
“Assalamu'alaikum,“ ucap Shaka dan Nadia.
“Waalaikumsalam,“ jawab Titin asisten rumah tangganya.
“Waalaikumsalam, mba Nadia sudah pulang dari dokter kandungan-nya?“ tanya Tantri membawa tumpukan pakain di tangannya.
“Tantri kapan datang? Diantar siapa?“ tanya Arshaka gantian.
“Diantar Mas Aldo. Tadinya mas Mas Aldo kesini mau pamit ke Batam, tapi karena mba Nadia dan Mas Shaka nggak di rumah Mas Aldo langsung ke Bandara.“ ucap Tantri meletakkan pakaian di kursi sofa mengajak Nadia duduk bersamanya.
“Maaf, Tantri. Kenapa tadi tidak telepon dulu sebelum datang ke sini?“ tanya Nadia menyesalkan.
“Oh ya, Tantri ngomong-ngomong kamu jadi kerja bakti disini. Jadi makin capek bantu mba Titin pindahin barang-barang.“
“Tantri cuma bantu sedikit. Mba Nadia sama mas Shaka istirahat aja. Biar Tantri lanjutin beresin kamarnya.“ Tantri kembali meraih pakaian yang tadi dibawanya dari atas ke kamar yang akan Nadia tempati.
“Terima kasih, Tantri!“ ucap kedua kakaknya.
“Sama-sama mba Nadia, ini semua untuk calon keponakan tante tersayang.“ godaTantri mengelus perut Nadia lembut.
🍁🍁🍁
Sementara Firman dan Baskoro adik sepupunya ikut mendatangi kantor polisi, untuk mengetahui perkembangan kasus kriminal yang terjadi di gedung pernikahan putranya.
Disana ia dan adik sepupunya memberikan keterangan tentang pelaku kejahatan, sayangnya pelaku belum mengakui siapa yang telah menyuruhnya melakukan tindakan kejahatan peristiwa penembakan itu.
“Pak polisi apa saya boleh bertemu pelaku penembakan itu?“ tanya Firman.
__ADS_1
“Boleh, Pak silahkan!“ Sipir menghampiri pelaku di ruang sel untuk membuka pintu sel yang di gembok.
“Aku tidak ingin bertemu dengan siapapun.“ tolak penjahat itu lantang.
“Dilarang melakukan tindakan kekerasan disini atau kamu ingin menambah masa hukuman mu, waktu kamu cuma 10 menit cepat keluar!“ perintah sipir itu keras.
Mau tidak mau orang itu akhirnya keluar mengikuti perintah sipir. penjahat itu berjalan dengan tangan di borgol, duduk menghadapi Firman dan Baskoro.
“Mau apa kalian menemuiku?“ bentaknya.
“Aku bertanya padamu sekali lagi. Siapa yang menyuruh mu melakukan penembakan itu?“ tanya Baskoro sengit dengan wajah sangarnya yang menjabat sebagai komandan angkatan udara.
“Percuma kalian bertanya padaku, aku tetap tidak akan menjawabnya.“ bantah orang itu.
“Mas berikan data itu, lempar di depannya.“ perintah Baskoro tegas.
“Kami sudah tahu siapa kamu dan latar belakang mu. Saya akan meminta seluruh ikatan dokter untuk tidak menerima pasien bernama Afrida dan menghentikan pengobatannya secara permanen. Dan satu lagi saya bisa menggagalkan operasi cangkok jantungnya sekarang juga.“ ancam Firman tidak main-main untuk mencari keadilan untuk cucunya meski Fafa bukan cucu kandungnya.
Pelaku diam sejenak berpikir keras lalu kembali angkat bicara.
“Besok datanglah kesini! Waktu kunjung mu telah berakhir,“ sepuluh menit telah berlalu sipir kembali membawa pelaku masuk kedalam sel.
“Maaf, Pak jam kunjungan Anda telah berakhir. Anda bisa menemuinya lagi besok.“ ucap sipir itu berlalu.
...***...
Di rumah kediaman Bimantara semua orang sibuk menyiapkan acara tahlil, acara do'a selepas meninggalnya Fafa putra Nadia berlangsung selama 7 hari kedepan.
__ADS_1
“Sayang kamu disini aja istirahat ditemani Tantri. Atau kamu mau makan biar mas ambilkan.“ tanya suaminya menawarkan. Nadia menggelengkan kepalanya ringan.
“Tidak usah mas. Nanti saja kalo sudah lapar aku pasti makan.“ujar Nadia menolak.
“Tenang saja kakak ipar. Mba Nadia pasti aman, karena aku akan menjaganya. Iya kan mba?“ senyum Tantri menaik turunkan kedua alisnya menggoda kedua kakaknya.
Arshaka pun keluar mengikuti acara tahlil bersama keluarga dan para tetangga dekat.
Acara pun usai tidak lebih dari satu jam dan diakhiri jabat tangan dengan para tamu setelah menikmati sedikit jamuan sekedarnya.
Tantri bercengkrama bersama Nadia kakaknya mengingat kenangan masa kecilnya ketika kedua orangtuanya masih ada.
Tiba-tiba pintu kamar dibuka dari luar, Tantri segera beranjak dari duduknya bersama Nadia dan turun dari atas ranjang.
“Mba Nadia, sudah ada Mas Shaka disini Tantri keluar mau istirahat juga.“ Nadia tersenyum mengangguk
Arshaka menutup pintu kamar setelah adik iparnya keluar dan masuk ke kamar tamu. Arshaka duduk di sisi Nadia meraih telapak tangan istrinya dan mencium buku jarinya.
“Sudah malam istirahat ya!“ Suami mematikan lampu dan menggantinya dengan lampu tidur dengan pencahayaan yang minim.
Nadia membaringkan tubuhnya begitu juga dengan suaminya melakukan hal yang sama, memeluk tubuh istrinya dari belakang menghirup aroma wangi kulitnya yang menguar membuat Arshaka tidur lebih nyaman.
Nadia sudah tahu apa yang suaminya mau darinya, ia segera membalik tubuhnya hingga mereka saling berhadapan. Arshaka mencium kening istrinya lembut, perlahan namun pasti kewajiban keduanya untuk saling memberi dan menerima.
Nadia membalas ungkapan cinta suaminya melalui gerakan tubuhnya.
“Mas kangen boleh mas memintanya malam ini?“ meski sudah sering mereka melakukannya rasa malu yang Nadia rasakan tetap saja ada.
__ADS_1
Mereka pun mulai merasakan penyatuan cintanya yang cukup melelahkan diantara keduanya dan berakhir di kamar mandi melakukan ritual bersi- bersih sebelum kembali tidur.