Cinta Tianda Ganti (Ketika Cinta Datang Dan Pergi)

Cinta Tianda Ganti (Ketika Cinta Datang Dan Pergi)
Surprise Untuk Nadia Dan Arshaka


__ADS_3

”Nadia! MasyaAllah cantik sekali istriku kalo pakai hijab,” suaminya tersenyum seraya mengecup kening istrinya penuh lcinta.


”Apa aku pantas memakainya?” tanya Nadia sambil melihat penampilannya.


”Sangat indah jika istriku yang memakainya. Jadi sudah siap ceritanya?” Arshaka menggoda Nadia mencapit dagunya gemas.


”Kalo nunggu siap, kewajiban seorang wanita muslim menjaga dirinya dari dosa mata akan terabaikan. Terlebih jika wanita itu sudah bersuami, dia akan menjaga perhiasan suaminya agar lebih terjaga.” Arshaka meraih tubuh istrinya memeluknya penuh rasa cinta dan sayang hingga kedua


matanya berkaca-kaca.


”Terima kasih sayang. Sudah menjaganya untuk Ku.” Istrinya tersenyum mengangguk. Arshaka mengusap perut istrinya yang belum terlihat menonjol dengan lembut. ”Kita kedokter sekarang. Aku sudah tidak sabar ingin melihat zuriat yang Tuhan amanahkan pada kita,” Dia membungkukkan tubuhnya, mencium perut istrinya yang masih rata.


Pasanga suami istri yang tengah berbahagia itu berjalan menuju pintu depan, dimana mobilnya diparkir.


Nadia masuk kedalam mobil, Arshaka memutari mobilnya membuka pintu depan kemudi dan berlalu meninggalkan area halaman menuju rumah sakit yang sesuai bunda Maya minta.


”Kita akan kerumah sakit mana mas? Sepertinya ini bukan jalan menuju rumah sakit kita?” tanya Nadia mengamati jalanan di depannya.


”Benar, Sayang. Bunda merekomendasikan rumah sakit Obgyn terbaik di Jakarta. Ya kita ikuti saja apa kata ayah dan bunda, mereka pasti menginginkan yang terbaik untuk cucunya.” ujarnya tersenyum mengelus perut Nadia, yang masih tetap fokus mengemudikan mobilnya.


Ya Allah dalam dekapan rahmat mu aku merasa sangat istimewa. Terima kasih atas segala nikmat yang kau berikan kepada kami.


Nadia berucap syukur atas kebahagiaan yang kini dirasakannya. Senyum tipis menatap perutnya yang masih terlihat biasa, dan belum menunjukkan tanda kehamilan pada umumnya. Yang mengalami muntah di pagi hari atau morning sickness, ngidam manja yang umum dialami wanita hamil muda yang menginginkan atau menolak sesuatu.


Arshaka mengerutkan keningnya bingung. ”Apa benar ini rumah sakit yang bunda katakan?” memicingkan matanya heran menyapukan pandangannya mencarinya sesuatu.


”Ini bukan seperti rumah sakit mas tapi sebuah gedung khusus wedding organizer.” ucap Nadia menatap gedung yang telah di tata indah dengan segala hiasan karangan bunga.


Nadia menatap takjub saat sekelompok pekerja beseragam mengangkat karangan bunga paling besar bertuliskan,

__ADS_1


Happy Wedding Arshaka Sakti Bimantara Dan Nadia Chamelia.


“Mas, lihat itu!“ Nadia menunjuk jarinya kearah karangan bunga yang di geser di depan pintu utama gerbang gedung.


“Jadi ayah dan bunda sengaja membuat kejutan untuk kita, sayang!“ seru Arshaka menuntun langkah istrinya masuk kedalam.


“Tuan dan Nyonya Arshaka. Anda sudah di tunggu di dalam, mari Saya antar!“ ujar panitia event wedding organizer menuntun langkah mereka masuk kedalam gedung.


“Ayah, Bunda....!“ seru Fafa lari menghampiri kedua orangtuanya dengan pakaian yang keliatan tampan dan gagah.


“Shaka, Nadia! Cepat kalian sudah harus di make over. Pelayanan cepat bawa mereka keruangan!“ perintah bunda Maya.


“Bunda! Jadi ini semua adalah ide dari rencana bunda?“ Shaka sungguh terkejut akan rencana bundanya diluar dugaannya.


“Iya, Tentu saja, karena kalian sudah memberikan kado terindah pada kami. Maka ini adalah surprise untuk kalian dari ayah juga bunda.“


“Terima kasih, Ayah, Bunda untuk semuanya.“ ucap Nadia bahagia.


“Sama-sama, sayang!“ balas ibu mertuanya mengelus perut Nadia yang masih rata.


Nadia dan Arshaka mulai dirias oleh mike up artis yang merupakan satu paket dari WO, yang sudah menjadi brand kepercayaan keluarga bunda Maya dan Hanna adik sepupunya.


Gaun putih cantik yang Nadia pakai begitu cantik dan anggunnya, dipadukan dengan kerlip indah manik di setiap rendah dan bordirannya yang berkelas. Hanna sempat mengganti gaun sebelumnya dengan model yang baru dengan nuasa religi. Arshaka tidak ingin keindahan tubuh istrinya dinikmati banyak mata serta tidak ingin Nadia menjadi pusat perhatian terutama kaum adam yang melihatnya.


“Nadia, makan dulu sayang!“ ujar bunda Maya membawa nampan berisi makanan, minuman dan buah.


“Tapi Nadia belum lapar bunda,’’ menolak karena perutnya belum lapar.


“No.. No... Kamu harus makan, Sayang. Nanti kamu bisa lapar dan lemas karena acaranya bisa sampai siang atau malam nanti. Bunda tidak ingin kamu dan calon bayimu terjadi sesuatu.“ papar bunda Maya mengingatkan, jika sekarang Nadia tidak makan sendiri. Tapi ada nyawa yang harus dia jaga dengan sangat hati-hati.

__ADS_1


“Baik bunda,“ ucapnya meraih nampan dari tangan bundanya. Tapi bunda Maya menepiskan nampannya jauh dari tangan Nadia.


“Kali ini bunda yang akan menyuapimu, Sayang.“ meletakkan nampan itu dimeja dekat Nadia duduk.


“Tapi, Bunda__“ jedanya merasa tidak enak.


“Sstt! Kali ini turuti bunda!“ Nadia tersenyum mengangguk, membuka mulutnya. Menerima suapan dari tangan ibu mertuanya hingga matanya pun berkaca-kaca.


“Jangan menangis sayang! Kamu pasti ingat ibu dan ayah mu bukan?“ angguk Nadia sedih. Nadia menghabiskan makanannya hingga tandas perutnya yang tadi rata jadi terlihat lebih berisi karena kenyang.


Semua tamu undangan mulai berdatangan memenuhi ruang gedung menikmati jalannya acara. Penghulu dan yang lainnya telah menunggu di altar gedung untuk memulai acara sakral.


Untuk yang kedua kalinya Arshaka melafazkan ijab qabulnya, kali ini pernikahannya tidak hanya sah dimata agama tapi diakui secara hukum negara yang secara tertulis.


Setelah keduanya menandatangani dokumen penting dan membacakan do'a pada pasangan mempelai. Kini acara foto keluarga diatas panggung untuk mengabadikan momen indah mereka.


Ada guratan kesedihan yang nampak jelas ketika foto keluarga berlangsung, dan di saksikan oleh keluarga Permadi dan keluarganya.


Rasa ingin memeluk putranya pada Atfa Rahendra Permadi begitu sangat besar. Yang di peluk dan dicium oleh keluarga barunya yang begitu bahagia.


“Mama kangen cucu mama, Pah!“ ucap mama Dita menyeka butiran basah di pipinya.


“Mama, harus sabar mereka pasti mengerti perasaan mama,“ ujar Sapto suaminya menenangkan istrinya.


“Kamu nangis, Mas?“ tegur Kania membuyarkan lamunan Permadi.


“Papa! Kenapa menangis?“ tanya Karin dengan polosnya.


“Papa nggak nangis ko, Sayang!“ ucap Permadi bohong mengusap sudut matanya.

__ADS_1


__ADS_2