kania yang membuatnya cukup syok. Permadi mengusap wajahnya kasar menyugar rambutnya frustasi, menyesali kebodohannya mencoba meyakinkan dirinya bahwa tidak terjadi sesuatu di malam itu. Meski mereka biasa melakukannya atas dasar suka sama suka, akan tetapi kesalahan di malam itu sangatlah fatal. Permadi dalam keadaan mabuk berat karena melakukannya tanpa menggunakan pengaman.


"Kania, kenapa ini harus terjadi? Bagaimana jika semua orang kantor tahu?" keluhnya memikirkan kerumitan yang terjadi padanya.


"Kenapa? Bukankah dulu ini yang kau harapkan? Kembali menjalin hubungan terlarang denganku lalu menceraikan istrimu. Lalu apa lagi selain kau harus menikahiku, karena ini adalah darah daging mu mas," ujar Kania meraih tangan Permadi dan meletakkannya di atas perutnya yang masih rata.

__ADS_1


Permadi teringat akan peringatan keras papanya juga mama Dita, untuk tidak lagi berhubungan dengan Kania apa pun alasannya. Dengan atau tanpa adanya setatus perkawinan anatara dirinya dengan Nadia yang kini telah menjadi mantan istrinya.


"Tapi masalahnya sekarang sudah jauh berbeda, Kania. Kau tahu ayahmu mendatangi kantor papa, dan mengancam akan menghancurkan karirku dan menarik semua investor papa dengan kekuasaan yang ayahmu miliki," Kania memicingkan matanya yang sama terkejutnya.


Kania merasa semua orang di sekelilingnya begitu kejam begitu juga dengan ayahnya yang sangat melarang dirinya kembali pada Permadi. Yang telanjur membuat harga diri Ardana dinata jatuh dan merasa terhina karena rencana perjodohan yang mama Permadi lakukan, sedang Ardana telah memberi restu akan hubungan mereka dulu jauh sebelum menikahi Nadia.


Suasana tegang dengan wajah kaku di keduanya membuat mereka terdiam sesaat,



Permadi masih memikirkan mencari solusi terbaik akan hubungannya yang telah telampau jauh dengan Kania hingga menumbuhkan benih kehidupan di rahimnya.


Bukan karena ketidak sengajaan namun, takdir yang telah merubah mereka melalui cara yang tidak seharusnya terjadi.


Kania dapat tersenyum menghela nafasnya lega sedikit banyak ia telah mendapatkan kejelasan akan bayi dalam kandungannya.


🍁🍁🍁


"Nadia aku akan kembali ke apartemen, besok pagi-pagi sekali aku harus ke Bogor. Ada seminar penting di Universitas, setelah tugasku selesai secepatnya aku akan menikahimu.'' ucap Arshaka sebelum pamit pergi dari rumah Nadia.


Nadia mengangguk pelan dengan senyum yang merekah, tatapannya yang sedikit malu untuk menatap manik hitam di depannya. Arshaka menarik dagu Nadia perlahan belum sempat bibir itu saling menyatu rengekan tangis putranya, Fafa menggagalkan hasratnya untuk menyentuh bibir Nadia yang menurutnya semanis madu. Keduanya pun tertawa jenaka menyadari tingkahnya yang tak ubahnya bak remaja yang sedang jatuh cinta atau puber kedua.

__ADS_1


"Cepat temui Fafa! I love you," Arshaka mengecup kening Nadia cepat. Dan berlalu setelah Nadia melambaikan tangannya dan mengucapkan pesan ke padanya.


"Hati-hati mas!" pesannya yang mendapatkan balasan lewat sorot matanya.


Nadia menutup pintunya dan segera menyusul Fafa yang sudah rewel untuk minta segera di gendong.


"Sayangnya, bunda kok bangun ayo Fafa bobo lagi, Nak." bujuk Nadia menepuk-nepuk bokong Fafa agar kembali tidur.


Saat Nadia kembali menidurkan Fafa, ia teringat akan sesuatu. Mainan anak yang baru di belinya di mall bersama bunda Maya. Sebuah mobil Jeep jungkir-balik dan lego warna-warni ia mencoba meraih kantong belanjanya yang masih tergeletak di atas meja dapur. Satu persatu Nadia mencari kantong berisi mainan tapi semuanya tidak ada hanya ada dua kantong belanja berisi 4 kaleng susu untuk Fafa. dua kantong buah, sayur dan daging ikan salmon fillet.


"Lho ko' nggak ada. Kemana aku menaruh mainan untuk Fafa? Apa aku lupa menaruhnya atau jangan-jangan ketinggian di rumah bunda Maya," pikir Nadia sambil menata barang yang di belinya bersama bunda Maya.


"Assalamu'alaikum," ucap Tantri.


"Waalaikumsalam," jawao Nadia dari dalam mempercepat langkah kakinya membuka pintu depan.


Tantri mencium punggung tangan kakaknya dengan takzim yang ia anggap sebagai pengganti orangtua nya yang telah tiada.


"Tumben sampai malam, Tantri?" tanya Nadia memutar kunci pintu setelah Tantri masuk ke dalam.


"Iya nih mba ada tambahan lembur," jawab Tantri lesu karena lelah di tubuhnya dan perutnya yang lapar.

__ADS_1


Sebelum pergi makan Nadia membersihkan diri mandi, lalu makan sebelum akhirnya istirahat memanjakan tubuhnya di kasur empuknya.


__ADS_2