
Sinar pagi memancarkan semburat cahaya hangat menyapa insan yang lelap dalam lelah juga mimpinya, berharap helaan bayu menyentuh memberi kabar bahagia. Permadi masih berhelat dengan dunia mimpinya tubuhnya yang lemas serta kepalanya yang pusing dan berat membuatnya enggan bangun dari peraduannya. Sesekali menggeliat menahan perih di wajah serta sudut bibirnya.
Pagi ini Nadia akan mengajak Fafa putranya ke rumah lama mereka yang dulu pernah ia tinggali bersama keluarga kecilnya, rumah yang di hadiahkan sebagai kado pernikahan Nadia dan Permadi.
"Sayang, Fafa sudah sehat, Nak?" senyum Nadia dengan suaranya yang menyamai balita, menggoda dan mencubit dagu mungil putranya.
Nadia memandikan Fafa setelah rapi dan wangi, ia meminta Tantri menjaganya sebelum Nadia pergi mandi. Setelah rapih Nadia membereskan barang serta baju ganti Fafa dan juga obat demamnya. Nadia pamit pada Ayahnya yang berada di teras dengan segelas kopi hitamnya.
"Bapak, Nadia pamit pulang dulu ke rumah." Pamit Nadia dengan tangan yang sibuk mengaitkan kain selendangnya menyangga tubuh mungil Fafa. Nurdin bangkit dari duduknya mendekati cucunya yang berceloteh lucu berada dalam gendongan Nadia.
" Fafa sini, Nak cium kakek dulu sayang!" meraba pipi gembil Fafa dan mengusap lembut kepala Fafa yang sudah terbungkus topi karakternya.
"Fafa jangan nangis! Jangan demam lagi nanti bundamu sendih!pesan Nurdin pada cucunya yang seolah mengerti ucapan kakeknya yang di balas tawa ocehannya.
Tantri yang sudah siap dengan motor maticnya segera mengantar Nadia dan keponakannya.
"Hati-hati Nadia, Tantri pelan-pelan bawa motornya!" ujarnya mengingatkan pada dua putrinya.
"Siap pak!" seru Tantri seraya menyalakan mesin motor dan memutar gas.
...****************...
Permadi mengedipkan kedua matanya tidurnya yang terganggu oleh cahaya matahari yang seakan menusuk mata. Silau biasnya yang menelusup masuk melalui celah ventilasi membangunkan dirinya dari alam bawah sadar.
Ia duduk sembari memegangi bibirnya yang lebam mengumpulkan tenaga serta kesadarannya sebelum henyak dari ranjang. Mengingat kejadian bagaimana dirinya bisa ada di rumah lamanya dan siapa yang membawanya pergi dari club malam itu. Ia ingat sebelumnya ia juga memuntahkan semua isi perutnya hingga tubuhnya terkapar lemas dan tertidur.
Tapi kenapa setelah ia bangun tidak ada sisa-sisa kotoran di lantai ia pun tidak ingin berfikir lebih keras lagi dan menganggapnya sebagai mimpi. Permadi bangun dari duduknya meraih handuk yang tergantung di hanger melesat ke dalam segera mengguyur tubuh lelahnya di bawah rincikan air shower, tubuhnya terasa sangat segar kepalanya yang sebelumnya berdenyut kini sedikit berkurang.
Setelah menyelesaikan ritual mandinya Permadi mencari baju gantinya yang sedikit sulit baginya. Biasanya Nadia yang selalu menyiapkan semua kebutuhan Permadi mulai dari bangun tidur sampai kembali tidur lagi. Sibuk mencari barang yang sulit di temukan Permadi berdecak kesal tanpa sadar Permadi memanggil nama Nadia.
__ADS_1
"Nadia! Dimana celana dal_'' Permadi menjeda ucapnya. Ia baru menyadari jika dirinya hanya seorang diri sejak ia terbangun dari tidur.
Permadi termangu menatap tumpukan pakaian yang masih tertata rapi di barisannya. Tiba-tiba Nadia berdiri di sampingnya memberikan barang yang di carinya tanpa bersuara. Permadi nampak bingung kenapa Nadia bisa ada di dalam kamar.
Nadia memberikan baju ganti padanya, tidak mungkin Permadi ke kantor dengan kondisi wajah lebam untuk itu ia memberi baju santai pada Permadi mantan suaminya. Nadia memberikan kaos dan celana jeans pendek miliknya lalu Nadia keluar memberi kesempatan pada mantan suaminya mengganti pakaian.
Nadia pun enggan bertanya pada Permadi tentang masalah apa yang terjadi pada mantan suaminya. Nadia melirik Fafa yang tertidur pulas di atas ranjangnya sebelum akhirnya Nadia keluar.
🌼🌼🌼
Sementara Dita masih mencerna semua dalam ingatannya apa yang dilihatnya malam itu siapa laki-laki yang bersama Nadia, jika pria itu cuma dokter yang hanya datang untuk mengobati Fafa cucunya. Dita merasa seperti ada hubungan spesial antara Nadia dan dokter yang pernah menangani besannya.
Dita berfikir akan menyelidikinya sendiri, setelah menyiapkankan sarapan suami dan mengantarkan sampai depan sebelum berangkat kerja. Dita bersiap ke rumah Permadi memastikan jika putranya baik-baik saja dan bersiap pergi ke kantor. Dita meminta Sobri mengantarkan ke rumah Permadi.
"Pak Sobri, tolong antarkan saya ke rumah Permadi!" pintanya seraya meraih tas di kamar.
"Baik bu, Dita! Sobri mengeluarkan mobil dari garasi.
Nadia menyapa mama mertuanya, Permadi melirik sekilas dan menyambut kehadiran mamanya yang baru tiba.
"Mamah!" sapa Nadia dan Permadi bersamaan. Nadia meraih tangan Dita dan mencium punggung tangannya bergantian.
Dita menatap Nadia dengan tatapan yang tak biasa dengan sikapnya yang terkesan menjaga jarak. Dita masuk kedam rumah duduk di kursi ruang tamu Nadia dan Permadi saling melempar pandang.
"Kenapa, kalian heran lihat Mama pagi-pagi ke sini?" mama Dita menari sudut bibirnya sediki ketus.
"Ehh, bukan ma. Biasanya mama telpon dulu kalo mau kesini". ucap Permadi gugup. Nadia terdiam dengan sikap bicara mertuanya.
"Mama kangen sama cucu. Kenapa muka kamu Di, biru lebam gitu?" tanya Dita pura-pura tidak tahu. "Enggak ngantor, Di? tanyanya lagi yang hanya di balas gelengan kepala.
__ADS_1
" Biasa Ma, nyetir ngantuk banyak masalah di kantor." jawabnya bohong.
Dita menatap Permadi pias. Nadia keluar dengan membawa dua cangkir teh untuk ibu mertuanya dan Pak Sobri yang sedang mengelap kaca mobil dan memintanya untuk duduk di kursi teras.
"Nadia bawa ini masuk!" ketus mamanya, menyerahkan rantang makan pada menantunya. Nadia meraih bekal dan meletakkannya di meja makan dan menatanya di piring.
"Nadia, mama mau ajak Fafa ke rumah mama, siapin barang-barang Fafa!" Dita meraih Fafa dari tangan Permadi."
"Tapi Ma, Fafa baru sehat semalam demam." ucap Nadia sedih.
"Kalo semalam Fafa sakit kenapa tidak hubungi mama atau Permadi?" tanya mamanya dengan sorot mata penuh selidik.
" Maaf ma, Nadia tidak mau mama dan mas Permadi cemas. Nadia takut ganggu pekerjaan mas Permadi." kilahnya mencari alasan tepat menghindari kecurigaan yang mulai nampak di wajah mertuanya.
"Tapi Permadi harus tahu kalo Fafa sakit dia kan ayahnya." melirik Permadi sekilas di sampingnya. Mendengar ucapan mamanya Permadi merasa bersalah kerumitan dan kekacauan dalam rumah tangganya dia sendirilah yang memulainya.
Tiba-tiba saja tetangga Nadia lewat di depan rumahnya yang hendak pergi ke warung untuk membeli sesuatu, menyapa Nadia yang masih berada di teras bersama Dita dan Permadi.
"Eh, mba Nadia sudah pulang di antar ibu mertua lagi, bikin iri aja deh mba Nadia, tapi tumben mba Nadia di rumah mau ada acara ya mba?" tanyanya yang hanya di balas anggukan kepala Nadia. Nadia di buat bungkam dan Salah tingkah begitu juga dengan Permadi yang merasa kebohongan- nya semakin tercium.
"Eh, iya mba Fitri maaf saya mau kebelakang sebentar." pamit Nadia menghindari cecaran pertanyaan dari tetangganya. Nadia dan Permadi mendapatkan sorotan tajam dari mamanya yang di ikuti langkah Permadi masuk kedalam.
"Saya juga permisi bu Dita, mau ke warung." ujarnya yang mendapat balasan dari Dita.
Kecurigaan semakin nampak dirasakan oleh Dita seperti ada yang mereka tutup-tutupi dari mereka. Dita pun geram di buatnya secepatnya Dita meminta penjelasan pada mereka, tentang ucapan tetangga Nadia yang barusan di dengarnya. Dita merasa kesal dan masuk memanggil Nadia dan Permadi yang sudah duluan kabur dari introgasi. Mamanya mengetuk pintu kamar mereka yang sudah di kunci Permadi dari dalam.
"Permadi, Nadia, buka pintunya! Mama mau ngomong sama kalian." teriak Dita yang menggendong Fafa dalam pelukannya.
"Besok saja, Ma! Ngomongnya katanya mama masih sanggup kalo Fafa punya adik." seloroh Permadi yang medapat sorotan mata tajam Nadia. Dita pun semakin kesal di buatnya. Fafa yang berada di gendongan Dita minta turun berjalan mencari botol susunya.
__ADS_1
"Mama tahu kalian bohong!" Dengusnya seraya menjauh dari pintu kamar mencari Fafa dan mengajaknya pulang ke rumah Opa Sapto.
Mereka baru keluar dari kamar setelah mendengar mobil mamanya pergi dan jauh dari area rumahnya. Nadia dan permadi kembali saling berjauhan satu sama lain. Tidak lama kemudian Kania datang menemui Permadi dan mengajaknya pergi hanya untuk membahas kelanjutan hubungan mereka di taman biasa mereka berjumpa.