Cinta Tianda Ganti (Ketika Cinta Datang Dan Pergi)

Cinta Tianda Ganti (Ketika Cinta Datang Dan Pergi)
Bertemu Mertua


__ADS_3

Mobil Arshaka telah memasuki gapura perumahan kawasan elit yang membentuk letter U, Nadia nampak cemas ada rasa khawatir yang nampak jelas di wajahnya.


Arshaka melirik Nadia yang mulai gelisah dan meraih telapak tangan kirinya yang basah karena keringat dingin.


"Nadia, ada apa sayang seperti kamu sedang mencemaskan sesuatu?" tanya Arshaka masih menggenggam tangan istrinya. Nadia menatap wajah suaminya sendu seolah tahu apa yang Nadia rasakan saat ini.


"Aku takut bertemu Ayah dan Bunda, Mas. Aku takut mereka akan marah melihat ku bersama Fafa karena putranya telah menikahi janda anak satu, sebaiknya kita kembali saja mas atau kita menginap saja lagi di hotel. Aku benar-benar belum siap mas bertemu beliau." pinta Nadia khawatir dan takut jika orangtua suaminya akan menolak kedatangannya bersama putranya.


"Jika kita terus menghindari sebuah masalah, maka masalah itu tidak akan pernah selesai sayang. Kita hadapi bersama aku yakin bunda dan ayah bukanlah tipe orangtua yang otoriter, yang memaksakan atau menuntuk anak-anaknya untuk bisa seperti apa yang mereka inginkan." ucapnya melirik Nadia di sampingnya.


Nadia merasakan debaran jantungnya yang semakin berdetak tak karuan, kala mobil yang ia tumpangi bersama putranya sudah mendekati pintu gerbang rumah orangtua suaminya lebih tepatnya rumah kediaman mertuanya. Arshaka lebih sering tinggal di apartemen daripada di rumah bundanya dan hanya menginap di hari-hari tertentu saja.


Tinnn....Tinnn


Arshaka menekan klakson mobilnya, mendengar suara klakson mobil milik putranya bunda dan ayah Firman keluar menyambut kedatangan Arshaka. Pak Lukman segera keluar dari pos jaganya meraih kunci pintu gerbang dan membuka pintu selebarnya, Arshaka tersenyum pada pak Lukman seraya mengucapakan kata Terima kasih.


Pak Lukman memicingkan kedua matanya melirik wanita cantik yang duduk di sebelah tua mudanya, seperti mengingat sesuatu bergumam pada dirinya sendiri.


"Yang duduk di sebelah den Shaka siapa ya? Tapi ko beda bukan yang biasa datang kesini, bukan dokter Andrea kayanya." pikir Pak Lukman sambil mendorong menutup kembali pintu gerbang besi yang tinggi menjulang.


"Shaka!" panggil bunda yang nampak heran melihat Shaka keluar dari mobilnya dengan wajah yang nampak cerah dan bahagia.


Bunda melihat dari kaca depan pada wanita yang masih ada di dalam mobil Shaka sepertinya bukan Andrea jika dilihat dari ciri-ciri bentuk tubuhnya. Nadia membangunkan Fafa yang masih tertidur di kursi belakang sebelum turu dari mobil. Arshaka membukakan pintu depan dan belakang memanggil dua orang yang kini telah menjadi tanggung-jawabnya.


"Ayo sayang kita sudah sampai di rumah bunda," tutur Arshaka mengajak Nadia dan putranya segera turun dari mobil.

__ADS_1


"Sayang? Tumben Shaka manggil Andrea pakai kata sayang bukannya wajahnya selalu jutek kalo sama Andrea," gumam bunda melihat berubah mood Arshaka yang sulit di tebak.


Betapa terkejutnya bunda melihat wanita yang ada bersama putranya tengah menggendong anak laki-laki yang usianya kisaran 5 tahun.


"Nadia?!" ujar bunda kaget melihat kedatangan Nadia bersama Arshaka. pasalnya ketika Arshaka berangkat tugas ia pergi bersama Andrea yang dulu menjadi kekasih putranya. Tapi kini saat kembali dari tugasnya bunda mendapati Arshaka bersama wanita yang sempat mengisi hatinya yang kosong, ketika Andrea tidak lagi menjalin hubungan dengannya yang tiba-tiba menghilang tanpa kabar.


"Assalamu'alaikum, bunda," ucap Nadia dan Arshaka bersamaan.


"Wa'alaikumussalam Nadia, Shaka." jawab bunda dan ayah yang masih menatap keduanya bingung. Nadia dan Arshaka mencium punggung tangan bunda dan ayah mertuanya dengan takzim. Kini pandangan mata kedua orangtua Arshaka fokus pada anak laki-laki yang berada di gendongan Arshaka.


Fafa terbangun dan meminta turun setelah melihat dua orangtua yang berdiri tidak jauh dari mobil menyambutnya.


"Fafa mau tulun, Ayah," pinta Fafa dengan sedikit gerakan tubuhnya yang memaksa dan berontak.


Nadia terharu melihat keramahan bunda dan ayah mertuanya yang menyambut secara baik Fafa sebagai cucunya.


"Siapa namamu sayang?" tanya bunda dengan tersenyum ramah.


"Namaku Atfau Rahendra cucu oma dan opa," ucap Fafa berseru pada opa dan omanya dengan senyum bahagianya. Merasakan kelengkapan keluarganya setelah sekian lama menginginkan keluarga yang lengkap seperti teman-temannya miliki ada ayah, ibu, kakek serta nenek paman juga tante.


"Iya sayang kami adalah oma juga opanya Fafa," balas bunda Maya juga ayah Firman mengenalkan diri pada Fafa.


"Ayo masuk kita ngobrol di dalam! Nggak enak diliat tetangga ngobrol di luar." ajak bunda pada semuanya sambil menggandeng tangan Fafa masuk ke dalam rumah.


"Fafa mau makan dulu atau mau mandi dulu?" tanya oma Maya.

__ADS_1


"Biarkan Fafa mandi dulu, Oma. Biar wangi baru kita makan sama-sama." ucap opa Firman menimpali obrolan antara oma dan cucunya.


"Ya sudah Fafa mandi dulu sabao sama mama ya! Perintah omanya.


" Bunda oma, Fafa memanggilnya bukan mama."


"Oh ya Fafa mandi sama bunda Nadia, Sayang." Bunda Maya meralat panggilan untuk Nadia bundanya Fafa.


Arshaka membawa koper bawaannya yang di bantu pak Lukman dan asisten rumahnya untuk di bawa ke atas di kamar Arshaka tuan muda mereka. Semua barang-barang telah di pindahkan, sementara Arshaka turun ke bawah menemui orangtuanya menemani ngobrol sembari menunggu Nadia dan Fafa selesai mandi. Ia minum jus alpukat dan madu buatan bundanya.


Setelah mengaduk jus buah yang menjadi kesukaanya, Arshaka menyesapnya lalu meletakkan kembali ke atas meja. Bunda Maya menatap putranya dengan sorot mata penuh arti ada banyak pertanyaan yang ingin mereka tanyakan, sebagai orangtua mereka berhak tahu akan masalah pribadi juga apa yang terjadi antara Arshaka dan Nadia. Takut mereka melakukan kesalahan fatal terlebih jika mereka belum memiliki ikatan pernikahan.


"Shaka, Apa kau Nadia sudah__?" bunda menjeda pertanyaannya yang menurutnya lebih pribadi. Takut menyinggung perasaan putranya, lalu menatap kedua wajah orangtuanya bergantian.


"Bunda mau tanya apa?" tanya Shaka sambil mengaduk minumannya dengan sedotan. Bunda Maya melirik suaminya Firman membuka kacamata bacanya menaruh buku dari tangannya di atas meja.


"Shaka bagaimana hubungan mu dengan Andrea? Ayah tidak ingin ada masalah baru yang nantinya akan menjadi lebih rumit dan menyulitkan hubungan mu dengan Nadia. Dan kenapa kamu tidak jujur pada kami sejak awal jika Nadia adalah janda anak satu? Apa selama ini kami melarang mu melakukan apapun terlebih jika itu menyangkut masa depan mu.''


Arshaka diam mendengar ucapan ayahnya yang juga mewakili dari pertanyaan bundanya, yang tidak mampu ia utarakan. Arshaka menatap wajah ayah juga bundanya dengan tatapan bersalah, meraih telapak tangan bundanya lalu mencium buku jarinya.


"Shaka mohon maafkan kami ayah, bunda karena tidak jujur sejak awal. Tapi Shaka punya alasan tersendiri ayah untuk menunda mengatakan ini ketika ayah dan bunda mengunjungi rumah Nadia saat meninggalnya ayah Nadia tiga tahun lalu." terang Arshaka menjelaskan pada orangtuanya yang menurut pemikirannya itu benar.


"Oma... Opa....!" panggil Fafa pada keduanya yang telah rapi dan wangi dengan baju gantinya. Firman segera meraih tubuh gembul Fafa dalam pangkuannya.


"Opa kuat angkat aku? Kan Fafa gendut," Seloronya membuat semua tertawa lucu.

__ADS_1


__ADS_2