Cinta Tianda Ganti (Ketika Cinta Datang Dan Pergi)

Cinta Tianda Ganti (Ketika Cinta Datang Dan Pergi)
Mengobati Luka Hati Andrea Dengan Cintanya Dokter Ibra!


__ADS_3

Hampir pukul 11 malam Nadia tidak bisa tidur karena suaminya belum juga pulang. Berkali-kali Nadia bangun dan duduk bersandar? di sandaran ranjang melirik ponselnya tidak ada pesan ataupun telpon dari suaminya sejak terakhir Arshaka menelponnya pukul 10 pagi tadi.


Ia pun kembali merebahkan tubuhnya mencoba memejamkan kedua matanya, namun sulit sekali baginya untuk tidur sedangkan dirinya begitu sangat resah dan khawatir.


“Kenapa sampai lewat tengah malam Mas Shaka belum juga pulang? Nadia melirik jam di ponselnya sudah menujukkan pukul satu dini hari ini.


Membuka sedikit tirai jendela kamar Nadia melihat ke arah halaman masih belum terlihat mobil suaminya hanya ada mobil milik ayah mertuanya saja.


Nadia kembali duduk di tepi ranjang lambat laun, ia pun tertidur bersandar di sandaran ranjang.


Arshaka tiba di rumah pukul satu tiga puluh menit, dilihatnya istrinya tidur dengan posisi tidak nyaman.


“Kau pasti tidak bisa tidur karena lelah menunggu ku. Maaf sayang sudah membuat mu terlalu lama menunggu.“ ucap suaminya lirih tersenyum tipis. Ia terlebih dulu membersihkan diri sebelum bergabung tidur di samping istrinya.


Nadia merasakan ada sesuatu yang basah di pipi, serta bibirnya Nadia mengerjapkan kedua matanya dilihatnya wajah tampan suaminya yang seharian ini membuatnya rindu.


“Mas kamu baru pulang?“ tanya Nadia melirik jam dinding yang menggantung di dinding kamarnya, hampir pukul dua pagi.


“Iya, sayang di rumah sakit ada dua kali operasi pembedahan dan kasusnya cukup sulit karena riwayat penyakit pasien. Maaf mas tidak sempat memberi kabar.“ Angguk Nadia memeluk tubuh suaminya ia merindukan sentuhan tangan suaminya untuk membuatnya kembali tidur nyenyak.


“Mas Shaka sudah makan? Mau aku panasin makan mas?“ tanya Nadia, suaminya menggeleng seraya merebahkan tubuh istrinya.


“Mas sudah makan sebelum pulang tadi bersama teman dokter lainnya. Kita tidur ya, sayang istirahat!“ ucap Arshaka memeluk Nadia serta mencium kening dan bibirnya sekali lagi, mengusap lembut perut istrinya yang sedikit terlihat menonjol.


...***...


Pagi hari di kediaman rumah siregar dikejutkan oleh kedatangan dua polisi yang mencari tuan rumah mereka Adri Inez Siregar.


“Selamat pagi kami dari pihak kepolisian ingin mencari saudara bernama Adri Inez Siregar. Bisa panggilkan sebentar untuk menghadap kami?“ perintah mereka pada asisten rumah tangga keluarga Siregar.

__ADS_1


“I_Iya saya panggilkan sebentar, Pak.“ ucap Sri terbata lari kedalam rumah memanggil tuan rumah.


“Maaf Pak Adri, diluar ada polisi mencari bapak.“ ucap Sri pada majikannya.


“Apa polisi!?“ kejutan Tania menghentikan aktivitas makan paginya bersama suaminya.


“Suruh mereka menunggu. Aku akan menemuinya.“ ujar Adri datar tanpa ada ekspresi di wajahnya.


“Papa kenapa ada polisi datang ke rumah kita? Apa yang terjadi, Pah?“ Adri tidak bisa menjawab pertanyaan istrinya. Ia hanya melirik Tania dengan tatapan sendu juga sedih karena akan ada tangis di wajahnya.


Tania megikuti langkah suaminya sampai di pintu depan menemui pihak kepolisian.


“Selamat pagi bapak Adri!“


“Pagi!“ jawab Adri membalas teguran mereka.


“Apa?“ Sekali lagi Tania sangat terkejut mendengar ucapan salah satu petugas kepolisian.


’’Maaf bu Adri kami harus membawa suami ibu ke kantor polisi, untuk mempermudah proses hukum kami atas kertelibatan bapak Adri terkait penembakan pada salah satu keluarga bapak Bimantara.“ papar pihak kepolisian memberi penjelasan.


"Apa!? Apa yang sudah papa lakukan. Kenapa papa tega melakukannya?“ teriak Tania menangis, menarik-narik lengan jas suaminya.


“Mari Saudara Adri ikut kami!“ Perintah bapak polisi memborgol kedua tangan Adri. Tania hanya menangis pasrah melihat suaminya di bawa ke mobil polisi.


“Maafkan papa, Mah. Mama jaga diri baik-baik. Papa titip Andrea jaga putri kita.“ pesan Adri sebelum mengayunkan langkah kakinya menuju mobil patroli.


“PAPA.....!!“ teriak Tania menangis.


🍁🍁🍁

__ADS_1


“Aww...!“ pekik Andrea menekan jari tengahnya yang teriris pisau dapur.


“Andrea kau kenapa?“ Ibra meletakkan cangkir tehnya menghampiri Andrea.


“Aku tidak apa-apa Ibra hanya luka kecil.“ jawab Andrea menyembunyikan lukanya. Ibra segera menarik jari tangan Andrea lalu menghisap darah yang mengalir dari jarinya.


“Jangan, Ibra!“ tolak Andrea, tapi dokter yang sudah menaruh hati padanya sejak awal pertemuan mereka di Ambarawa memaksa untuk meraih jarinya yang terluka.


“Apanya yang tidak apa-apa! Kau lihat darah yang keluar cukup banyak Andrea.“ gadis itu bergeming merasakan luka di jarinya yang berdenyut saat ibra menyesap darah di jarinya.


“Aku ini seorang dokter, Ibra. Aku bisa mengobati lukaku sendiri.“ Ada yang salah dari ucapan Andrea sehingga ia terdiam sejenak setelah menelaah kata-katanya sendiri. Begitu juga dengan hatinya yang tiba-tiba mencelos bersamaan, yang sedang berusaha mengobati luka hatinya dengan caranya sendiri.


“Oh, ya! Kenapa? Apa kau tersentil oleh ucapanmu sendiri dokter Andrea?“ Andrea hanya melirikkan sorotan matanya menatap Ibra yang seolah menyindirnya.


“Aku pun seorang dokter. Tapi hingga saat ini aku belum bisa mengobati lukamu yang sesungguhnya.“ tutur Ibra menutup jari Andrea yang terluka dengan perban.


“ini tidak ada hubungannya dengan dokter Arshaka.“ ucap Andrea menarik tangannya dari genggaman tangan Ibra.


“Andea! Tunggu!“ Ibra menghentikan langkah Andrea meraih telapak tangannya. “Menikahlah dengan Ku, Andrea. Aku akan mencintai mu lebih dari yang kau mau!“ Andrea bergeming menatap hazel pria yang baru saja membuat detakan di hatinya yang tak karuan. Menyiratkan segala perasaan cinta untuknya.


Perlahan Ibra menangkup wajah cantik gadis dihadapannya, yang mampu membangkitkan kobaran api cinta yang sejak lama ia nantikan.


“Aku___“ Andrea tidak mampu melanjutkan kata-katanya, dikala benda kenyal itu berpaut sempurna membungkam bibir Andrea.


Deburan suara ombak yang bergulung indah seakan menjadi momen romantis, sebagai awal penyataan cinta Ibra pada gadis yang hampir membuatnya setengah gila.


Dalam sadar Andrea membalas ciuman Ibra, Pria yang berprofesi sebagai dokter ortopedi itu tersenyum senang. Dan memperdalam lumatannya saling bertukar saliva merasa cintanya telah terbalaskan.


Deringan ponsel Andrea mengejutkan keduanya yang tengah hanyut dalam perasaan masing-masing, di sela nafasnya yang terengah hampir kehabisan oksigen.

__ADS_1


__ADS_2