
Adri merasakan tubuhnya menggigil kedinginan mengigau menyebut nama Andrea. Hawa dingin dari lantai penjara tanpa selembar alas tikar ataupun karpet terasa menembus kulit tubuh serta tulangnya.
Tidur meringkuk memeluk lututnya, sesekali menepuk pipi serta kakinya yang dihinggapi nyamuk kelaparan.
”Dingin....dingin. Andrea Papa sakit, Nak.” rintihnya mendekap tubuhnya sendiri dalamening sunyi dan dinginnya malam.
Beberapa orang sipir yang bertugas piket malam, mondar-mandir memeriksa ruang sel penjara untuk memastikan keamanan para
tahanan.
”Lapor inspektur, ada tahanan yang mengalami demam tinggi.” lapor sang sipir memberi tahu salah satu tahanan yang sakit.
”Kita periksa sekarang dan hubungi dokter dinas sekarang!”
”Siap inspektur!” ujar sang sipir meninggalkan ruangan.
”Dokter dinas masih menangani pasien tahanan lain, Inspektur. Dua dokter lain membawa pasien tahanan ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan secara intensif.” kata sipir satunya lagi yang juga bertugas malam.
”Terpaksa kita menghubungi dokter Shaka. Mungkin saja beliau di rumah sakit.” pikir inspektur polisi itu yang sedikit mengenal profesi Shaka sebagai seorang dokter.
Deringan telepon rumah yang nyaring menggema memeka ruang tamu. Titin asisten rumah tangga bunda Maya yang baru saja keluar dari kamar mandi dapur, segera mengangkat alat komunikasi temuan Aleksander Graham Bell terebut.
”Hallo, Selamat malam! Dengan siapa saya bicara?”
”... ”
”Baik, Pak!”
Titin terpaksa mengganggu jam istirahat tuan mudanya yang tengah lelap bersama istrinya. Mau tidak mau dia harus mengetuk pintu kamar tuan mudanya.
__ADS_1
Tokk... Tokkk...
Suara ketukan pintu kamar Shaka yang diketuk dari luar, Nadia mengerjapkan matanya mencari sumber suara. Menyingkirkan tangan suaminya yang tidur memeluk perutnya yang sudah terlihat menonjol.
”Maaf Bu Nadia, Titin ganggu istirahat ibu.” ucap Titin tidak enak hati.
”Tidak apa-apa mba Titin! Katakan saja ada mba?” tanya Nadia dengan suaranya yang lembut.
”Ini bu tadi ada__” Titin menjeda ucapannya, terdengar suara parau tuan mudanya mencari istrinya.
”Sayang kamu dimana?” tanya suaminya meraba-raba disampingnya tidur mencari sosok wanita yang membuatnya nyaman.
”Aku disini sama mba Titin mas.” jawab Nadia dari luar kamar tepatnya di depan pintu kamarnya.
Shaka turun dari ranjangnya menyusul istrinya di luar, membuka pintu kamar.
”Maaf Den, Shaka.”
”Ada telepon dari kantor polisi mas. Katanya Mas Shaka diminta ke kantor polisi sekarang ada tahanan yang sakit dan butuh pertolongan.” jelas Nadia menyampaikan pesan dark asistennya.
”Hari ini juga sayang?” tanya suaminya lagi.
”Iya, Mas. Sepertinya emergency sekali.” jawab Nadia menyiapkan semua yang suaminya butuhkan.
Shaka melihat jam dinding yang menggantung di dinding kamarnya sudah menunjukkan pukul sebelas malam.
”Sayang nggak usah tunggu mas datang. Mas sudah bawa kunci cadangan. Istirahat, tidur dan jangan bergadang!” larang Shaka memakai jas kebesarannya yang dibantu istrinya. Mengusap perut buncit Nadia lalu menciumnya lembut. ”Sayang bobo ya, jangan ajak bunda tidur lewat tengah malam. Nanti bunda bisa sakit.” Nadia tersenyum geli melihat tingkah suaminya yang bicara pada makhluk kecil di dalam perutnya. Ditambah lagi Shaka menciumi perutnya berkali-kali membuat kulit tubuhnya meremang.
...***...
__ADS_1
Setibanya di kantor polisi, Shaka diantar sipir menemui pasien tahanan.
”Maaf sekali dokter Shaka. Saya terpaksa menghubungi Anda di jam istirahat malam-malam begini, ada tahan yang mengalami demam tinggi dan harus segera ditangani.’’ ujar inspektur polisi melangkah mensejajarkan posisi berjalan menuju ruang khusus.
”Tidak apa-apa, Pak. Ini sudah menjadi tugas dan tanggung jawab saya sebagai seorang dokter.” ucap Shaka menyadari akan profesinya yang harus siap mendapatkan telepon sewaktu-waktu pihak rumah sakit atau orang yang membutuhkan tenaga medisnya.
Betapa terkejutnya Shaka mendapatkan pasien tahanan di ruangan. Ternyata adalah Papa Andrea dari mantan kekasihnya dulu sekaligus orang yang tega menembak anak tirinya yang sudah dianggapnya seperti anak kandungnya sendiri meski bukan dari darah dagingnya.
Ingin sekali Shaka keluar dari ruangan itu dan membiarkan Adri merasakan sakitnya hingga terkapar tak bernyawa di atas brankar. Tapi profesinya yang terikat oleh janji serta sumpah. juga kode etik yang mengharuskan dirinya untuk menolong orang membutuhkan pertolongannya.
”Shaka, Kenapa kau masih mau menolongku? Kenapa tidak kau biarkan saja aku mati karena sakit yang kuderita?”
”Karena Saya adalah seorang dokter. Jika Saya melakukan hal yang sama seperti yang Anda lakukan pada keluarga saya. Lalu apa bedanya saya dengan Anda?” ucap Shaka tanpa lagi basa-basi lalu keluar meninggalkan ruangan khusus pasien tahanan.
...***...
Mendengar langkah kaki Shaka memasuki ruang tengah, membuat bunda Maya terlonjak kaget lalu menyalakan lampu tengah.
”Shaka?! Kamu dari rumah sakit? Bukannya tadi kamu sudah dirumah sejak sore tadi?” tanya bunda Maya pada putranya yang tengah membawa gelas berisi air mineral.
”Iya bunda tadi ada telepon. Ada pasien mendadak yang butuh pertolongan.” jawab Shaka setelah meneguk segelas air yang tersedia di meja. Tanpa lagi menjelaskan yang sebenarnya pada bundanya tentang masalah Adri pasien yang ditanganinya di rutan.
”Ya sudah sana, bersih-bersih dulu! Jangan bikin cucu bunda sakit. Setiap hari mesti diingetin terus.” omel bunda Maya.
”Iya bundaku sayang!” seru Shaka mencium pipi bundanya dan berlalu pergi ke kamar segera membersihkan diri sebelum lanjut tidur bersama istrinya.
Usai menyelesaikan mandi kilatnya Shaka merangkak keatas ranjang perlahan. Membaringkan tubuhnya di samping Nadia tidur, dan masuk kedalam bedcover berbagi selimut. Ditatapnya wajah cantik istrinya yang tidak pernah bosan ia pandang setiap harinya siang dan malam.
”I love you sayang. Terima kasih sudah menjadi istri yang patuh.” ucapnya seraya ******* lembut bibir istrinya, Dan mengusap si kecil dalam perut Nadia yang lelap dalam mimpi indahnya.
__ADS_1