Cinta Tianda Ganti (Ketika Cinta Datang Dan Pergi)

Cinta Tianda Ganti (Ketika Cinta Datang Dan Pergi)
Kita Harus Bicara


__ADS_3

Tania mengetuk pintu memanggil Andrea yang masih berada di dalam kamar, dan Sri membukakan pintu kamar memberitahu pada Tania jika Andrea masih mandi. Tania melihat dress motif bunga dengan renda putih dengan motif yang sama, dress dengan warna dan model yang Arshaka sukai dan selalu memuji putri cantiknya.


"Sri, Apa Andrea sendiri yang memilih dressnya untuk ia pakai?" tanya Tania pada asistennya.


"Benar nyonya, Nona sendiri yang memilihnya." jawab Sri.


"Ya sudah katakan saja pada Andrea jika kami sudah menunggu di bawah." pesan Tania sebelum keluar dari kamar putrinya.


Andrea menyelesaikan mandinya yang di bantu Sri mendorong kursi rodanya keluar dan mengganti pakaian yang telah ia siapkan di tepi ranjang. Sri membantu mengaplikasikan sedikit riasan di wajahnya agar tidak terlalu terlihat pucat dan lipstik dengan warna merah cerah.


"Sri, Apa aku masih terlihat cantik meski kondisi ku seperti ini?" tanya Andrea dengan wajah murungnya.


"Bagi kami semua Non Andrea masih yang paling cantik, Karena yang cantik itu bukan yang nampak di mata saja tapi hati ini Non." jawab Sri meletakkan tangannya di dada Andrea.


"Kamu itu paling bisa menghiburku Sri, Apa kamu tidak lihat penampilan burukku sekarang bahkan lebih menakutkan dari makhluk astral," ujarnya sambil merapihkan ciput di kepalanya.


"Non Andrea ko malah bicara seperti itu. Non harus punya semangat tinggi untuk sembuh Non tidak boleh putus asa. Karena Allah sangat membenci umatnya yang putus asa." tutur Sri menasehati putri majikannya dengan kata-kata bijaknya.


"Tolong ambilkan ponselku, Sri mungkin pengisian dayanya sudah full," pinta Andrea.


Sri mencabut ponsel Andrea dari kabel pengisian daya, dan memberikannya. Andrea kembali menghubungi nomor kontak Arshaka setelah terdengar nada dering sudah tersambung namun Arshaka tak kunjung menjawab panggilan telponnya.


lama Andrea menunggu jawaban telpon dari kekasihnya akhirnya Andrea memutuskan untuk turun ke bawah karena semua telah menunggunya untuk melupakannya Andrea menggeser layar ponselnya dengan wajah kecewa dan berpikir jika Arshaka benar-benar sudah melupakannya dan menutup ponsenlnya.


"Non sebaiknya makan siang dulu lalu minum obat. Tadi nyonya datang ke sini memanggil Non." terang Sri sambil mendorong kursi roda keluar menuruni anak tangga dengan hati-hati.


Melihat Sri sedikit kesulitan Lita naik ke atas membantu Sri menuruni kursi roda menuju ruang makan.


"Terima kasih Bu Lita, sudah merepotkan," ucap Andrea tak enak hati.

__ADS_1


"Sama sekali tidak, Non juga sama seperti putri ibu yang harus ibu jaga juga." Andrea tersenyum bahagia karena di kelilingi orang-orang baik yang tulus menjaga dan merawatnya.


Andrea menikmati menu makan siangnya yang di masak khusus untuknya. Semua hidangan yang di sajikan adalah makanan kesukaan Andrea agar suasana hatinya terlihat bahagia dan semangat untuknya sembuh pun tinggi. Karena keinginan hatinya untuk bertemu dokter tampan dan sukses diusianya yang masih muda sangatlah besar.


***


Arshaka baru saja keluar dari kamarnya setelah mengganti pakaiannya dengan yang lebih santai. Bunda menatap heran pada wajah putranya yang tiba-tiba berubah lebih dingin dan datar dari biasanya. Bunda Maya mencoba mendekati putranya yang kini duduk di sofa denga remot tivi di tangannya.


"Shaka!" panggil bunda dengan suara lembutnya.


Shaka menoleh melirik bundanya yang kini duduk di sampingnya.


"Bunda!" ucanya lirih.


"Ada masalah, Nak di rumah sakit semalam?" tanya bunda. Arshaka menggelengkan kepalanya pelan deraya meletakkan remot di atas meja.


"Bunda, Bagaimana menurut bunda jika seseorang yang kita sayangi tiba-tiba pergi lalu kembali lagi?" tanya Arshaka penuh teka-teki. Bunda menata netra putranya dengan lekat.


"Sahaka benar-benar jatuh cinta bunda, meski ini bukanlah yang pertama Shaka mencintai seorang wanita. Dulu Shaka memang sangat mencintai Andrea. Dan lebih dari satu tahun Shaka menunggu kabar darinya, tapi tidak ada satu pun pesan atau kabar yang Shaka dapatkan." kata Arshaka mencoba memberi kejelasan masalahnya yang sebenarnya.


"Lakukanlah sesuai dengan kata hatimu Shaka, Terkadang hati dan lisan tidak sejalan lain di bibir lain pula di hati. Meski bibir berkata sayang dan cinta tapi tidak pada hati karena hati itu telah terisi dengan yang lain. Kau tahu Shaka hati seseorang mudah sekali berubah." tutur bunda mengusap lembut bahu putranya.


"Maaf, Den Shaka hape den Shaka bunyi terus sejak tadi." ucap asisten rumah bunda Maya.


"Terima kasih!" balas Shaka datar.


Shaka berdiri dari duduknya melangkahkan kaki menuju kamar atas menapaki anak tangga. Diraihnya ponsel yang sejak tadi meronta-ronta dengan cepat Arshaka menggeser layar pintarnya tertera nama Andrea. Untuk yang kesekian kali ia melihat dengan jelas nama Andrea di layar panggilan tak terjawabnya. Dengan rasa penasaran Arshaka melakukan panggilan balik pada nomor kontak tersebut.


Andrea melengkungkan bibirnya membentuk senyuman bagai bulan sabit. Kedua matanya berbinar setelah melihat kontak nama Kekasihku memanggil rasa bahagia yag tak bisa Andrea ungkapkan dengan kata. Secepatnya Andrea menggeser ikon warna hijau menjawab telpon dari pria yang selama tiga tahun telah membuatnya jatuh cinta dan sulit untuk melupakan kenangan bersamanya.

__ADS_1


~ Hallo Andrea. Kau dengar aku...


Andrea masih merasa sulit untuk berkata, hanya senyum haru yang membuat bibirnya kaku lidahnya menjadi kelu hingga terasa sulit untuk berucap hallo saja. Suara tegas dengan wajah dingin yang selalu membuatnya rindu.


~ Hal_ Hall_O...Shaka_


~ Andrea benarkah ini Kau?


Senyum Andrea dengan matanya yang basah mendengar suara Arshaka.


~ Aku sangat merindukan mu Shaka.


Seperti sebuah benda tajam yang menusuk hati Arshaka yang begitu menohok mendengar langsung isi hati Andrea yang sebenarnya.


~ Kita harus bicara Andrea. Aku akan menjemput mu.


Dengan nada penuh atusias Andrea mengakhiri panggilan telpon Arshaka, meminta sri membantu dirinya bersiap merias diri sebelum bertemu dengan pria pujaan hatinya.


SRI.....'' seru Andrea dengan senyum yang tak luntur di wajahnya.


Sedangkan Arshaka sendiri harus menyiapkan kata untuknya mengatakan yang sebenarnya. Jika hati dan perasaan cintanya sudah terisi oleh satu nama Nadia Chamelia.


**


Di lain sisi Nadia memberanikan diri untuk datang ke rumah mertuanya tepatnya mantan mertuanya, Mama Dita. Setelah Nadia pulang dari pasar belanja keperluan acara ngaji tahlilan, Nadia meminta adiknya Tantri untuk memasak dan menyiapakan segala sesuatunya untuk malam nanti selepas solat maghrib.


"Tantri mba mau ke rumah mama Dita, mba kangen sekali dengan Fafa. Kau siapkan saja jamuan malam nanti! Mba nggak akan lama hanya ingin mengajak pulang Fafa ke rumah."


"Mba hati-hati ya! Tenang saja urusan dapur pasti beres!'' seru Tantri menunjukkan jarinya yang membentuk huruf O.

__ADS_1


"Terima kasih Tantri kau memang adik mba yang paling pengertian." ucap Nadia memeluk Tantri. Nadia berjalan menuju mulut gang menunggu ojek online yang telah di pesannya sejak sepuluh menit yang lalu.


__ADS_2