Cinta Tianda Ganti (Ketika Cinta Datang Dan Pergi)

Cinta Tianda Ganti (Ketika Cinta Datang Dan Pergi)
Mutasi


__ADS_3

Nadia melihat Dokter Sonya keluar dari ruangan suaminya dengan wajah binarnya. Menghampiri Nadia yang masih duduk di bangku taman menunggu pak Lukman datang menjemputnya. Sonya memeluk Nadia dengan matanya yang berkaca-kaca seraya mengucapkan kata terima kasih padanya.


"Bu Nadia terima kasih sudah memaafkan saya. Dan dokter Shaka juga tidak memecat saya tapi saya akan di mutasi untuk tugas di rumah sakit yang telah ditentukan langsung dari dinas kementrian kesehatan."


Nadia mengangguk mengendurkan pelukannya menatap Sonya.


"Dokter Sonya memang layak mendapatkannya. Karena kemampuan kinerja dokter memang patut diapresiasikan." Arshaka melangkah keluar mendekati dua wanita beda profesi itu, dengan akrabnya setelah kejadian yang tidak mengenakan tempo lalu.


"Ambil ini kembali," ucap Arshaka menyerahkan kembali amplop putih yang diyakininya adalah surat resign yang Sonya tulis untuknya. Sonya meraih kembali surat resign nya dati tangan Arshaka.


"Bunda....!!" teriak Fafa setengah berlari menghampiri bundanya.


"Hati-hati sayang jangan lari nanti jatuh!" cegah omanya memperingatkan Fafa.


"Sayang!" Nadia memeluk Fafa dan mencium pipinya gemas.


"Aku kangen bunda dan ayah," ucap Fafa dengan nada manjanya.


"Maafin bunda dan ayah sudah buat Fafa rindu," kekeh Nadia pada ucapannya.

__ADS_1


"Hai, Fafa ganteng!" sapa Sonya melambaikan tangan ke arah bocah imut dan gembul di depannya.


"Hai, tante dokter. Tante teman ayahku?'' tanya Fafa polos.


"Iya. Tante adalah teman kerja ayah Fafa. Fafa juga mau jadi dokter kalo sudah besar nanti? tanya Sonya mengakrabkan diri.


"Nggak mau Fafa mau jadi polisi aja. bial bisa lindungin bunda dan ayah dali olang jahat.'' selorohnya spontan membuat orang di sekitarnya terkekeh lucu akan jawaban jujur Fafa yang apa adanya. Sonya pun pamit pada semua untuk membereskan semua barang yang ada diruangannya. untuk di kemas kedalam kardus.


"Ayah boleh tidak Fafa pelgi jalan-jalan sama bunda dan oma?" tanya Fafa penuh harap agar ayahnya memberinya izin.


"Eee... Boleh tidak ya!" ujar Arshaka nampak berpikir.


"Boleh ya, Yah... Boleh ya!" rengeknya sambil menarik-narik lengan ayahnya.


"Syalat apa ayah?"


"Fafa harus janji nggak boleh bikin bunda dan oma capek!" pesannya pada putranya yang selalu membuat hatinya hangat setiap kali dekat dengan Fafa meski bukan anak biologisnya.


"Oke, Ayah!" ucap Fafa mencium pipi ayahnya dan memeluknya.

__ADS_1


"Kalo gitu Fafa siap-siap jalan-jalan sama oma dan bunda. Ayah harus pergi sekarang." pamitnya pada putranya seraya menciumi wajah dan pipi chubbynya. Arshaka pun pamit pada bundanya dan mencium punggung tangannya penuh hikmad.


"Hati-hati, mas!" pesan Nadia pada suaminya. Arshaka mengangguk seraya mencium kening Nadia. Arshaka berjalan menjauh menuju loby memeriksa mobil dinas rumah sakit yang akan membawa obat-obatan yang diperlukan serta alat medis lainnya.


**


"Tante boleh ikut jalan-jalan Fafa tidak?" tegur Tantri tiba-tiba dari arah belakang mereka berdiri.


"Tante....!" teriak Fafa antusias.


"Tantri! Ko tahu kalo mba ada disini?" tanya Nadia bingung, darimana adiknya tahu jika Nadia ada di rumah sakit.


"Tadi aku sempat mampir ke rumah bunda Maya, mba. Tapi kata mba yang kerja di sana, mba Nadia ada di rumah sakit ya udah aku langsung kesini. Mba Nadia tek' dung ya?'' bisiknya di telinga Nadia sambil tertawa lucu menahan kekehannya sendiri. Sementara Nadia menajamkan kedua matanya menatap adiknya Tantri.


"Tek dung? Apa itu Tantri?!''


tanya Nadia bingung tidak mengerti maksud ucapan adiknya.


Bunda Maya yang tidak sengaja mendengar ungkapan bahasa gaul adik dari menantunya langsung tertawa jenaka.

__ADS_1


"Nadia kamu itu benar-benar polos sekali. Tek dung itu artinya Hamil." Bunda Maya dan Tantri terkekeh akan mimik wajah Nadia yang merah karet menahan malu.


Akhirnya Nadia pun tersenyum meski sedikit menahan rasa malu.


__ADS_2