
Suasana duka masih menyelimuti di kediaman rumah Nadia dan Tantri yang tengah berkabung pasca kepergian Nurdin, ayahnya. Belum genap satu tahun meninggalnya ibu Laila, kini Nadia kembali bersedih atas kepergian ayahnya. Di pemakaman satu persatu para pelayat pergi meninggalkan tempat pemakaman dimana ayah Nadia dikebumikan.
"Ka, ayo kita pulang!" ajak Tantri membujuk Nadia yang masih bersedih memegangi batu nisan ayah dan ibunya yang saling berdekatan.
"Kau pulanglah dulu, Tantri! Kakak masih ingin di sini," pinta Nadia.
Akhirnya Tantri mengikuti permintaan Nadia memintanya pulang terlebih dulu. Tantri pun harus menyiapkan tempat untuk ngajian tahlil selepas kepergian ayahnya. Tiba-tiba Arshaka datang membawa buket bunga dan meletakkan diatas gundukan tanah yang masih basah pusara ayah juga ibu Nadia, wanita 27 tahun yang tidak lama lagi yang akan ia nikahi. Nadia menoleh ke arah Arshaka yang duduk berjongkok di sebelahnya.
"Mas Arsha!" panggil Nadia dengan suara lirih.
Arshaka melingkarkan tangan kirinya di punggung Nadia sedangkan, tangan kanannya mengusap pundaknya lembut seraya memberi kata penguat pada wanita hebat yang terlihat lemah disisinya.
"Nadia, kau harus tetap kuat. Kau punya Fafa sebagai penyemangat hidupmu, dan kau tidak sendirian aku akan segera melamar mu. Masa iddahmu pun sudah berakhir.'' tatap Arshaka dengan tatapan teduh penuh cinta.
"Kau lihat Permadi, betapa tidak tahu malunya istrimu Nadia. Mama menyesal telah menjodohkan kalian dan menikahkan Nadia dengan mu. Nadia justru berselingkuh pada dokter itu," umpat mama Dita.
Hati Permadi mencelos begitu dalam mendengar tuduhan mamanya dan mengira Nadia lah yang telah menghianati dirinya. Ada perasaan tidak rela melihat mantan istrinya ada dalam dekapan pria lain.
"Mama tidak akan membiarkan Nadia membawa Fafa pergi.Cucu mama akan tetap bersama mama," ucap mama Dita geram.
Nadia pulang dengan diantar Arshaka hanya sampai depan rumah saja. Arshaka langsung memutar kemudinya meninggalkan kediaman rumah almarhum, Arshaka berencana akan membawa bundanya ke rumah Nadia. Untuk mempertemukan orangtuanya pada wanita calon masa depannya, di sana Nadia melihat mama mertuanya tengah menggendong Fafa sembari membereskan barang-barang perlengkapan cucunya.
"Mama, Fafa mau di bawa kemana? tanya Nadia.
"Mama akan bawa Fafa ke rumah omanya, karena mama tidak akan rela cucu mama tinggal bersama perempuan sekaligus ibu yang tidak tahu malu karena telah berani selingkuh di belakang suaminya. Apa kamu sudah tidak memiliki harga diri sama sekali Nadia?" bentak mama Dita keras.
Tantri yang berada di dapur menata piring serta gelas yang akan di pakai untuk acara tahlilan pun beanjak keluar menuju ruangan dimana Nadia dan mertuanya berada.
"Kakak, ada apa? Kenapa ada suara ribut-ribut?" tanya Tantri cemas melihat kakak dan mama Dita bergantian.
"Saya akan membawa cucu saya keluar dari rumah ini Nadia! Saya menyesal karena telah memilihmu sebagai menantu dan menjadikanmu sebagai istri Permadi." ucapnya dengan suara lantang.
__ADS_1
Mendengar ucapan pedas yang keluar dari mulut Dita, nenek dari keponakanya membuat Tantri menjadi geram dan marah merasa tidak terima jika kakaknya diperlakukan secara tidak adil. Serta dituduh sebagai perempun yang berselingkuh di belakang suaminya.
"Tante!"
"Tantri, kamu adalah adiknya juga orang terdekat Nadia kamu juga pasti tahu tentang kelakuan buruk kakak mu di belakang putraku." sarkasnya pada Tantri.
Tantri menarik ujung bibirnya tersenyum kecut melirik mama mertua kakaknya.
"Mama, Nadia mohon jangan bawa Fafa dari sini, Ma!" pinta Nadia menantunya.
"Ka, biarkan saja mereka membawa Fafa, toh di pengadilan kelak kau lah yang akan memenangkannya," mama Dita memicingkan kedua matanya mencerna ucapan adik dari menantunya
"Apa maksud dari ucapan mu, Tantri?" tanya mama Dita dengan mengerutkan dahinya.
"Seharusnya tante tanyakan sendiri pada putra tante Permadi, bagaimana bisa kakaku Nadia menjalin hubungan dengan dokter Arshaka? Dan kenapa tante tidak mencari tahu melalui anak tante sendiri, bukan malah mengintrograsi kakakku saja, Tante!" sentak Tantri membuat Nadia dan mertuanya mematung.
"Ternyata adikmu, Tantri lebih kurangajar Nadia!''
"Kak, kakak jangan diam saja dan menangis. Katakan padanya bagaimana putranya memperlakukan mu, Ka!" perintah Tantri tegas.
"Nadia, ingat! Saya tidak akan membiarkan mu membawa cucu saya." ucap Dita menunjuk Nadia dengan wajah geram.
"Fafa...... jangan bawa putraku, Ma!'' teriak Nadia keras. Yang diikuti tangis Fafa meronta-ronta menatap bundanya.
Dita membawa paksa cucunya pulang ke rumahnya tanpa lagi memikirkan perasaan Nadia. Permadi segera menyalakan mesin kemudi secepatnya meninggalkan rumah duka.
***
Sementara Andrea telah berkemas bersiap menuju Jakarta, bertolak dari Boston ke Indonesia dengan jadwal penerbangan pagi.
"Andrea apa kau benar- benar sudah siap bertemu Arshaka, Nak?" tanya Tania mamanya.
__ADS_1
"Apa pun yang terjadi Andrea sudah siap, Mah. Meski Arshaka menolak sekalipun Andrea akan tetap menerima semua resikonya." jawab Andrea yakin.
"Mama mendukung semua keputusannmu, sayang." tuturnya mengelus bahu Andrea sayang.
Tania kembali keluar melanjutkan mengemas barang-barang untuk mereka bawa besok. Andrea menutup rapat koper yang ia siapkan sejak sore tadi, meletakkan figura foto kebersamaanya diantara tumpukan pakaian miliknya.
Ya Allah berikanlah hamba kekuatan, apapun yang terjadi hamba harus siap. Arsha apa kau akan tetap sama seperti dulu menerima cintaku sebelum atau setelah kondisi seperti ini.
Gumam Andrea mengusap bulir bening yang telah basah di pipinya. Menurunkan koper dari atas ranjangnya dan menepikannya sebelum beranjak tidur. Andrea membersihkan diri yang dibantu oleh Tania mamanya.
"Mama sudah menghubungi orang rumah, agar membersihkan dan merapihkan kamar mu, Andrea," ujarnya mendorong kursi roda keluar dari kamar mandi.
''Andrea juga meminta papah untuk menjemput di Bandara, Mah."
"Iya, sayang tadi Papa sudah menghubungi mama. Sekarang kau tidurlah! Apa kau bahagia, sayang?" tanya Tania menyelimuti tubuh Andrea sebatas dada.
"Selamat malam, Ma!"
"Malam, sayang!" ucap Tania mengecup kening Andrea sayang.
*
Sementara Arshaka tengah memberanikan diri untuk mengatakan pada kedua orangtuanya. Meminta pada bundanya untuk datang ke rumah Nadia tidak hanya sekedar mengucapkan belasungkawa, tetapi sekaligus meminta ayah serta bundanya untuk melamar Nadia wanita pilihannya.
Setelah acara tahlilan usai Arshaka berangkat menuju rumah kediaman almarhum Bapak Nurdin. Arsahaka melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menyisir jalanan yang sedikit basah setelah gerimis turun membasahi jalanan aspal. Di mobil pasangan suami-istri di usinya yang tidak muda lagi, saling senyum melempar pandang satu sama lain menatap putranya yang nampak bahagia. Sesampainya di sana ayah serta bunda Arsahaka nampak heran melihat adanya bendera kuning juga kursi yang tertata rapih di halaman depan rumah Nadia.
"Shaka apa ini rumah calon menantu bunda?" tanya bundanya kaget.
"Tapi kenapa seperti ada yang meninggal, Shaka?" tanya ayahnya lagi.
"Benar bunda, ayah, ini adalah rumah Nadia calon menantu bunda. Ayahnya telah meningal saat di bawa ke rumah sakit kemarin, ibunya meninggal tapi disaat Shaka baru mengenal Nadia, Yah." jelas Arshaka pada kedua orangtuanya.
__ADS_1
Mendengar suara mesin mobil yang berhenti di depan rumahnya, Nadia lari keluar secepatnya dan mengira jika mama mertuanya kembali membawa Fafa pulang.
"Mama...." Pangil Nadia antusias.