
Dita dan suaminya menuju rumah sakit setelah Permadi mengantar Kania pulang ke rumah. Fafa masih saja menangis dalam pangkuan Dita. Hampir dua jam Fafa menangis tanpa bisa diam, Dita meminta Permadi mempercepat laju kemudinya agar cepat sampai di rumah sakit. Agar Fafa bisa secepatnya bertemu Nadia, Dita dan Sapto berusaha menenangkan cucunya yang masih menangis.
"Fafa sayang cup, Nak. Sebentar lagi kita akan bertemu bunda Mu," Dita menepuk bokong Fafa agar tertidur. "Permadi masih jauh rumah sakitnya?" tanya mama Dita.
"Sedikit lagi, Mah, tinggal satu belokan lagi.'' Dita pun bernafas lega mendengar jawaban Permadi.
sesampainya di rumah sakit keluarga permadi mencari Nadia dan Tantri, di dalam ruangan Dita melihat jenazah besannya masih dalam pelukan kedua putrinya.
Dita mendekati keduanya menenangkan dua putrinya yang tengah berduka, Nadia memeluk erat tubuh Dita seakan ingin mengaduh dalam pelukan ibu mertuanya tentang semua persaan hatinya.
"Nadia ikhlas kan ibu mu sayang, sekarang ibu mu sudah tidak merasakan sakit lagi, dia sudah tenang di sana." ucap mama Dita mengusap lembut pucuk kepala Nadia juga Tantri.
Ikatan batin antara Fafa dan Nadia begitu kuat hanya dengan melihat dan bertemu Nadia Fafa menjadi lebih tenang dalam gendongan Permadi. Mungkin juga karena telah melihat jenazah neneknya untuk yang terakhir kali.
"Ini terlalu berat, Mah. Nadia telah mengecewakan ibu, tanpa Nadia tahu ibu berjuang menahan sakitnya." tangis Nadia kembali pecah.
"Mama tahu Nadia, ibumu pasti mengerti akan keadaanmu. Tapi kita harus segera urus pemakaman ibu mu, cepat atau lambat pak Nurdin juga harus tau jika ibu mu sudah meninggal." Tuturnya lagi.
Jenazah ibu Laila pun di bawa di kediaman rumah pak Nurdin sementara Permadi mengurus surat administrasi rumah sakit.
Nadia pamit ke toilet sebentar pada Dita ibu mertuanya, yang tengah menidurkan Fafa dalam gendongan nya karena lelah menangis akhirnya Fafa pun tertidur lelap.
Langkah Nadia terhenti saat seseorang menarik lengannya dan membawanya di balik dinding koridor sebagai dinding pembatas ruangan. Dokter Arshaka mendengar semua pembicaraan Permadi dan Nadia termasuk kata talak yang permadi ucapkan padanya. Arshaka memeluk tubuh lemah Nadia memberikan ucapan bela sungkawa tepat di telinganya.
"Aku turut berduka cita atas kepergian ibu mu, Tuhan hanya mengambil sedikit dari kesusahan mu. Kasih sayangnya jauh lebih besar dari rasa sakit yang kamu rasakan." ujar Arsha menangkup wajah Nadia.
"Terima kasih Dokter, tapi maaf sikap dokter bisa menimbulkan salah persepsi di kalangan orang yang setara dengan anda." paparnya tanpa berani menatap wajah Arshaka, tanpa lagi mengikis jarak diantara mereka.
__ADS_1
"Saya tidak perduli saya sudah mendengar semuanya, suami bodoh mu itu telah mentalak dirimu bukan? Dia lebih memilih besi berkaratnya dan membuang logam mulia yang sudah di dapatnya."
Arshaka melonggarkan pelukannya sesaat dan kembali memeluk Nadia.
"Setelah masa iddah mu selesai aku tidak akan membiarkanmu menjadi janda." Nadia terkejut mendengar ucapan Arshaka secara langsung.
Nadia terdiam sejenak mencerna ucapan Arshaka, tanpa membalasnya.
Apa menariknya dari diri seorang Nadia yang baru saja memiliki gelar barunya sebagai janda beberapjam yang lalu.
Arsha melihat permadi di meja resepsionis yang memaksa petugas administrasi untuk mengatakan siapa yang melunasi biaya perawatan ibu mertuanya.
"Suster boleh saya tahu siapa yang melunasi biaya rumah sakit ibu Laila? Dengan nada memaksa.
"Sekali lagi maaf pak saya tidak bisa memberitahukan informasi apapun pada anda. Anda bisa melanggar kode etik dan mencampuri privasi seseorang." tegas seorang petugas
"Kenapa sus, ada masalah apa?" tanya Dokter Arshaka datar.
"Seharusnya Anda dapat menggunakan kepintaran Anda untuk menyikapi masalah ini. Hargailah privasi seseorang!" Tuturnya dan meninggalkan Permadi yang masih dalam kebingungannya.
🌼🌼🌼
Di pemakaman Tantri dan Nadia Masih menemani ayahnya yang masih berduka kehilangan sosok wanita kuat yang hampir 35 tahun menemani perjalanan suka dukanya.
"Bapak kita pulang ya! Sudah sore sebentar lagi mau mahgrib kita do'kan ibu sama-sama." Nadia mengajak ayahnya pulang ke rumah memapah tubuh rentanya yang di bantu Tantri memegangi tangannya.
Di rumah mereka melakukan solat berjama'ah dan mendo'akan ibu Laila.
__ADS_1
Hampir satu minggu Nadia berada di rumah ayahnya sesekali ia juga mengajak Fafa menginap di rumah kakeknya. Tanpa ada kecurigaan sama sekali semua berjalan biasa saja seperti tidak terjadi sesuatu di antara Nadia dan Permadi.
Nadia pun masih sering mengunjungi rumah Mama Dita dan menginap di sana. Dan masih satu kamar dengan Permadi hanya saja mereka tidak tidur satu ranjang. Untuk menghindari kecurigaan orang tua mereka, Dita tidak sengaja mendengar suara ribut-ribut dari dalam kamar Permadi Dita menyunggingkan senyumnya ringan.
"Untung Fafa tidur sama mama klo gak bisa kemanjon denger kalian ribut di ranjang" ujarnya tersenyum seraya menggelengkan kepalanya.
...****************...
" Harusnya kamu yang sadar diri gak mungkin aku khilaf sama kamu, sama sekali gak menarik cuma dengan Kania yang bisa buat hati ku bergetar." Permadi mengolok mengucapkan kata-kata pedas pada Nadia mendorong pundaknya menjauh dari Permadi.
"Benarkah? Apa aku bisa jamin ucapanmu? Lalu tunggu apa lagi sekarang keluar lah! Aku mau mengganti bajuku." perintah Nadia tegas. Permadi pun keluar dari kamarnya atas permintaan Nadia, ia harus mengganti pakaiannya lagi karena Fafa minum susu terlalu banyak dan kekenyangan alhasil Fafa pun muntah di gendongan Nadia.
"Dia pikir secantik apa dirinya itu? Pake bilang kalo aku bakal khilaf liat dia buka baju." gerutunya sambil melihat pintu kamarnya tertutup rapat.
Tingkah anak dan menantunya terkesan menjaga jarak satu sama lain. Dita berfikir mereka ribut masalah sepele, ribut-ribut kecil dalam rumah tangga sebagai bumbu penyedap kemesraan mereka pikirnya.
Semenjak Ibunya meninggal Nadia bekerja di rumah sakit sebagai cleaning service atas permintaan Dokter Arshaka. Satu bulan Nadia bekerja di sana Sesekali Arshaka menjemput dan mengantarkan nya pulang hanya sampai di depan mulut gang. Fafa pun tidak rewel saat Nadia berpamitan pada Fafa jika ia akan berangkat kerja, Dita sangat mendukung keputusan menantunya yang ingin bekerja dengan alasan bosan di rumah.
"Nadia sudah satu bulan kamu bekerja di sini jadi kurang dua bulan lagi masa iddah mu berakhir, dan aku secepatnya akan menikahi mu." Arshaka mengutarakan niat baiknya untuk menikahi Nadia.
Tanpa sepengetahuan mereka ternyata ada seseorang yang mendengar percakapan Arshaka saat mereka makan siang di kantin rumah sakit, dan memberi tahu kan perihal rencana Dokter Arsha pada Dokter Andrea lewat pesan singkatnya.
Dokter Sonya adalah sahabat Dokter Andrea yang sudah hampir satu tahun di Boston menyembunyi kan keberadaannya yang sakit leukemia stadium akhir. Ia berharap dengan ia berobat di Amerika ia akan sembuh dan kembali merajut cintanya dengan Dokter Arshaka.
Mendengar kabar Arshaka akan menikah semangatnya untuk sembuh menjadi kendur, memang bukan salah Arshaka jika dia mencari wanita pengganti dirinya. Karena Andrea tidak menceritakan soal penyakitnya dari awal ia memilih menyembunyikan keadaanya dan pergi ke Boston tanpa memberi tahu Arshaka.
Hampir satu tahun pula Andrea menanyakan kabar Arshaka lewat Sonya. Selama Arsahaka masih sendiri hati Andrea masih tenang. Dan semangat untuk sembuh semakin tinggi, setelah mendengar kabar Arshaka beberapa bulan ini terlihat bersama wanita lain semangatnya kembali mengendur.
__ADS_1
Mungkin Andrea mulai menyerah selama satu tahun ini pengobatannya tidak mengalami kemajuan justru penyakitnya semakin bertambah.