Cinta Tianda Ganti (Ketika Cinta Datang Dan Pergi)

Cinta Tianda Ganti (Ketika Cinta Datang Dan Pergi)
Mulai Menerima Keadaan


__ADS_3

“ATFAAA.....!!“


Pemadi berteriak memanggil nama putranya, Mama Dita dan suami mendekati putranya yang baru saja kehilangan anak laki-lakinya.


“Mama, Tuhan telah mengambil anakku. Dia telah menghukumku, Mah. DIA MENGHUKUM KU....“


Mama Dita menangis sambil mengusap-usap punggung Permadi yang begetar karena tangisnya.


“Sabar, Nak ini bukan hukuman buat mu. Tapi Tuhan menguji kesungguhan mu yang ingin berusaha menjadi orangtua yang baik.“ tutur Mama Dita memberi pengertian untuk tidak berprasangka buruk pada sang Khalik.


“Dulu aku mengabaikan Nadia yang kehilangan kedua orangtuanya. Aku dulu ingin memisahkan Nadia dari Fafa, dan sekarang aku dipisahkan darinya.“ menyesali sesuatu yang telah pergi adalah sia-sia. Dikala kesempatan itu jelas ada di depan mata tapi kita telah mengabaikan sesuatu yang telah Tuhan siapkan. Jika sang pemilik telah mengambil kembali titipan kasih sayangnya manusia hanya bisa pasrah, ribuan untaian do'a dan sesal tidak mampu merubah keputusannya.


...***...


Nadia masih memeluk erat foto Fafa dalam bingkai di dadanya. Air mata yang dia coba tahan untuk tidak lagi tumpah jatuh begitu saja.


Arshaka memeluk tubuh lemah Nadia yang masih merasakan hari duka yang menyelimuti kediaman rumah Bimantara pasca melepas kepergian putranya kepangkuan yang abadi.


“Sayang ikhlaskan anak kita. Fafa akan menjadi kunci surga buat kita bagi orang tua yang mampu mengikhlaskan anak-anaknya ketika Tuhan memilihnya.“ Nadia menatap lembut tatapan suaminya yang penuh kesabaran dan cinta.


Bagi Arshaka istrinya terlalu berharga untuk di sia-siakan. Hanya laki-laki bodoh yang tega meninggalkan wanita seperti Nadia. Nadia memeluk tubuh suaminya yang sedikit membuatnya lebih tenang, kata-kata penyemangat darinya perlahan meredakan butiran bening di pelupuk matanya.


Ada sedikit rasa mual yang tiba-tiba menyerang perutnya, Nadia meregangkan tubuhnya melepaskan diri dari pelukan suaminya.

__ADS_1


“Kenapa sayang? Nadia!“ panggil ssuaminya mengikuti langkah Nadia ke kamar mandi.


Hoeekk.... Hoeekk...!!“


Nadia memuntahkan isi perutnya yang hanya cairan bening yang terasa pahit dan sedikit asam.


“Nadia kenapa Shaka?“ tanya bunda Maya cemas, melihat Nadia muntah-muntah.


“Mungkin efek hamil, Nda.“ jawab Arshaka sambil memijit tengkuk istrinya.


Nadia mencuci mulutnya dengan air mengalir membersihkan dari sisa-sisa muntahnya.


“Ajak Nadia ke dokter obgyn, Shaka!“ saran bundanya seraya mengayun langkahnya keluar dari kamar.


“Sayang kita ke dokter ya!“ pinta suaminya memapah tubuh istrinya lemas. Nadia mengangguk patuh, dia juga ingin tahu bagaimana kondisi calon bayi dalam kandungannya. Setelah kemarin beberapa kali pingsan saat peristiwa penembakan yang menimpa putranya Fafa.


“Ya sudah mas tunggu di bawah. Mulai besok kamar kita pindah di bawah saja. Biar nggak capek naik turun tangga,“ senyum Arshaka meninggalkan jejak di kening istrinya.


“Bagaimana dengan kabar selanjutnya, Ayah? Apa pihak kepolisian sudah menangkap pelakunya?“ Firman menelan kopinya sesaat sebelum akhirnya menjawab pertanyaan putranya.


“Baskoro sudah menangkap pelakunya, dia masih diamankan dalam pengawasan anak buah om mu.“ tutur Firman meletakkan cangkir kopinya.


“Sebaiknya jangan cerita masalah apapun pada Nadia. Bunda takut akan menggangu kesehatan Nadia dan janjinya terlebih di usia kandunganny yang masih sangat muda.“

__ADS_1


“Benar yang bundamu katakan, Shaka. Nadia tidak boleh sedih dan stress dampaknya akan sangat berbahaya dan bisa terjadi keguguran.“


“Tidak ayah! Shaka tidak ingin semua itu terjadi.“ ujar Arshaka cemas dengan kegusaran dalam. pikirannya.


Mendengar obrolan antara suaminya dan orangtuanya di meja makan, yang Nadia dengar secara tidak langsung saat menuruni anak tangga. Membuat Nadia menjadi takut kehilangan calon bayinya, dengan hati-hati Nadia menapakkan kakinya menuruni anak tangga.


Mendengar langkah kaki istrinya Arshaka segera berdiri menghampiri Nadia. “Sayang ko' nggak panggil mas? Kan mas bisa bantu kamu turun, sayang.“ Arshaka berdiri disisi Nadia memapah tubuhnya.


“Aku nggak kenapa-napa, Mas. Masih kuat jalan sendiri, nanti anak ita jadi manja kalo ayahnya manjain terus.“


“Nggak papa dong, sayang. Manjain istri hamil kan berpahala. Dan nggak akan buat anak kita jadi manja.“ ucap Arshaka mencium pipi istrinya. Saat langkahnya mendekati meja makan.


“Mas...! Malu ada Ayah sama bunda.“ protes Nadia dengan rona di pipinya.


“Lihat, bunda! Kelakuan anak bunda. Nggak malu cium istri di depan kita.“ kini giliran Firman yang protes pada istrinya.


“Sama seperti ayahnya, sebelas dua belas kan?“ sanggah bunda Maya membalas. Mereka tertawa membuat candaan agar Nadia tersenyum dan segera melupakan kesedihannya pasca kepergian Fafa. Putra pertama Nadia dari pernikahannya yang dulu dengan Permadi.


Nadia memaksa dirinya untuk minum susu dan makan selembar roti dengan selai coklat.


“Kenapa, Nadia kamu mual?“ tanya bunda Maya. Nadia mengangguk sambil menelan makanan dalam mulutnya.


“Nggak usah dipaksa, Sayang. Asal sudah minum susunya, Kita ke dokter sekarang,“ ajak Arshaka meraih pergelangan tangan Nadia.

__ADS_1


“Shaka ajak Nadia kedokter Miko. Dokter Miko dokter Obgyn terbaik di Jakarta.“ ujar Firman di sela-sela langkah anak dan menantunya.


“Dokter dari rumah sakit kita cukup kompeten di bidangnya, Yah. Shaka mau Nadia diperiksa dokter perempuan saja.“ pekik Arshaka. Bunda Maya menggelengkan kepalanya heran, sifat dan sikapnya sama persis dengan ayahnya.


__ADS_2