Cinta Tianda Ganti (Ketika Cinta Datang Dan Pergi)

Cinta Tianda Ganti (Ketika Cinta Datang Dan Pergi)
Lakukan Saja!


__ADS_3

Andrea dan Ibra melangsungkan pernikahan di gedung yang sudah Adri booking satu bulan sebelum tanggal pernikahan putrinya ditentukan.


Pesta yang cukup mewah yang dihadiri kerabat dari dua belah pihak keluarga. Serta rekan kerja Andrea dan Ibra sebagai dokter, juga kolega bisnis dari orangtua pihak wanita ban pria.


“Andrea, dokter Ibra Selamat atas pernikahan kalian. Semoga pernikahan kalian langgeng sampai kakek nenek. Dan secepatnya diberikan kepercayaan oleh Tuhan.“ ujar Nadia dan Shaka memberikan do'a terbaiknya, pada pasangan pengantin yang telah resmi menjadi suami istri beberapa jam yang lalu yang lalu.


“Terima kasih untuk do'a kalian. Terima kasih juga sudah hadir di sini padahal perutmu sudah besar sekali Nadia. Aku dengar Tantri akan menikah kapan, Nadia?“ tanya Andrea seraya mengelus-elus perut Nadia yang bergerak lucu akibat gerakan aktif si kembar.


“InsyaAllah satu minggu lagi, do'akan saja semuanya lancar dan tidak ada halangan.“ jawab Nadia.


“Maaf.Jika kami tidak bisa hadir di acara pernikahan adik iparmu dokter Shaka. Sepertinya kami masih berada di Bali dan belum kembali dari honeymoon.“ ucap Ibra tidak enak hati.


“Tidak masalah, dokter Ibra. Memang masing-masing kita memiliki kepentingan yang sama dan waktunya pun tidak beda jauh dari acara kalian.“ jelas Shaka memaklumi keadaan yang berjalan bersamaan dengan acara adik iparnya. Nadia dan suami pamit pulang setelah beberapa menit ngobrol memberikan ucapan selamat pada mereka.


“Shaka kenapa buru-buru?“ tanya Tania dan suaminya.


“Maaf tante, om memang seperti ini keadaannya bumil tidak bisa duduk atau berdiri terlalu lama. Si kembar maunya tiduran, apa lagi sudah menginjak usia delapan bulan.“ jawab Shaka melihat kearah perut Nadia yang terlihat semakin besar.

__ADS_1


Ada rasa tidak tega tiap kali melihat Nadia yang nampak kesulitan berjalan ataupun bangun dari ranjang yang mengeluh sakit video punggungnya.


“Terima kasih, Nak Shaka sudah hadir di acara pernikahan Andrea. Sebaiknya Nadia secepatnya pulang kasihan jika terlalu lama berdiri dia pasti lelah.“ ujar Tania tidak tega melihat Nadia dengan perut besarnya. Diusia kandungannya yang semakin besar, apalagi sudah menginjak usia delapan bulan.


Sebaiknya Ia tidak melakukan perjalanan yang menganggu kenyamanan. Dan ada baiknya jika ia berada dirumah saja mengingat sering terjadinya kontraksi palsu pada si kembar.


“Mba Nadia baru pulang? Ya ampun itu si kembar kemana-mana ngikut terus. Aku jadi takut kalo si kembar brojol di jalan.“ seloroh Tantri melihat Nadia yang nampak kesulitan berjalan.


“Tantri ko gitu sih, ngomongnya. kasihan cucu-cucu oma. Sayang sebaiknya kamu di rumah saja, tidak usah pergi kemana-mana. Bunda takut apa yang Tantri katakan ada benarnya.“ tutur bunda Maya mengkhawatirkan menantunya.


“Bunda, Nadia masuk dulu mau istirahat.“ Pamit Nadia pada ibu dan adiknya.


“Iya sayang sebaiknya kamu harus banyak istirahat jangan kelelahan.“ pesan bunda pada Nadia.


“Bunda, Tantri jadi takut mba Nadia akan kelelahan saat acara pernikahan Tantri nanti.“


“Tenang saja, Tantri. Gedung tempat mu melangsungkan pernikahan mu nanti, dilengkapi kamar VVIP yang Shaka pesan khsusus untuk Nadia. Jadi kakak mu bisa istirahat dan tidur santai tanpa kelelahan. Di kamarnya Nadia masih bisa melihat mu melangsungkan akad dan prosesi lainnya. Lewat layar datar yang merekam keseluruhan acara.“ ujar bunda menjelaskan prepare yang Shaka buat untuk Tantri dan istrinya.

__ADS_1


“Mas Shaka hebat bun, sampai segitunya memikirkan yang terbaik untuk anak dan istrinya.“


...***...


“Sayang! Apa kau lelah. Maaf sudah membuat mu capek?“ tanya Shaka memijat kaki Nadia yang terlihat bengkak efek dari usia kehamilannya yang semakin tua.


“Rasa lelah ini tidak sebanding dengan anugrah dan nikmat yang Tuhan berikan padaku, Mas. Rahmatnya jauh lebih besar, aku beruntung bisa memiliki mu, mas. Ada ayah, bunda yang menyayangi ku dan juga adikku Tantri.“ tuturnya memeluk tubuh kekar suaminya. Menyesap aroma khas maskulin yang menguar dari balik tubuh Shaka, yang Nadia suka.


“Entah daya tarik apa yang kau miliki Nadia, hingga aku tidak bisa lagi berpaling ke lain hati setelah Andrea benar-benar tidak ada lagi di hati ini. Sejak awal pertama kali kita bertemu di rumah sakit dulu. Aku merasa kau adalah milikku, setelah aku tahu kau sudah menikah dan memiliki seorang putranya. Disaat itu juga hatiku merasa sakit bersamaan dengan dengan kabar kau diceraikan disaat ibumu meregang nyawa. Tidak ada kesanggupan buatku melihat mu dalam keadaan hancur.“ Shaka menjeda kalimatnya, ketika Nadia memintanya untuk tidak melanjutkan kisah pilu yang sudah lama Nadia kubur dalam-dalam.


“Aku sudah sangat bahagia bersamamu, dan aku tidak menginginkan apa-apa lagi. Cinta dan kasih sayang mu sudah lebih dari cukup untuk ku. Dan aku sudah memiliki bagian dari hidupmu.“ tuturnya meraih tangan Shaka dan meletakkan keatas perutnya yang membesar sempurna.


“Terima kasih, Sayang. Dimataku kau adalah wanita sempurna.“ puji Shaka menyelipkan anak rambut Nadia kebelakang telinga, yang menghalangi wajah cantiknya. Serta menghadiahi ciuman di wajah istrinya.


“Lakukan saja, mas! Aku tidak akan menolaknya. Kata dokter Lulu hubungan suami istri di usia kandungan delapan sampai sembilan bulan boleh. Asal tidak menyakiti keduanya, dan bisa mempermudah jalan lahir saat persalinan nanti.“


“Oh, ya! Dokter Lulu baik sekali. Dan aku berterima kasih padanya karena sudah mengatakan itu padamu, Sayang.“ ucapnya senang sambil, melepaskan kancing daster sialan yang menghalangi bagian tubuh istrinya. Yang paling Shaka sukai dua gundukan kenyal yang padat dengan segala sensasinya.

__ADS_1


__ADS_2