Cinta Tianda Ganti (Ketika Cinta Datang Dan Pergi)

Cinta Tianda Ganti (Ketika Cinta Datang Dan Pergi)
Perasaan Cinta Yang Semakin Membunuh


__ADS_3

Akhirnya Fafa bisa jalan-jalan bersama setelah meminta izin dari ayahnya Nadia, Tantri kini berada di salah satu mall terbesar di jakarta bersama bunda Maya ibu mertuanya.


Nadia mendorong troli berisi belanjaan yang isinya hampir separuhnya milik putranya yang Fafa bebas pilih sendiri. Meski berkali-kali Nadia melarangnya namun oma memanjakan putranya dengan cara omanya menyayanginya.


"Bunda, Fafa lapal mau mam," ucap Fafa menunjukkan perutnya pada bundanya.


"Ya sudah kita cari makan dulu," titah bunda Maya melirik jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 11 siang. Pantas saja jika bocah gembul itu mengeluhkan perutnya yang lapar karena memang sudah waktunya jam makan siang.


Bunda maya mengajak makan siang di food court ala hokben lima porsi nasi putih dengan sapi lada hitam yang di tamburi biji wijen di atasnya sebagai pelengkap topping. Pak Lukman mencari meja lain yang setelah menikmati makan siangnya bisa menyulut batang rokoknya tanpa mengganggu pengunjung lain yang takut terganggu oleh asap rokoknya.


Sepertinya bunda Maya banyak tahu apa yang Fafa sukai dan yang tidak disukainya, terbukti dari menu makanan yang oma pesan untuk putranya. Begitu juga saat oma belanja tadi semua hal berhubungan dengan Fafa bunda tahu.


"Kenapa cuma dilihat Nadia? Ayo makan nanti dingin nggak enak! Atau mau pesan menu lain?" tanya bunda Maya. Nadia hanya melihat makanan tanpa menyentuhnya.


"Ee, tidak bunda ini saja sudah cukup." ujarnya lalu meraih piringnya. Tantri menatap Nadia dengan senyum tipisnya seolah ikut merasakan kebahagiaan yang Nadia dapatkan setelah badai dalam rumah tangganya, Tantri kembali menekuni makanannya. Fafa dengan lahap mengunyah makanan di dalam mulutnya.


"Hati-hati makan nya sayang, Sampai belepotan gitu. Kalo Fafa suka boleh pesan lagi!" bunda Maya mengusap bibir Fafa yang kotor karena bumbu.


"Boleh oma?" antusias Fafa dengan mulutnya yang sibuk mengunyah makanan.


Melihat sikap ibu mertuanya yang begitu baik dan perhatian pada putranya. Nadia seolah melihat sosok ibu kembali hadir dalam hidupnya pun sebaliknya ayah mertuanya. Hatinya begitu teduh merasa terlindungi seandainya saja kehidupan rumah tangga nya dulu sebahagia ini, mungkin hidupnya tidak akan sepahit dulu dan Fafa tetap bersama papa kandungnya.

__ADS_1


Ya, aku memang harus mengakui, bahwa saat ini aku sangat beruntung bisa memiliki suami dan mertua yang lebih dari kata baik terima kasih ya Allah atas nikmat mu bahwa di balik kepahitan akan ada kemanisan sebuah harapan.


Ungkapan hati Nadia yang tak hentinya mengucapkan rasa syukurnya pada sang maha kasih.


***


"Andrea... Andrea... Sayang!" panggil Tania mencari keberadaan putrinya, memberikan surat dari sahabatnya Sonya. Mendengar suara air kran yang menyala Tania pikir Andrea masih mandi di dalam.


Melihat pakaian serta jas putih kebesaran putrinya sebagai seorang dokter kulit dan kanker berserakan di atas ranjang. Ia pun berniat untuk merapihkan semua barang milik Andrea yang berantakan, diraihnya jas dan pakaian Andrea untuk di gantung ditempatnya sesuatu terjatuh di lantai Tania mengambil yang diyakininya adalah sebuah obat.


"Obat! Obat apa ini?" Tania mengamati obat di tangannya, meski Tania bukan dokter tapi sedikit banyaknya ia tahu jenis-jenis obat saat Andrea membuka klinik dulu. "Ini seperti obat tidur dan yang ini obat penenang dengan dosis tinggi? Andrea kau...!" Andrea pun keluar dari kamar mandi berjalan meilirik ke arah mamanya sambil menggosok rambutnya yang basah.


"Mama! Mama di sini?" panggil Andrea yang baru menyadari kehadiran mamanya di kamar.


"Ma_Mama itu__" Andrea merebut obat di tangan mamanya, tapi Tania berhasil mengamankan obat itu.


"Sejak kapan kamu mengkonsumsi obat-obatan ini Andrea? Kau adalah seorang dokter dan kamu tahu apa efek dari obat ini? Andrea apa ini semua ada hubungannya dengan Shaka?" Andrea hanya menangis mendengar pertanyaan dari mamanya ada sedikit luka batin dan penyesalan setiap kali mengingat pengorbanan mamanya ketika menjalani pengobatan di Boston. -


"Mama, Ma__" panggil Andrea namun Tania tidak mengindahkan panggilan putrinya. Menuruni anak tangga dengan langkah cepatnya meninggalkan kamar Andrea obat yang ia temukan terjatuh saat Adri suaminya baru saja keluar dari ruang kerjanya.


Adri mengambil obat yang terjatuh tepat mengenai kakinya dan meneliti obat yang di raihnya, Adri mengerlingkan keningnya heran menatap wajah istrinya yang merah. Tania segera mengusap kedua pipinya cepat menghilangkan jejak basah di matanya.

__ADS_1


"Papa! It_Itu punya mama." ujar Tania gugup merebut obat di tangan suaminya.


"Buat apa mama konsumsi obat penenang? itu sangat berbahaya untuk kesehatan mama."


"Iy_Iya pah. Ini mau mama buang ke tempat sampah," Tania berjalan melewati suaminya salah tingkah menuju dapur.


Rasa penasaran yang tinggi membuat Adri tidak mempercayai ucapan istrinya. Dan mengikuti langkah Tania diam-diam dan meraih kembali obat yang telah dibuang ke tempat sampah setelah Tania pergi.


"Ini adalah obat tidur juga pil penenang dengan dosis yang cukup tinggi. Itu artinya ini milik Andrea dan hanya dia yang tahu macam jenis obat.


Adri segera menuju lantai dua menapaki anak tangga menemui Andrea di kamarnya. Adri membuka pintu kamar putrinya mendapati Andrea yang akan meminum obat ditangannya, ia secepatnya merebut dan melempar obat itu ke sembarang arah.


"Papa, biarkan aku menelan nya, agar Andrea bisa melupakan semua rasa sakit ini, Pah," ucap Andrea menangis menepuk dadanya yang sesak.


"Andrea cukup! Berhentilah memikirkan laki-laki yang sudah tidak mencintai mu lagi. Papa tidak ingin kamu seperti ini Andrea, kau akan terus terpuruk dalam keadaan yang sebenarnya kau ciptakan sendiri." Andrea menangi memeluk papanya.


"Hati ini selalu sakit setiap kali melihat orang yang kita cinta justru berubah menjadi benci. Dan rasanya sangat menyiksa, cinta itu semakin lama semakin membunuh ku, Pah. Apalagi yang Andrea lakukan selain dengan cara ini. Andrea bisa melupakan semua rasa sakit ini, Pah." Adri mengepalkan kedua telapak tangannya menahan marah yang membuahkan di dadanya.


"Andrea berhenti dan tinggalkan rumah sakit itu, masih banyak rumah sakit lain yang akan menerima mu bekerja karena kemampuan kinerjamu yang bagus. Papa mohon Andrea." titahnya penuh harap. Andrea nampak diam memikirkan semua ucapan papanya mencoba apa yang orangtuanya pikirkan tentang dirinya.


"Andrea akan memikirkan nya lagi, Pah mungkin itu yang terbaik. Tapi tolong beri Andrea waktu untuk menyelesaikan tugas dan tanggung jawab Andrea yang masih ada beberapa jadwal di sana." ucapnya bernegosiasi dengan papanya dan Adri pun menyetujui permintaan Andrea yang masih memiliki tanggung jawab di sana.

__ADS_1


Setelah menemukan kesepakatan terbaik untuk putrinya Adri melangkah keluar dari kamar Andrea menuruni anak tangga memikirkan banyak hal.


__ADS_2