Cinta Tianda Ganti (Ketika Cinta Datang Dan Pergi)

Cinta Tianda Ganti (Ketika Cinta Datang Dan Pergi)
Penolakan Arshaka


__ADS_3

"Mas Arshaka, terima kasih sudah mengantar saya pulang. Mau mampir ke rumah bapak, Mas?" tawar Nadia pada Arshaka.


"Lain kali saja. Saya temui bapak sampaikan saja salam saya pada Beliau." ucap Arshaka lembut.


Nadia membuka pintu mobil yang hendak menurunkan kakinya melangkah keluar. Namun Arshaka menghentikan langkah kaki Nadia.


Sehingga mereka kembali saling berhadapan dan bertemu pandang, Arshaka mengetuk keningnya pelan dengan jari telunjuknya sebagai kode. Tapi Nadia tidak mengerti apa maksud dari Arshaka.


" Ada apa Mas?" tanya Nadia bingung. Arshaka tersenyum menunjukkan kening dengan jarinya.


Nadia tersenyum tipis dengan wajah merah padam, seakan mengerti apa maksud dari dokter tampan di hadapannya. Nadia mendekatkan kepalanya ke hadapan Arshaka tanpa ragu lagi. meski rasa canggung masih mendominan Arshaka mengecup kening Nadia lembut serta mengacak pucuk kepalanya pelan.


Seperti ada perasaan aneh yang menyelimuti hati Nadia, bagai bunga yang bermekaran begitu indah di hatinya. Nadia pun turun dari mobil dengan rona merah di wajahnya yang sedang menahan rasa malu.


Arshaka menarik sudut bibirnya menyunggingkan senyuman setelah mendapatkan apa yang ia mau. Dengan rona di wajahnya Arsahaka kembali menyalakan mesin kemudinya menuju rumah Bunda Maya. Nadia masuk setelah mobil Arshaka meninggalkan area pekarangan.


Sepasang mata menatap dengan tatapan tajamnya. Rasa tidak suka dan benci melihat kedekatan Nadia dan dokter Arshaka membuatnya mengeratkan jari-jarinya pada kemudi mobil.


Aku pikir setelah menjadi janda hidup mu akan jauh lebih menderita.


"Siallll....!" umpatnya.


Permadi turun dari mobil dan mengikuti langkah kaki Nadia yang memasuki pekarangan rumah. Sesampainya di pintu kamar Permadi menarik lengan Nadia dan membawanya masuk ke dalam. Nadia terkejut serta bingung mengapa? Permadi mantan suaminya berada di rumah ayahnya.


"Katakan Nadia, Apa semalam kau bersama dokter itu?" tanya Permadi mengintimidasi. Pada Nadia mantan istrinya yang berhasil membuatnya gelisah.


"Dengan siapa aku pergi, dan kemana pun aku pergi? Kau tidak ada hak atas diriku lagi. Kau ingat itu!" Nadia menghempaskan kedua tangan Permadi yang sedari tadi menahannya di balik pintu kamar.


Nadia keluar mencari Ayahnya yang berada di belakang rumah mencabuti rumput liar yang mulai tinggi di sekitarnya. Tantri yang sedang menjemur pakaian menoleh ke belakang mendengar suara Nadia memanggil ayahnya.


"Bapak!" panggil Nadia mencari sosok ayahnya.


Rasanya ingin menangis melihat ayahnya yang meraba-raba tanah yang sedang mencabuti rumput. Nurdin menghentikan aktifitasnya sejenak untuk berdiri menyambut kedatangan putri pertamanya. Nadia berjalan menghampiri ayahnya yang tersenyum ke arah sumber suara dimana Nadia memanggilnya.


"Bapak?! Bapak sedang apa di sini? tanya Nadia khawatir. "Tantri kenapa bapak kau biarkan mencabuti rumput seperti ini?" tanya Nadia dengan nada merajuk pada adik perempuannya.

__ADS_1


"Bapak bosan diam di rumah tanpa melakukan apapun Nadia. Dimana Fafa bapak kangen mau peluk cucu?" tanyanya pada Nadia. Menanyakan cucunya yang sudah dua hari tidak di gendongnya.


Nadia terdiam melirik Tantri yang berada di samping ayahnya, mereka berjalan masuk ke dalam mengajak ayahnya istirahat dan mengobrol di dalam. Tantri mendapati Permadi berada di ruang tamu yang sedang memainkan ponselnya. Menatapnya dengan tatapan sinis dan langsung bertanya pada kakaknya.


"Mba ngapain sih dia masih kesini aja?" tanya Tantri tidak suka melihat mantan kakak iparnya berada di ruang tamu.


"Mba juga gak tahu kenapa mas permadi datang ke sini." jawab Nadia pura-pura tidak tahu, dengan tangannya yang sibuk membuatkan kopi untuk dua pria yang berbeda usia itu.


"Mba, kenapa gak terus terang aja soal status mba. Biar aja mertua mba shok terus jantungan biar tau rasa tu Permadi." Ceplos Tantri kesal, meluahkan kebenciannya melihat keberadaan mantan kakak iparnya.


"Tantri, gak baik bicara seperti itu semua ada waktunya mba hanya menunggu waktunya tepat saja. Kamu sudah berhenti kerja kan? Kasihan bapak di rumah sendiri. Tiap bulan mba akan kirim uang buat kamu." tutur Nadia sambil menata gelas di nampan dan segera membawanya ke ruang tamu.


*


*


Setelah menghabiskan kopinya Ayah Nadia beranjak ke kamar untuk istirahat, memberi kesempatan pada mereka waktu berdua untuk mengobrol. Ayah Nadia tidak tahu jika hubungan mereka sudah bukan pasangan suami-istri lagi. Nadia membantu ayahnya berdiri dari kursi menuju kamar yang mengingatkan dirinya pada Ibu tercintanya.


"Sudah Nadia, ayah bisa sendiri kau temani saja suamimu ngobrol." tolaknya lembut berusaha berdiri.


Seperti ada sembilu yang menikam hati Permadi mendengar mertuanya yang menganggap dirinya masih suami dari putri sulungnya.


Arshaka mulai bertanya pada Ayahnya untuk membicarakan masalah terkait. Sesuatu yang ayahnya anggap penting, dan harus dibicarakan padanya. Arsahaka menemui Firman di ruang kerjanya, Arshaka mengetuk pintu dan masuk setelah mendapat jawaban dari dalam mengambil duduk di depan ayahnya hingga saling berhadapan.


"Ayah! Bunda mengatakan jika ada sesuatu yang penting yang ingin ayah bicarakan." tanya Arshaka. Firman membuka kaca mata bacanya menatap wajah putranya.


"Ya, Ayah ingin membicarakan masalah perjodohan mu dengan putri sahabat lama Ayah. Malam ini kita akan menemui mereka di Restoran Samudera, kita akan makan malam di sana." Arshaka terkejut akan ucapan Firman, dan berusaha tenang mengimbangi siapa lawan bicaranya saat ini menolak tanpa harus menyakiti.


"Ayah, sebelumnya Saka minta maaf tanpa mengurangi rasa hormat Saka pada Ayah. Bukan maksud Saka menolak tapi, Saka sudah memiliki masa depan pilihan Saka sendiri, Yah. Saka yakin dia gadis baik baik." terang Arsha.


" Tapi kenapa baru hari ini kamu mengatakannya Saka? Lalu apa yang akan Ayah katakan pada mereka? Ayah sudah sepakat untuk menemui mereka malam nanti." tanyanya bungung akan jawaban Arsahaka.


"Karna Tuhan baru mempertemukan kami Yah. Kita tetap akan menemui mereka biar Saka yang bicara pada mereka jika Saka sudah memiliki calon pendamping sendiri, Yah." tutur Arshaka lembut.


"Ayah serahkan semua keputusan di tanganmu Saka. Tapi Ayah tidak jamin akan ada pihak yang kecewa."

__ADS_1


Firman pun bangkit dari kursinya meninggalkan ruangannya menemui Istrinya.


Jam menunjukkan pukul 6 sore Arsahaka dan keluarga keluar menuju Restoran setelah melakukan sholat berjama'ah. Sesuai kesepakatan Firman tetap akan menemui mereka bukan sebagai calon besan melainkan sebagai sahabat lama yang akan menyambung hubungan silahtuhrahmi.


"Arshaka, Bunda hanya minta tolong pertimbangkan rencana Perjodohanmu dengan putri sahabat ayah. Ya, mungkin kalian cocok dan kamu bisa menerima perjodohan ini." saran Bunda Maya pada putranya yang fokus pada kemudinya.


"Baik Bunda, jika gadis itu sama cantiknya seperti Bunda dan memiliki cinta kasih yang sama seperti Bunda mencintai Ayah." Liriknya pada pria yang duduk di samping Bundanya lewat kaca sepion di depannya.


Yang membuat dua orang yang tak lagi muda itu tersenyum bangga pada putranya, karena menjadikan dirinya sebagai contoh figur kelak dalam rumah tangganya.


Sesampainya di Restoran Arshaka memarkir mobilnya di loby khusus Kendaraan roda empat. Mereka berjalan beriringan menuju meja 025 ternyata mereka sudah menunggu kedatangan keluarga Firman sejak 10 menit yang lalu.


Firman menyapa sahabat lamanya dengan senyum tawa yang terukir di wajahnya mereka, saling berpelukan begitu juga dengan Ratna dan Maya yang saling peluk dan cipika cipiki. Kania tidak menghiraukan kehadiran dua orang tua mereka yang saling bercengkrama. Begitu Arshaka melihat gadis di hadapannya yang duduk di samping ibunya. Arshaka cukup terkejut jika putri dari sahabat lama Ayahnya ternyata Kania. Kekasih dari mantan suami Nadia.


"Kau?! Arshaka menunjuk Kania dengan jari telunjuknya.


Yang membuat kedua para orang tua itu saling menatap Kania dan Arshaka bergantian dan saling melempar Senyum. Dan menyangka jika di antara mereka sudah ada kecocokan dan tidak perlu menunggu lama lagi.


"Jadi kalian sudah saling mengenal itu bagus sekali artinya kalian jodoh, dan Perjodohan ini tidak sia sia benarkan mas? ." Ucap Ratna pada suaminya.


"Ya, kami harap begitu," seru Ardana Dinata.


"Itu tidak akan pernah terjadi dan tidak akan ada Perjodohan atau pernikahan apapun".


ucap Arshaka dalam hati.


Ardana memanggil seorang pelayan untuk memesan menu, di sana Kania tidak berani mengatakan apapun. Apa lagi jika harus menatap dan bicara pada Arshaka terlebih Arshaka tahu siapa Kania sebenarnya.


" Iya, Ayah, Mah. Kania sudah mengenal Dokter Arshaka. Waktu Kania jenguk Ibu dari teman Kania di rumah sakit." jawab Kania gugup dengan sorot mata melirik pada Arshaka.


Akhirnya Arshaka buka suara untuk meluruskan masalah Perjodohan itu pada sahabat lama Ayahnya. Setelah menikmati acara makan malam bersama Firman sedikit memberi ulasan pada Ardana mengenai Perjodohan di antara anak anak mereka.


"Kami sebagai orang tua menyerahkan semua keputusan ada pada mereka Ardan, karena yang menjalani pernikahan ini adalah mereka jadi merekalah yang berhak memutuskannya." ucap Firman bijak.


"Aku rasa putriku setuju dengan Perjodohan ini benarkan Kania?" Tanya Ardana pada putrinya. yang tidak mendapat respon apa pun dari Kania.

__ADS_1


"Saya sangat minta maaf pada Om Ardana karena Perjodohan ini saya rasa sudah sangat terlambat. Karena saya sudah memiliki calon pendamping yang sampai saat ini belum saya kenalkan pada Ayah juga Bunda. Ayah mengira jika sampai saat ini saya masih sendiri. Jadi atas nama saya dan keluarga saya sangat minta maaf sekali pada Om juga Tante." jelas Arshaka secara to the point dan jujur.


Rasa kecewa juga malu sangat terasa, Ardana mengepalkan tangannya menahan amarah yang siap meledak. Ia berusaha menahan kecewanya di balik senyum paksanya. Arsahaka dan keluarga pamit undur diri dan pulang setelah mendapat jawaban dari Ardana Dinata.


__ADS_2