
Hari demi hari telah berlalu waktu terus berjalan hari berganti minggu. Minggu berganti bulan dan bulan pun berganti tahun. Seiring berlalunya waktu yang telah terlewati Arshaka masih tetap sama bersikap lebih dingin dan cuek meski Andrea selalu datang menemuinya.
Selama dua tahun Andrea menjalani pengobatan di negri sakura Jepang dan Andrea berhasil dinyatakan sembuh secara total, Andrea lebih semangat dan antusias menjalani pengobatan sehingga masa penyembuhan nya berjalan lebih cepat. Terlebih Andrea tahu jika ayahnya berhasil membuat Nadia pergi jauh dari kehidupan Arshaka, dan Andrea ingin kembali merajut cintanya yang sempat ia tinggalkan begitu saja tanpa memberi kejelasan pada hubungannya.
"Shaka hari aku ingin ikut bersamamu menjadi relawan di Ambarawa. Dan aku dengar tempat itu masih ada desa terpencil dan butuh tenaga medis, aku juga sudah mendapatkan surat izin dari dinas kementerian sosial dan kesehatan." tutur Andrea yang tidak mendapat respon dari pria pujaanya.
"Terserah!" balasnya singkat.
Andrea sangat kecewa akan jawaban Arshaka yang sangat dingin terhadapnya. Namun Andrea tetap tidak menyerah untuk terus mendekati Arshaka agar tetap bisa selalu bersamanya.
Sementara Arshaka berlalu menuju ruangan yang telah di jadwalkan sebelumnya. Memeriksa kondisi pasien setelah menjalani operasi bedah, namun langkahnya di kejutkan oleh sahabatnya dokter Alfian rekan kerjanya yang juga dokter bedah sama seperti dirinya.
"Dokter Shaka, Apa benar jika besok kau akan pergi menjadi relawan yang di kirim ke Ambarawa?" tanya dokter Alfian.
"Ya," jawab Shaka yang cukup membuat orang yang bertanya padanya kecewa.
"Itu artinya dokter Andrea juga akan ikut bersamamu?" tanya dokter Alfian lagi, kini pertanyaannya lebih sedikit pribadi dan itu membuat Arshaka sangat tidak nyaman. Sahabatnya menoleh ke arahnya dengan tatapannya yang tajam, dan itu membuat dokter Alfian sedikit takut dan khawatir jika sahabatnya akan marah.
"Entalah, aku tidak tahu," jawabnya dan berlalu di balik dinding koridor.
"Kau masih saja tetap sama seperti dulu, Shaka. Sangat dingin dan kau lebih tidak perduli pada sekitar mu.
***
__ADS_1
Arshaka tiba di apartemen pukul 8 malam setelah mandi dan makan malam mengisi perutnya yang terasa lapar, setelah melakukan operasi kecil pada pasien kecelakaan. Lalu ia menyiapkan koper menata pakaian yang akan di bawanya kurang lebih dua minggu lamanya, seperti biasa sebelum pergi tugas Arshaka selalu datang ke rumah orangtuanya untuk berpamitan.
Entah mengapa ia ingin sekali menginap di rumah bundanya, setelah semua keperluan yang ia butuhkan telah siap ia menyeret kopernya dan meraih kunci mobilnya.
Pak Sobri segera membukakan pintu pagar besi memarkirkan mobilnya ke garasi. Ia pun masuk ke dalam rumah mendapati ayah dan bundanya masih duduk bersantai di ruang keluarga, Firman menoleh melirik sekilas menegur kedatangan putranya.
"Shaka jadi ke Ambarawa?" tanya Firman melihat koper ada di tangan kirinya.
"Assalamualaikum, Ayah, bunda! Shaka jadi berangkat ke Ambarawa besok pagi, Yah.
"Wa'alaikumussalam, Shaka. Duduklah dulu sayang bunda kangen ingin ngobrol." bujuk bundanya menepuk sofa di sampinnya duduk.
"Bunda kangen sama Shaka atau bunda mau mengatakan sesuatu?" tanya Shaka yang sepertinya sudah tahu akan maksud bundanya memintanya duduk.
"Memangnya bunda mau ngomong apa lagi sih? Kalo cuma mau bahas masalah Andrea Shaka nggak minat, Nda mau istirahat saja di kamar." ucap Arshaka finish tidak ingin lagi mau membicarakan masalah pernikahannya dengan Andrea.
"Shaka! setidaknya dengarkan dulu apa yang ingin bundamu sampaikan. Ayah minta sedikit saja kamu jaga perasaan bunda mu!" perintah Firman dengan sedikit nada penekanan. Arshaka pun menuruti apa yang ayahnya minta dan kembali mendengarkan apa yang bundanya katakan.
"Shaka bunda mohon menikahlah dengan Andrea, Nak. Andrea anak yang baik dia sangat mencintai mu sayang dia juga sangat perhatian denganmu, meski sikapmu sangat dingin terhadapnya tapi Andrea masih sabar menghadapi mu."
"Shaka akan memikirkannya bunda, kita akan membahasnya lagi nanti setelah Shaka kembali dari Ambarawa." ucap Arshaka sopan lalu beranjak menarik kopernya ke lantai atas menuju kamarnya.
Firman dan istri saling melempar pandang menatap punggung putranya yang selama dua tahun terakhir ini tanpa semangat sejak hilangnya Nadia dari hidupnya.
__ADS_1
"Sepertinya Shaka masih belum bisa melupakan Nadia, Yah." ujar bunda sedih.
"Iya bunda putra kita memang benar-benar sangat mencintai janda anak satu itu. Kira-kira Shaka sudah tahu belum ya, Yah kalo kita sudah tahu tentang setatus Nadia yang masih Shaka sembunyikan dari kita?" tanya bunda pada suaminya.
"Sepertinya belum, Nda. Ya kita doa'kan saja semoga Shaka segera di pertemukan dengan jodohnya."
**
Paginya Shaka telah siap berangkat menuju Ambarawa setelah mengisi amunisi pagi dan pamit pada orangtuanya dan semua penghuni rumah Shaka menarik kopernya dan menaruhnya kedalam bagasi mobil. Saat akan masuk kedalam mobil tiba-tiba mobil Adri papah Andrea masuk ke halaman rumah, dan itu membuat semua yang melihatnya heran.
"Om Adri!" sapa Shaka seraya menutup pintu mobilnya.
Shaka om minta kamu berangkat bareng dengan Andrea, karena om tidak mengijinkan putri om berangkat sendiri om khwatir. Jadi om titip Andrea tolong jaga dia, Andrea! Shaka pasti menjaga mu dengan baik. Papa pamit ya!" ucap Adri mencium kening putrinya dan masuk ke mobil segera meninggalkan rumah kediaman orangtua Arshaka.
Arshaka dan Andrea masuk ke dalam mobil saling diam, mobil pun keluar bergerak perlahan. Tak ada obrolan yang lebih penting diantara keduanya, Andrea hanya melirik sekilas ke arah Arshaka lalu kembali menatap jalanan di depannya. Sesekali ia menatap ke arah luar jendela Arshaka hanya menjawab ya atau tidak jika Andrea bertanya.
Merasa tidak tahan dengan sikap Arshaka yang sangat dingin dan kaku Andrea memberanikan diri memeluk tubuh Arshaka.
"Shaka sedikit saja kau lihat diriku. Apa kau benar-benar sudah melupakan kenangan manis kita dulu? Shaka tatap lah mataku apa kau tidak melihat masih tersimpan cinta untuk mu," ucap Andrea memaksakan diri meminta Arshaka kembali merajut cinta bersamanya.
"Sadarlah Andrea kau tidak bisa terus memaksa ku untuk kembali mencintai mu seperti dulu. Semenjak perginya diri mu tanpa ada kabar aku berpikir kau telah sengaja meninggalkan ku. Dan saat itulah aku telah menemukan cinta yang sudah membuat gila aku sangat mencintai Nadia, berhentilah memaksa ku untuk kembali seperti dulu Andrea! Aku tidak bisa dan itu hanya akan membuatmu semakin kecewa." Andrea hanya bisa menahan rasa sakit hatinya karena ucapan Arshaka yang membuanya lebih dari kecewa bahkan kini hatinya sudah sangat terluka.
Arshaka dan Andrea kembali melanjutkan perjalanannya setelah istirahat di masjid menjalankan ibadah solat zuhur dan makan siang di jam dua di kota Tegal, sebelum akhirnya sampai di kota selatan semarang.
__ADS_1