
Shakti menikahlah dengan wanita pilihan ayah. Dia putri dari sahabat ayah, namanya Ameera putri om Alfian dan tante Mahira.
“Apa! Meera?“ tanya Shakti sedikit terkejut.
“Iya. Kenapa memangnya?“ jawab Shaka menatap wajah putranya dan bertanya.
“Meera itu masih anak-anak, Yah. Sama kaya Deera, Shakti masih ingat betul. Dulu om Alfian gendong Meera yang terus saja menangis tanpa mau turun. Menyebalkan sekali anak itu!“
“Tapi usia Ameera tiga tahun lebih tua dariku mas Shakti.“ sanggah Nadeera membela ayahnya.
“Anak kecil tahu apa!“ omel Shakti pada adik manjanya. Yang berdiri di samping memegangi lengan ayahnya.
“Kenapa bukan mas Akhar saja, Ayah? Shakti masih belum mau menikah.“ bantah Shakti tidak ingin di jodohkan.
“Belum mau menikah, tapi masih ingin pacaran?“ tanya Nadia tiba-tiba dari arah belakang membawa teh hangat untuk suaminya. Shakti menoleh kearah sumber suara, wanita yang kini memasuki usia setengah abad, tapi masih terlihat ayu. Meletakkan cangkir panasnya di atas meja tamu lalu menatap putranya sekilas.
“Bunda!“ panggil Shakti dengan tatapan protes.
__ADS_1
Shaka menarik mundur kursi tamu lalu mendudukinya. “Terima kasih, Sayang.“ ucapnya setelah menyesap teh less sugar buatan istri tercintanya. Nadia tersenyum mengedipkan kedua matanya sebagai jawaban, dan duduk di kursi sebelah suaminya.
“Deera! Berangkat sama ayah, atau sama mas Shakti?“ panggil Shakti sedikit keras beranjak dari duduknya, setelah mengenakan sepatu dinasnya. Tubuhnya yang atletis terlihat nampak gagah dengan balutan seragam kebesarannya sebagai abdi negara.
“Iya sebentar, Deera ambil buku tugas!“ jawab Deera merapihkan seragam sekolahnya. Mereka pamit pada kedua orangtuanya sebelum berangkat dan mencium punggung tangannya dengan takzim.
“Bunda, Deera pamit sekolah.“ pamit Nadeera yang disusul Shakti setelahnya.
“Hati-hati, Sayang sekolah yang pintar. Shakti pelan-pelan bawa mobilnya!“ pesan Nadia pada putra kembarnya.
“Shakti! Ayah masih ingin membahas tentang perjodohan mu dengan Meera, Malam nanti.“ ucap Shaka menginterupsi langkah keduanya. Shakti menghentikan langkahnya tanpa lagi menoleh kebelakang dan menjawabnya singkat.
“Huum.“ jawab Shakti malas.
“Assalamu'alaikum,“ ucap Akhar masuk kedalam.
“Wa'alaikumussalam warohmatullahi wabarakatuh!“ jawab semua yang ada diruangan.
__ADS_1
“Baru pulang, Mas? Kasian banget pak dokter, sampai kusut gitu!“ tanya Shakti dengan senyum mengejek menggoda kembarannya. Nadeera hanya menggelengkan kepalanya ringan melirik kedua kakaknya bergantian. Mereka pun berlalu dari pekarangan sebab waktu sudah mepet.
“Akhar, kamu pasti lelah sekali, Nak. Bersihkan dirimu, sarapan, dan istirahatlah!“ ujar Nadia dan Shaka memerintahnya.
“Iya, Bunda.“ jawab Akhar sopan.
“Akhar bagaimana operasi semalam? Apa terjadi masalah? Hingga kau menginap di rumah sakit.“ tanya Shaka melihat wajah lelah putranya. Setelah semalam tidak pulang, dan harus tidur di rumah sakit. Karena ada dua pasien darurat yang harus segera mengambil tindakan operasi.
“Tidak ayah. Semua berjalan lancar berkat doa ayah dan bunda.“ jawab Akhar, mengambil posisi duduk diantara ayah dan bundanya.
“Biarkan Akhar istirahat dulu, yah!“ pinta Nadia pada suaminya memberikan segelas air madu hangat pada Akhar. Ia meraih gelas dan segera meneguknya hingga tandas.
“Terima kasih, Bunda.“ ucapnya, seraya meletakkan gelas kosongnya dan beranjak dari kursi menuju kamarnya di lantai atas.
“Istirahatlah, Akhar! Ayah pergi dulu.“ pamit Shaka setelah menghabiskan tehnya. Seperti biasa Nadia mengantarkan suaminya sampai depan.
Ikuti terus perjalanan cinta mereka, Ya! Dengan judul Cinta Jangan Menyerah! Jangan lupa jejaknya dan dukung terus karyaku. Salam manis dari ^NNM^ Terima kasih🙏.
__ADS_1