
Arshaka merapihkan rambut Nadia yang sedikit berantakan karena ulahnya. Ia pun meminta maaf atas sikapnya yang telah lancang yang karena berani menyentuhnya meski tidak ada kata penolakan dari bibir Nadia.
"Nadia, maaf aku telah melakukan hal yang seharusnya kita lakukan setelah kita resmi menjadi pasangan suami istri," ucapnya menyesali, Menyelipkan anak rambut Nadia ke belakang telinganya.
Nadia mengangguk pelan menatap wajah resah pria yang telah mencuri ciuman darinya. Nadia melihat seperti ada sesuatu yang Arshaka sembunyikan dari dirinya, namun Arshaka masih sulit untuk jujur.
"Nadia sebenarnya ada hal penting yang ingin ku sampaikan padamu.''
"Hal penting apa mas? Katakanlah! Aku seperti tidak mengenali dokter Arshaka seperti pertama kali aku mengenal mu,"
"Nadia sebenarnya ak_"
Drttttt
Drttt
suara getar ponsel dari saku Arshaka menghentikan ucapannya. Arshaka melirik sekilas saku jasnya lalu kembali menatap wajah Nadia.
Angkat dulu mas mungkin itu urgent pinta Nadia pada Arshaka, Ia pun mengikuti saran Nadia dan menerima panggilan telepon untuknya. Tanpa melihat id caller Arshaka menggeser ikon warna hijau,
~ Hallo
~ Shaka cepatlah ke sini Andrea anfal lagi.
__ADS_1
~ Baiklah Shaka akan segera segera ke sana tante!
"Nadia ada pasien darurat yang harus aku tangani," ucap Arshaka panik.
"Biar aku pulang naik taksi saja mas, tugas mu lebih penting menolong nyawa seseorang adalah kewajiban mu."
"Terima kasih, Sayang." ucapnya mencium kening Nadia membuka tirai dan pintu ruangannya.
Mereka keluar dan berjalan bersama sampai loby, Arshaka masuk kedalam amobilnya setelah memastikan Nadia telah masuk ke dalam taksi. Arshaka melajukan kemudinya dengan kecepatan sedang menuju rumah kediaman Adri Siregar. Tania dan semua yang ada di rumah begitu panik akan kondisi Andrea yang tiba-tiba kolaps tidak sadarkan diri setelah keinginannya berjemur di taman belakang menikmati udara pagi.
"Andrea sebaiknya kita lanjutkan saja pengobatan mu di Boston, sayang," ucap Tania cemas.
Darah segar mengalir di dari hidungnya, Tania semakin panik sedang Andrea terus saja menyebut nama Shaka. Adri pun menghubungi Shaka memintanya datang membawa Andrea ke rumah sakit untuk melakukan tindakan.
Tidak lebih dari tiga puluh menit mobil Arshaka tiba di pintu gerbang rumah Andrea. Seorang security membukakan pintu gerbang lebar-lebar dan memarkir mobilnya di depan teras agar lebih mudah membawa Andrea kedalam mobil. Arshaka secepatnya melepaskan sitbel dan lari ke dalam.
"Shaka tolong bawa Andrea ke rumah sakit!" mohon Tania mamanya sedih.
"Andrea mengalami pendarahan, Tante." Arshaka segera membawa Andrea dalam dekapannya dan membawa tubuh lemah Andrea ke dalam mobil.
Tania mendampingi tubuh tak berdaya putrinya pergi bersamanya. Adri menatap nanar putri satu-satunya dalam dekapan tubuh Shaka pria yang sangat di cintainya, kedua matanya pun basah tidak sanggup melihat putrinya menahan sakit dan menderita karena cintanya yang bertepuk sebelah tangan.
Di dalam tubuh Andrea yang lemah bagai tak bertulang, masih dapat ia merasakan dan mendengar dengan baik setiap kata yang Arshaka ucapkan, bahkan aroma tubuh maskulin yang sangat dirindukannya Andrea bergumam.
__ADS_1
Shaka aku bahkan rela menahan rasa sakit ini asalkan aku bisa bersama mu. Dengan jarak yang begitu dekat seperti ini, tanpa mengikis jarak dan waktu diantara kau dan aku.
"Andrea bertahanlah! Aku akan membawamu ke rumah sakit. Aku mohon bertahanlah!" mohonnya pada Andrea.
Setibanya di rumah sakit Arshaka meminta tim medis membawa ranjang dorong dan membawa tubuh bagai mayat hidup itu ke ruang perawat khusus. Dokter Sonya sahabat Andrea turut menangani Andrea memasang alat medis di tubuhnya.
"Andrea bertahanlah! Berjuanglah lawan penyakit mu! Yakinlah Andrea pada dirimu Kau pasti sembuh." Dokter Sonya terus memberikan motivasi pada sahabatnya.
Setelah tim dokter menyuntikkan obat pereda sakit akibat pendarahan yang di alaminya. Andrea dapat tertidur untuk sesaat karena reaksi obat telah bekerja.
Dokter Sonya keluar dari ruangan Andrea, memberi waktu dan kesempatan pada dokter Arshaka menemani dan menjaga Andrea yang tidak sadarkan diri setelah obat bereaksi di dalam tubuhnya.
Arshaka menggenggam erat tangan Andrea. Tangan yang dulu selalu ia genggam kemana pun Andrea pergi, bahkan tangan yang selalu ia jaga dari sentuhan pria lain. Dan tidak rela ada tangan laki-laki lain yang berani menyentuhnya. Sekilas bayangan wajah cantik Andrea yang dulu ia rindukan, sehari saja tidak bertemu Arshaka segera menghubungi Andrea melalui panggilan vidio call.
Andreyani Siregar
"Andrea bangkitlah kau harus melawan rasa sakit mu. Kau ingat bukan dulu kau yang paling bersemangat meminta ku untuk selalu menjaga kesehatan. Kau harus ini, kau harus itu, makan dan minum ku semua kau yang mengaturnya. Sekarang giliranku aku yang akan menjaga mu Andrea sampai kau sembuh." ucap Arshaka menciumi buku jari Andrea.
Adri dapat melihat dengan jelas melalui kaca jendela jika Arshaka masih memberikan perhatiannya pada Andrea putrinya.
"Pah, Apa perlu kita bawa Andrea ke luar negri lagi untuk melanjutkan pengobatannya?'' tanya Tania berdiri disisi suaminya menatap putrinya yang di temani Arshaka, melalui kaca jendela ruangan.
__ADS_1
"Biarkan saja dulu Andrea menikmati kebersamaannya dengan Shaka. Karena yang Andrea butuhkan saat ini adalah ada bersama Shaka pria yang dicintainya.'' Tania menatap sekilas suaminya dengan tatapan berbeda.
Aku adalah ibunya tapi aku tidak banyak tahu tentang putriku. Sejak dulu Andrea selalu dekat dengan papanya, sekecil apapun Andrea lebih memilih berbagi cerita dengan papanya.