Cinta Tianda Ganti (Ketika Cinta Datang Dan Pergi)

Cinta Tianda Ganti (Ketika Cinta Datang Dan Pergi)
Rindu Yang Semakin Menyiksa


__ADS_3

Semenjak Arshaka membawa Andrea ke rumah sakit, waktu Arshaka lebih banyak terbagi untuk menjaga dan menemani Andrea.


Hampir dua minggu Arshaka lebih sering tidur di rumah sakit dari pada tidur di apartemen atau di rumah bundanya.


Kondisi kesehatan Andrea pun berangsur lebih baik meski belum sembuh secara total butuh waktu dan kesabaran ektra untuk sembuh secara maksimal, terutama pada masalah biaya pengobatan yang tidak sedikit jumlahnya. Beruntung Andrea terlahir dari keluarga kaya keluarga yang berada, sehingga Andrea tidak perlu khwatir masalah berapa banyak biaya yang harus dikeluarkan.


''Shaka kau tahu aku sangat bahagia, Kau ada di sini menjagaku. Aku yakin aku pasti sembuh dengan karena adanya kau di sini," ucap Andrea meraih telapak tangan Arshaka.''


"Papa sangat bahagia mendengar nya Andrea. Jika kalian menikah maka proses penyembuhan itu akan lebih cepat. Bukan benar begitu Shaka?" tanya Adri tiba-tiba. Dan hal itu sangat membuat Arshaka sangat terkejut.


"Ta_pi, Om."


"Tapi apa lagi, Shaka? Bukannya kau sendiri yang mengatakan jika kondisi Andrea semakin membaik. Itu pasti karena kau yang menjaga dan merawat Andrea dengan baik."


"Papa... '' Adri melayangkan jari telunjuknya kearah putrinya sebagai tanda protesnya untuk diam, sedang netranya tetap fokus berbicara pada Arshaka.


" Om, Shaka mohon mengertilah. Apapun yang Shaka lakukan untuk Andrea tidaklah lebih dari sebatas tugas dan kewajiban saya sebagai seorang dokter. Semenjak hilangnya Andrea tanpa memberi saya kabar itu membuat saya kehilangan arah, dan saya telah menemukan sosok cinta pengganti yang menjadi ratu di hati saya om." papar Arshaka dengan tegas tanpa lagi basa-basi.


Arshaka sekilas melirik Andrea yang nampak diam mendengar penuturan Arshaka yang dianggapnya sangat berani. Arshaka melangkah meninggalkan ruangan dimana papa Andrea masih berdiri di samping brankar. Arshaka terus berjalan lurus dengan wajah dinginnya menuju ruangannya berada. Perasaannya lah yang membuatnya mengabaikan sapaan orang di sekitarnya dengan sikap dinginnya.


"Siang, Dok!'' sapa salah seorang petugas kesehatan dan perawat. Tanpa menjawab Arshaka tetap lurus pada pandangannya di depan.


Arshaka membuka pintu ruangannya menarik kursi dan mendaratkan tubuh letihnya. Dirainnya ponsel yang berada di atas kabinet membuka aplikasi whatsapp mencari kontak nama Nadia. Arshaka menggeser layar pintarnya dan membaca pesan singkat yang yang sempat ia kirim beberapa waktu yang lalu untuk Nadia. Menarik ujung bibirnya membentuk senyum tipis di bibirnya.


Wajah cantik Nadia tidak hanya memenuhi layar ponselnya tapi juga hati dan pikirannya yang semakin berkecamuk menahan rindu, yang sudah hampir dua minggu tidak bertemu. Hal yang sama pun Nadia lakukan menatap layar ponselnya menunggu benda pipih itu menyala dengan nama pemanggil yang tersimpan di hatinya.


Lama Nadia memegangi ponselnya tak kunjung menyala, ia pun meletakkan hapenya di atas nakas. Baru saja Nadia menaruhnya ponsel itu berdering dan menyala dengan hati berbunga Nadia meraih ponselnya tanpa melihat id caller-nya.


~ Hallo Mas Arshaka...


~ Shaka??


Nadia mengerutkan dahinya lalu menurunkan ponselnya dari telinganya dan melihat layar pipinya tertera nama bunda Maya.


~ Bu_nda..."

__ADS_1


Sebut Nadia gugup, Bunda Maya tersenyum dan tertawa renyah mendengar panggilan Nadia pada dirinya.


~ Nadia ini bunda, Sayang. Apakah Kau sangat merindukan putraku?


~ Maaf bunda tadi Nadia tidak melihat nama kontak sebelum menjawabnya.


Untuk saja itu berlangsung di dalam panggilan telepon saja, jika tidak Nadia tidak bisa lagi menyembunyikan wajah merahnya karena malu.


~ Tidak apa sayang bunda mengerti. Arshaka pasti sibuk, bunda mau minta tolong besok kamu bisa kan temani bunda belanja?


~ Bisa bunda. Nadia bisa.


Jawab Nadia cepat, mendengar jawaban pasti dari calon menantunya bunda Maya mengakhiri panggilan telepon nya.


Ya, ampun kenapa sampai salah sebut nama sih jadi malu kan jadinya. Nadia... Nadia bikin malu aja sihhh!!


Gumam Nadia malu menepuk jidatnya berkali-kali merutuki kebodohannya.


🍁🍁🍁


Sementara Arshaka masih sibuk berkutak di layar ponselnya memandangi wajah imut ibu muda beranak satu yang membuat dirinya hampir gila. Menahan kerinduannya untuk bertemu, namun waktunya habis tersita di rumah sakit dan menjaga Andrea demi kesembuhannya. Bukan karena sebagai seorang kekasih meski Andrea mengangapnya begitu. Tapi karena tanggungjawab nya sebagai seorang dokter, yang memiliki kewajiban untuk menyembuhkan kan pasien.



Tanpa lagi pikir panjang Arshaka meraih kunci mobil di atas meja dan keluar dari ruangannya. Seorang perawat lari mendekati Arshaka melewati koridor yang hendak menuju loby mencari keberadaan mobilnya terparkir.


"Dokter, bagaimana dengan jadwal operasi pada pasien atas nama Sultan?" tanya seorang perawat.


"Saya tidak menerima berkas apapun di meja kerja saya.'' jawab Arshaka datar. Dan terus melanjutkan langkahnya menuju loby.


"Maaf, Dok,'' ucap perawat itu dan berlalu.


Arshaka menyalakan mesin mobilnya meninggalkan area parkir rumah sakit. Menuju tempat tinggal Nadia, butuh waktu 30 menit untuk sampai di rumah Nadia dari rumah sakit. Arshaka mempercepat laju kemudinya menyusuri kota padat penduduk yang tak lepas dari kata macet di kota metropolitan. Arshaka berdecak mengepalkan tangannya memukul kemudinya kesal.


Cckkk!

__ADS_1


"Kenapa harus macet segala sih?" decaknya tidak sabar menunggu mobil begerak maju dan kembali lancar. Hampir 15 menit menunggu jalanan macet Arshaka kembali mengoperasikan kemudinya, akhirnya Arshaka sampai di depan pekarangan rumah Nadia.


Mendengar deru mobil milik Arshaka Nadia segera berlari menuju pintu depan membuku kan pintu untuk dokter muda yang sukses membuatnya jatuh cinta.


Nadia membuka pintu untuk Arshaka yang telah berdiri di depan pintu rumahnya. Begitu pintu dibuka,


"Mas Ars_"


Arshaka memeluk Nadia tanpa lagi menunggu persetujuannya, dan itu membuat Nadia bungkam akan sikapnya yang agresif jika rindu telah menguasai dirinya.


"Ini masih di depan jalan mas malu dilihat orang," ucap Nadia lirih.


Arshaka sedikit mengendurkan pelukannya kembali menetralkan dirinya yang tiba-tiba agresif.


"Maaf Nadia. Tapi aku sangat merindukan mu," ujarnya melangkah masuk kedalam.


"Mas Arshaka sudah tidak ada tugas?" tanya Nadia menuntun langkahnya menuju ruang tamu.


"Sudah selesai dari itu aku langsung ke sini, dimana Fafa sayang kenapa rumah sepi?" tanya Arshaka balik.


"Fafa ada di rumah omanya, Tantri sudah berangkat kerja mas sudah satu minggu bosan katanya di rumah terus. Aku juga bosan mas diam di rumah begini, aku ingin sekali kerja seperti dulu mas," tuturnya.


Arshaka menarik tangan Nadia hingga mereka saling berhadapan tanpa lagi mengikis jarak.


"Mau kemana, Sayang?" tanya Arshaka lembut meraih tangan Nadia.


"Kedapur, Mas buat minum," jawab


Nadia.


"Aku ke sini butuh kamu Nadia bukan minum. Sekarang temani aku di sini jangan kemana-mana. Setelah aku menikahi mu Kau akan bekerja untuk ku dari pagi sampai pagi lagi." tatap Arshaka dengan bibirnya yang telah menyatu sempurna di bibir Nadia.


Rindu yang sudah membuncah tidak dapat lagi mereka bendung. Mereka yang sudah sama-sama dewasa melepas kerinduan yang mereka rasakan sebatas pelampiasan yang masih dalam batas kewajaran.


Arshaka menangkup

__ADS_1


wajah cantik wanita di hadapannya dan memperdalam pagutannya. Tanpa Nadia sadari ia telah mengalungkan tangannya di bahu kekarnya. Membalas sapuan lidahnya yang semakin menyesatkan dan semakin menuntut, sesaat membuat tubuh Nadia meremang dan pandangannya berkabut.


Arshaka menghentikan aktifitas panasnya sebelum setan menyeretnya semakin jauh kedalam kubangan dosa.


__ADS_2