
“Mama kenapa Papa nangis?“ tanya Karin polos pada mamanya.
“Ee.. Mungkin karena Papa tidak diajak foto diatas panggung itu.“ ujar Kania menunjuk panggung dekorasi pengantin menirukan suara anak kecil.
Karin tertawa. “Papa seperti anak kecil.“ seru Karin melirik papanya. Permadi mengembangkan senyum paksa kearah putri kecilnya.
Tamu undangan perlahan mulai naik ke atas panggung, menyalami pasangan pengantin yang telah sah secara hukum beberapa jam yang lalu. Memberi ucapan selamat pada keduanya, Fafa yang sudah menguap sejak tadi di gendongan Ayahnya. Arshaka meminta pada ayah Firman untuk mengambil Fafa dari gendongannya.
“Ayah, Fafa sudah mengantuk biar bunda yang menidurkan Fafa.“ ucap Arshaka pada ayahnya.
“Iya. Kasihan Fafa dia sudah kelelahan ayah akan minta bunda untuk menjaga Fafa.“ Firman meraih tubuh gembil cucunya.
Entah kenapa Fafa tiba-tiba menolak ajakan opanya, matanya yang tadinya mengantuk kembali menjadi binar terang.
“Fafa, sayang bobo sama opa, oma ya, Nak?“ bujuk Firman menggendong tubuh Fafa.
“Sayang nggak jadi bobo?“ Nadia mengacak rambut putranya. Fafa menggelengkan kepalanya sambil mengucek kedua matanya.
“Nggak mau. Fafa mau disini sama ayah sama bunda.“ tolak Fafa sedikit merengek bergelayut manja di leher ayahnya.
“Ya, sudah sini biar ayah gendong Fafa lagi.“ ujarnya seraya menyalami tamu undangan yang sedikit kesusahan membenarkan posisi tubuh Fafa.
“Boleh Saya menggendong Fafa, Pak dokter?“ Suara wanita paruh baya tiba-tiba, setelah menyalami tamu yang turun dari panggung. Yang usianya tidak beda jauh dengan bunda Maya dan tantenya Hanna.
“Mama Dita?!“ tegur Nadia sangat kaget.
“Iya, Nadia. Ini mama.“ jawab mama Dita menangis memeluk Nadia mengusap punggung wanita yang dulu pernah menjadi istri putranya.
__ADS_1
“Tentu saja boleh, Ma. Mama boleh gendong Fafa. Sampai kapanpun Fafa tetaplah cucu mama darah daging mama juga, karena Mas Permadi tetaplah papanya.“ ucap Tania Nadia menangis dipelukan mama Dita.
“Maafkan mama, Nadia. Mama telah___“
“Ayah dia siapa?“ tanya Fafa pada ayahnya. Mama Dita menoleh ke arah Fafa tersenyum mengusap pipinya yang basah.
“Ini oma Dita sayang. Oma nya Fafa dan ini opa Sapto, Opanya Fafa juga. Sini sayang sama oma Dita! Oka kangeeenn sekali ingin peluk Fafa.“ anak laki-laki itu hanya melirik oma dan opanya bergantian setelah mendengar penuturan dari dua orang yang baru saja dilihatnya.
Asing? Ya memang sangat terasa asing bagi anak laki-laki itu di usianya yang baru menginjak lima tahun setengah. Fafa hanya menggaruk-garuk kepalanya memalingkan wajahnya memeluk leher ayahnya.
“Sayang!“ panggil mama Dita dan Sapto bersamaan.
“Sayang! Mereka itu adalah keluarga kita. Keluarga bunda juga ayah Fafa jangan takut karena rumah mereka jauh jadi kita jarang ketemu.“ bujuk Arshaka merayu Fafa agar mau digendong oleh oma juga opanya yang sebenarnya.
Oma Dita kembali menangis menatap suaminya. “Sabar, Mah! Ini adalah hari pertama Fafa melihat kita di sini setelah peristiwa itu.“ Sapto menggenggam telapak tangan istrinya menguatkan.
“Sayang, Fafa ingat pesan bunda dan ibu guru? Jika ada orang yang menyapa, kita harus apa?“
“Harus jawab.“ ujar Fafa dengan suaranya yang nyaris pelan.
“Sekarang Fafa sapa oma Dita, dan opa Sapto! Mereka bukan orang lain sayang tapi keluarga kita seperti yang ayah tadi katakan.“ jelas Nadia panjang lebar membuat putranya mengerti. Fafa melirik ayahnya, Arshaka mengindik kedua matanya pada Fafa.
“Oma, Opa!“ ucap Fafa pada akhirnya.
“Iya, Sayang ini Oma dan Opa, Nak.“ ucap mereka. Sapto meraih tubuh Fafa dari gendongan Arshaka, membuat pria dengan sebutan dokter itupun berkaca-kaca.
Tidak menyangka jika pernikahannya dengan Nadia akan mempertemukan istrinya pada keluarganya yang terdahulu.
__ADS_1
“Terima kasih pak dokter, sudah mengizinkan kami bertemu dengan cucu kami.“ ucap Sapto tersenyum bahagia.
“Anda bisa bertemu dengan cucu Anda kapan pun kalian mau. Benar kan ssayang?“ tatap Arshaka melingkarkan tangan ke pinggang istrinya. Nadia mengangguk membalas menatap suaminya.
“Nadia, Selamat atas pernikahan kalian.“ ucap Permadi dan istrinya canggung. Memberi selamat pada wanita yang dulu pernah menjadi istrinya selama hampir tiga tahun.
Nadia menyatukan kedua tangannya di depan dada. “Terima kasih Mas Permadi, Kania!“ balas Nadia tersenyum canggung.
Kania mengangguk memaksakan diri membalas senyum Nadia, Melirik suaminya menggoda Fafa.
“Apa kau lelah sayang?“ tanya Arshaka melihat wajah letih istrinya yang berdiri cukup lama menyambut menyalami tamu.
“Iya mas. Sepertinya aku memang sudah lelah,“ jawab Nadia.
“Duduklah, Sayang buka sepatu mu! Aku akan memijat kakimu,“ pinta Arshaka meraih bahu istrinya.
“Tapi Mas__“ sanggahnya melihat orang di sekitarnya.
“Kenapa sayang? Lagi sepi juga. Atau kamu malu?“ goda Arshaka menoel hidung mungil istrinya.
Tiba-tiba hati Permadi mencelos melihat kemesraan mantan istrinya dengan suaminya, yang terjadi di atas panggung yang tengah memijat kaki Nadia.
Menyesal? Mungkin itulah yang saat ini tengah dirasakan Permadi, melihat kebahagiaan dan keintiman Nadia dan Arshaka yang jauh lebih bahagia. Tidak seperti dirinya dulu yang hanya memberinya luka serta duka pada Nadia.
“Kamu kenapa mas, iri melihat mereka?“ tanya Kania kearah panggung.
“Apa-apaan sih kamu Kania? Malah jadi kekanak-kanakan gini.“ omel Permadi melangkah menghampiri Kedua anaknya yang tengah bermain.
__ADS_1
Fafa dan Karin pun mulai akrab bercengkrama dengan keluarga papanya. Begitu juga dengan Firman dan istrinya berbaur mengobrol dengan keluarga Sapto.