Cinta Tianda Ganti (Ketika Cinta Datang Dan Pergi)

Cinta Tianda Ganti (Ketika Cinta Datang Dan Pergi)
Rasa Cinta Yang Terasa Begitu Menyiksa


__ADS_3

Arshaka segera menutup telpon dari Tantri ia segera meraih kunci mobil dan meraih jasnya yang tersampir di kursinya. Tidak perduli pada tugasnya yang belum usai Arshaka lebih memilih wanita masa depannya dari pada harus kehilangan cintanya lagi.


"Dokter Shaka, sore nanti Anda masih ada jadwal pertemuan dengan Profesor Arya Tama." pesan Ayana selaku manager penyelenggara.


"Pertemuan saya tunda sampai lusa," jawab Arshaka tanpa lagi menoleh. Ia masuk kedalam mobil menyalakan mesin dan memutar kemudinya dengan cepat hingga menimbulkan decitan gesekan antara ban dan aspal.


"Ada apa dengan dokter Shaka?" tanya salah satu tim penyelenggaraan.


"Mungkin ada sesuatu yang penting hingga membuatnya tidak tenang." ujar dokter Alfian sahabat Arshaka yang ikut satu tim dalam seminar.


Menginjak pedal gas lebih dalam memacu laju diatas kecepatan rata-rata. Wajah tegang dan panik tidak dapat di pungkiri memikirkan dimana keberadaan Nadia setelah mendengar kabar langsung dari calon adik iparnya. Mobil Arshaka menyalip tanpa perduli ada truk juga kendaraan besar lainnya yang melaju di depannya. Caranya mengendalikan mobil sebagai penakluk jalanan tidak ubahnya bagai singa jalanan yang bersaing dengan pengendara lain.


Selepas maghrib Arshaka sampai di rumah Nadia, mendengar deru mobil berhenti di depan rumah. Tantri segera keluar menuju pintu depan mendapati kedatangan calon kakak iparnya, Arshaka yang ia kira kakaknya Nadia.


"Maafkan Tantri Mas tidak bisa menjaga mba Nadia dan Fafa. Sepertinya telah terjadi sesuatu mas lihat lah ponsel mba Nadia hancur." ujar Tantri menyesali. Arshaka mendongakkan pandangannya meraih ponsel Nadia yang telah hancur.


"Tantri, bagaimana bisa kau tidak tahu dimana Nadia? Kau selalu bersamanya bukan, lalu kenapa kau tidak tahu dimana Nadia berada?" cecar Arshaka marah ia sendiri tidak tahu harus marah pada siapa? Dan harus menyalahkan siapa? Yang ia rasakan saat ini ia begitu sangat membenci dirinya karena merasa gagal menjaga Nadia calon istrinya.


"Aaaggghhhh!"


Teriak Arshaka menyesali keadaan yang telah membuatnya kehilangan Nadia. Mengepalkan tangannya menggenggam erat ponsel Nadia yang telah hancur.


"NADIA....." Arshaka melayangkan tinju pada dinding ruangan hingga buku-buku jarinya terluka dan berdarah.


Tantri sangat ketakutan melihat perubahan Arshaka yang berbanding terbalik dari sikap lembutnya yang biasa ia lihat setiap harinya, tiba-tiba berubah menjadi sosok yang sangat mengerikan ketika sedang dalam kedaan marah.


Di sisi lain Permadi dan mamanya juga tengah khwatir mencari Nadia dan putranya Fafa.

__ADS_1


"Permadi mama mohon temukan Nadia dan cucu mama Fafa," pinta mama Dita menangis. Pandangannya fokus menatap ke sisi kanan dan kiri jalan mengamati setiap sudut jalanan yang mungkin dapat menemukan keberadaan mereka.


"Nadia Fafa dimana kamu, sayang? Oma sangat cemas," racau mama Dita yang tidak hentinya berdo'a berharap Nadia dan cucunya segera di temukan.


🍁🍁🍁


"Nadia, kau bisa tinggal di sini bersama putra mu selama kau mau. Aku akan kembali ke Batam lusa, ini adalah rumah sekaligus harta peninggalan nenek satu-satunya yang masih tersisa sebagai kenang-kenangan ku bersamanya." ucap Aldo menerawang ke langit-langit rumah mengingat kenangan bersama nenek Alea dan dirinya.


"Batam?" tanya Nadia mengulang.


"Ya aku harus ke Batam. Aku memiliki perusahaan tas dan sepatu di sana yang harus ku handle."


"Terima kasih Aldo kau telah menolongku."


"Sudah berapa kali kau mengatakan itu, Nadia. Sebaiknya kau istirahat dan ajak putramu tidur seperti dia sudah mengatuk.'' saran Aldo melihat Fafa yang menguap sejak tadi.


Sementara Aldo berada di ruangan khusus berkutat dengan laptopnya membalas email perusahaan dan juga kliennya. Membuka laporan bulanan perusahaan yang baru dikirim oleh sekertaris pribadinya.


Mencium aroma masakan yang sedap membuat Aldo penasaran. Siapa gerangan yang telah memasak di rumahnya, sedangkan ia sendiri tidak pernah ke dapur meski untuk memasak mie instan sekali pun. Aldo menutup layar laptopnya dan mengakhiri pekerjaannya dan melanjutkan kembali setelah memastikan siapa yang membuat perutnya terasa lapar.


Aldo mengirup dalam-dalam aroma masakan yang menguar dari dapur, tenyata Nadia yang tengah berperang dengan wajan dan alat dapur lainya.


"Ternyata selain cantik kau juga pandai memasak," tegur Aldo mengagetkan. Ia pun tertawa melihat ekspresi kaget Nadia yang tersentak karena sapaan Aldo yang tiba-tiba dari arah belakang punggung Nadia.


"Mas Aldo kau membuatku kaget saja," ujar Nadia menoleh sekilas lalu kembali menekuni alat masaknya.


Sebuah masakan sederhana yang menggugah selera nasi goreng telur asin dan acar. Nadia menyiapkan dua piring nasi goreng untuknya dan satu lagi untuk Aldo, dan menuangkan dua gelas air mineral.

__ADS_1


"Silahkan mas Aldo, maaf jika rasanya tidak cocok dengan selera mas Aldo," ucap Nadia merendah.


Aldo tersenyum mengamati sepiring nasi goreng di depannya lalu menyendokkan sedikit nasi ke dalam mulutnya. "Emmm, rasanya enak sekali Nadia," puji Aldo sambil mengunyah nasi kedalam mulutnya.


"Alhamdulillah, kalo mas Aldo suka,"


"Ya. Aku memang sangat suka masakan mu, Nadia." jawab Aldo dengan mulutnya yang sibuk mengunyah.


Mereka pun menyelesaikan makannya dan Nadia kembali membereskan semua bekas peralatan masaknya.


"Biarkan aku saja yang membereskannya Mas. Kau duduk saja," tolak Nadia merasa tidak enak. Karena Aldo adalah tuan rumah yang sudah menolongnya dan memberikan tempat tinggal untuknya dan putranya.


"Tidak, tidak...Nadia aku akan membantu mu karena aku juga ikut menikmati masakan mu yang lezat tadi." Eyelnya yang kekeh akan ucapannya.


Tanpa sengaja tangan Aldo menyentuh tangan Nadia yang sama-sama memegang piring yang akan diraihnya. Nadia segera menarik tangannya yang berada dibawah telapak tangan Aldo.


"Maaf Nadia, maaf jika membuat mu tidak nyaman." ucap Aldo sungkan.


"Emm, ya. Tidak apa-apa mas Aldo." balasnya dengan senyum tipisnya.


Aldo pun kembali ke ruangannya melanjutkan pekerjaannya yang tadi sempat tertunda. Setelah menyelesaikan pekerjaan dapurnya Nadia kembali ke kamarnya dimana Fafa masih tertidur pulas.


Nadia menatap tubuh gembul putranya yang tidur dengan botol susu di tangannya. Tanpa terasa air matanya luruh begitu saja bayangan dua hari lalu yang membuatnya dalam ketakutan. Sekelebat bayangan Tantri adiknya hadir dalam memori ingatannya.


"Maafkan mba Tantri, belum bisa memberi mu kabar. Kamu pasti sangat mengkhawatirkan kami, mas Arshaka maaf jika aku harus meninggalkan mu dengan cara seperti ini. Semua terasa sangat berat dan sulit tapi aku tidak bisa melakukan apapun demi memperjuangkan cinta dan masa depan kita. Semoga Tuhan dapat mempertemukan kita di kesempatan dan di waktu yang berbeda, semoga kau bahagia dengan cintai pertama mu Andrea." Nadia mengusap buliran bening di kedua pipinya. Cinta yang begitu t


sangat menyiksa, rasa rindu pada pria yang telah membuat membuatnya jatuh cinta. Semua terasa sesak dan membuncah yang memenuhi dadanya.

__ADS_1


__ADS_2