
“Shaka, ini adalah data pasien bernama Afrida yang akan menjalani operasi cangkok jantung. Lakukan operasi setelah dia menepati janjinya untuk mengatakan siapa yang menyuruhnya melakukan penembakan itu.“ terang Firman memberi kejelasan pada masalah kriminal yang sedang dalam proses.
“Jadi pasien ini adalah istri dari pelaku itu?“ tanya Arshaka membaca data pasien.
“Benar, jadi dia melakukan itu semua atas dorongan seseorang yang memperdayanya dengan menggunakan sisi kelemahannya.“ tutur Firman menyayangkan tindakan bodoh pelaku tersebut.
“Tega sekali dia, Ayah.“ ucap Shaka sedih kedua matanya mulai berkaca-kaca.
“Ayah dan om mu akan ke kembali kantor polisi. Yakinlah semua akan baik-baik saja,“ ujar Firman bangkit dari kursinya seraya menepuk bahu putranya menguatkan.
Nadia mengantar suaminya sampai di depan mobil setelah mobil ayah mertuanya lebih dulu keluar meninggalkan halaman.
“Sayang, mas berangkat dulu, hati-hati di rumah! Jika butuh sesuatu panggil bunda atau mba Titin.“ pesan suaminya seraya mengelus perut istrinya lembut sebagai tanda pamitnya kepada yang calon bayinya setiap kali ingin berangkat kerja.“
“Iya. Mas juga hati-hati, sudah sana berangkat nanti telat!“ suaminya masuk kedalam mobil setelah mengecup kening istrinya.
“Nadia! tadi bunda buat puding susu jika sudah dingin kamu coba ya!“ pinta bunda Maya mengajak menantunya duduk di meja makan.
Nadia tersenyum menghirup aroma sedap antara susu dan buah yang menguar dari puding di itu.
“Sepertinya rasanya sangat enak bunda, bau susunya juga tidak terlalu terasa hanya aroma mangga dan strawberry yang terasa.“ Nadia memuji hasil masakan ibu mertuanya yang nampak menggoda seleranya.
__ADS_1
“Coba cicipi sedikit saja, mungkin cucu oma suka.“ Nadia menyendok sedikit puding susu aroma buah itu dan memakannya. Suapan pertama Nadia menelannya tanpa ada rasa mual, di suapan ketiga perut Nadia mulai bergejolak rasa mual mulai menyerang perutnya.
Nadia menutup mulutnya lari ke kamar mandi dapur, Bunda Maya beranjak mengikuti langkah Nadia.
“Sayang kamu mual, Nak!“ Angguk Nadia mengeluarkan isi perutnya. Bunda memijit tengkuk menantunya dan mengolesinya dengan minyak dengan aroma terapi.
“Nadia pusing sekali bunda,“ keluh Nadia merasakan pusing di kepalanya.
“Ya sudah kamu istirahat saja di kamar. Maafin Oma sayang ternyata cucu oma tidak suka puding,“ bunda mengusap-usap perut Nadia dan memapah tubuhnya.
“Nadia tidak apa-apa bunda, mual di awal kehamilan bukankah itu wajar dulu saat hamil Fafa pun seperti ini.“ tuturnya berjalan menuju kamar.
Nadia berbaring diatas ranjang setelah menyesap teh jahe buatan Tantri sebelum dia pamit kerja sebelum pukul enam pagi tadi. Adiknya berangkat lebih awal karena lupa membawa seragam kerjanya saat kemarin.
...***...
“Itu adalah kenyataannya. Aku bisa memberikan bukti rekaman percakapanku dengannya dari ponselku, jika suatu saat aku dikhianati. Dan benar dia telah ingkar tidak membawa istriku ke rumah sakit yang ku minta.
Akhirnya komisaris polisi Bayu Angga, yang menangani proses hukum keluarga Firman meminta mayor Ikhsan mengambil ponsel yang disita oleh pihak kepolisian sebagai bukti hukum.
Firman meminta bukti rekaman percakapan antar pelaku dengan orang yang menyuruhnya dikirim ke ponsel miliknya.
~ Bagaimana? Apa kau sudah siap melepaskan peluru mu?“
__ADS_1
~ Siap bos.
~ Lakukan sesuai perintahku. arahkan pistol mu pada pengantin wanita.
“Aku tidak menyangka jika otak dari rencana pembunuhan itu adalah orangtua Andrea, Bagaimana caraku mengatakan semua ini pada Arshaka?“ ucap Firman melepaskan kacamata, yang membingkai kedua matanya yang berkaca-kaca mengusap sudut matanya yang basah.
“Katakan saja yang sebenarnya mas pada putramu Shaka, karena dia berhak tahu. Dan hubungi dia untuk segera melakukan tindakan oprasi pencangkokan jantung.“ saran Baskoro pada Firman. Ia pun segera meraih ponselnya menekan kontak nama Arshaka.
“... “
“Baik Ayah Shaka akan melakukan yang terbaik. Tolong bantu Shaka dengan do'a.
“... “
Arshaka segera menutup sambungan telepon dari ayahnya dan bersiap melakukan titahnya. Sebelum melakukan tindakan operasi ia menghubungi istrinya meminta do'a untuk keberhasilannya.
“Dokter ini adalah hasil laporan pemeriksaan pasien dari ruang anggrek dan Mawar.“ ucap seorang suster membawa data pasien dan meletakkannya di meja kerja atasannya.
“Baik, letakkan saja di meja. Suster ikut saya ke ruang bedah dan cari satu suster pendamping.“
“Baik dokter,“ ucap suster itu keluar dari ruangan Arshaka.
🍀🍀🍀 Bersambung____
__ADS_1
Yang sudah mengikuti dan memberi like karya amatir Ku Terima kasih 🙏🙏🙏
Jangan lupa jejaknya!