
Sesampainya di rumah bunda Maya langsung segera masuk menuju dapur meraih gelas kosong dan mengisinya dengan air putih dan meneguknya hingga tandas. Sedangkan Nadia masih sibuk membawa kantong belanjaannya ke dapur yang di bantu Titin juga pak Lukman.
"Nadia, sudah biar Titin yang melanjutkan kamu istirahat saja di kamar Shaka. Titin antar calon menantu ku Nadia ke kamar Shaka, biarkan dia istirahat sambil menunggu Shaka pulang."
"Baik nyonya. Mari mba Nadia saya antar ke kamar Mas Shaka." ajak Titin menju anak tangga.
"Terima kasih," ucap Nadia mengikuti langkah Titin menuju lantai atas.
Titin membukakan pintu kamar Arshaka, mempersilahkan masuk dan istirahat di dalam.
Nadia mengayunkan langkah kakinya masuk ke kamar Arshaka yang terlihat bersih dan rapih. Ada banyak buku-buku tebal yang tertata rapih di rak yang Nadia lihat di sudut ruangan. Lengkap dengan meja dan kursi yang tepat berada di samping jendela yang menghadap langsung dengan taman belakang. Satu persatu pandangannya menyusuri setiap benda yang bernilai jual di sekelilingnya, Nadia duduk diatas ranjang king size milik Arshaka. Dan merebahkan tubuhnya yang lelah setelah hampir setengah hari berada di mall, ia pun terpejam dalam seperkian detik telah terseret ke alam bawah sadarnya.
***
Pukul 4 sore Arshaka keluar dari loby rumah sakit setelah memastikan kondisi terakhir Andrea baik-baik saja, setelah hampir satu jam Arshaka menemani Andrea ngobrol dan menyuapinya sebelum Arshaka memberikan obat untuknya. Ia pun beranjak pergi setelah Tania datang menggantikan Arshaka menjaga Andrea.
"Shaka saya tidak akan membiarkan putriku Andrea bersedih karena kau lebih memilh janda miskin itu," ancam adri yang tidak main-main dengan ucapannya. Melihat mobil Arshaka yang telah jauh meninggalkan area rumah sakit.
Di mobil Arshaka mempercepat laju kemudinya menyisir jalan kota yang masih terlihat ramai. Secepatnya ia ingin tiba di rumah yang sudah tidak sabar ingin segera menemui kekasihnya. Selama di rumah sakit hatinya selalu teringat pada satu nama yaitu Nadia yang masih berada di rumah bundanya.
Mendengar suara mesin mobil yang masih berderu di depan gerbang, pak Lukman segera membuka pintu besi berwarna biru gelap itu dan membuka selebar-lebarnya.
"Terima kasih pak Lukman!" ucap Arshaka,"
Angguk Pak Lukman sembari menutup pintu gerbang kembali dan menguncinya.
Den Shaka sepertinya sedang bahagia pasti karena Non Nadia. Emang cantik banget istrinya pak dokter.
Gumam Pak Lukman yang juga mengakui jika calon istri tuan mudanya sangat cantik dan baik dengan siapa saja temasuk pada para pekerja dan asisten rumah.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum, Bunda!"
"Waalaikumsalam, Shaka!" Arshaka mencium punggung tangan bundanya dengan hikmad.
"Cari siapa? Nadia? Masih diatas jangan di ganggu biarkan Nadia tidur Shaka, dia pasti lelah menemani bunda belanja." cegah bunda yang memang sudah tahu apa yang sebenarnya putranya cari dari sorot matanya.
"Bunda khawatir banget Shaka gangguin calon menantunya," goda Arshaka sambil mencomot kue buatan bundanya yang baru keluar dari oven.
"Cuci tangan dulu, Shaka! Pak dokter ko jorok sekali," cibir bundanya memukul punggung tangan Arshaka.
"Sudah di steril bunda masih bersih," Arshaka lari menuju anak tangga setelah berhasil mencomot kue dan memasukkan nya ke dalam mulutnya.
"Dasar, Dokter nakal!" umpat bunda Maya kesal.
Di lantai atas Arshaka membuka pintu kamarnya yang tidak di kunci dari dalam, Arshaka melangkah masuk menarik sudut bibirnya membentuk senyum tipis. Dilihatnya wanita tercantik baginya tidur penuh damai, Arshaka duduk di tepi ranjang memandangi wajah manis Nadia mengusap rambutnya lembut.
Tiba-tiba Nadia meraih tangan Arshaka yang tadi mengusap lembut pucuk kepalanya dan memeluk lengan kekarnya ke dalam dekapannya.
Bayangan Nurdin orangtua Nadia seakan nyata, yang hadir di dalam mimpinya memeluknya dengan erat hatinya seketika menghangat akan kehadiran bapaknya yang seolah nampak nyata di matanya bahkan ada dalam pelukannya.
"Aku tidak akan membiarkan mu sendiri, Nadia. Aku akan selalu ada untuk mu menemani mu menghabiskan sisa waktu ku dan usiaku hanya dengan mu seorang, Sayang." kecupnya di kening Nadia.
Lambat laun Nadia merasakan sebuah keanehan menjalar di tubuhnya. Sentuhan lembut yang tidak asing baginya bahkan aroma parfum dan keringat yang menguar khas maskulin yang Nadia sangat hafal aroma wanginya. Perlahan ia mengerjapkan kedua matanya dan, mengedip-ngedipkan matanya yang masih sedikit berat karena kantuk yang masih terasa.
"Mas Shaka!" kejut Nadia segera melepaskan diri dari pelukan pria tampan yang berjanji akan menikahinya secepatnya.
__ADS_1
"Tadi kamu bermimpi Nadia dan kamu memeluk ku sangat erat. Dan kamu memanggilku bapak, lantas aku membalas memeluk mu.'' ucap Arshaka jujur menyelipkan anak rambut di belakang telinga Nadia.
''Maaf, Mas ternyata aku terbawa mimpi. Jam berapa mas ini? Aku harus mandi dan menjemput Fafa," tutur Nadia sedikit malu.
"Bersiaplah aku akan menunggu mu di bawah!" perintah Arshaka beranjak dari ranjang dan keluar dari kamarnya dan memilih mandi di toilet yang berada di bawah.
🍁🍁🍁
Di sisi lain Kania menemui Permadi di kantornya yang kini telah berpindah di kantor pusat. Dan kebetulan Permadi baru saja keluar dari ruang meeting secara bersamaan dengan beberapa klien yang hendak menuju ruangannya. Mereka saling berjabat tangan setelah akhirnya mereka berpisah di ruang informasi.
Setelah tamu penting Permadi keluar dari area parkir, Kania segera menyusul langkah Permadi yang akan menuju ke arah pintu lift.
"Mas Permadi tunggu!" panggil Kania mempercepat langkahnya. Permadi yang merasa namanya di panggil memutar tubuhnya menoleh ke belakang.
"Kania!" ujarnya tak percaya mendapati Kania ada di kantor barunya.
Reflek Kania memeluk Permadi tanpa melihat situasi kantor di sisi kanan dan kirinya.
"Kania apa-apaan sih kamu ini kantor, Kania. Jangan bikin aku malu!" tolak Permadi menerima perlakuan agresif Kania.
Permadi melihat di sekitarnya di khawatirkan ada karyawan lain atau rekan seprofesinya yang melihat dirinya akan sikap Kania.
"Aku kangen kamu mas, Kenapa handphone mu sulit di hubungi?" tanya Kania sambil melepaskan pelukannya.
Permadi menarik tangan Kania dan mengajaknya masuk ke dalam setelah pintu lift terbuka. Di Sana Kania kembali memeluk Permadi lebih dari sebelumnya, ada rasa yang Kania sendiri tidak mengerti mengapa dirinya tidak ingin jauh dari ayah calon bayi yang kini bersemayam di rahimnya.
"Kau tahu Kania ini Kantor pusat. Dan semua pegawai perusahaan dari berbagai divisi tahu, jika aku sudah beristri dan bukan kamu orangnya. Termasuk masalah talak dan surat perceraian itu," tegasnya memperingatkan Kania.
"Aku tahu, Aku itu mas. Satu hal yang harus kamu tahu mas aku__"
__ADS_1
Belum usai Kania berucap pintu lift telah terbuka, keduanya keluar. Di depan pintu lift pun sudah ada beberapa karyawan yang sudah menunggu giliran untuk masuk. Mengantar pada tujuan mereka masing-masing sesuai kesibukan dan rutinitas setiap harinya.