
Setibanya di bandara soekarno-hatta Andrea menunggu taxi online yang ia pesan 10 menit yang lalu setelah turun dari tangga pesawat menuju pintu keluar.
Taxi yang Andrea pesan berhenti tepat di depannya memastikan jika penumpangnya benar sesuai di aplikasi.
"Dengan ibu Andreyani Siregar?" tanya supir taxi.
"Ya saya sendiri." jawab Andrea cepat.
"Andrea mobil ku ada di area parkir. Kenapa Kau malah memesan taxi online?"
"Maaf Pak istri saya akan ikut dengan saya,"
"Tidak, pak dia bohong! Saya akan naik taxi." kekeh Andrea.
"Maaf Pak, ini uang ganti rugi untuk bapak. Saya dan istri saya memang ada sedikit masalah." kilahnya berbohong demi untuk meyakinkan supir taxi. Supir taxi menerima uang dua lembar ratusan ribu dengan perasaan senang.
"Apa? Kau bilang apa?" bentak Andrea tidak terima. Supir taxi itu menggelengkan kepalanya heran seraya bergumam
"Laki bini stress semua!" supir taxi online menyalakan mesin kemudinya meninggalkan area bandara.
"Denger ya! Aku tidak akan ikut dengan mu, Ibra?" Andrea berdumel kesal melemparkan pandangannya ke objek lain.
Andrea berjalan menyeret kopernya menuju pintu keluar bandara mencari taxi atau angkutan umum lainnya yang bisa ia tumpangi agar secepatnya sampai rumah dan jauh dari mahkluk astral yang menyebalkan baginya.
__ADS_1
Hampir tiga puluh menit Andrea berjalan tapi belum juga menemukan taxi yang lewat. Mau pesan online pun ponsel Andrea sudah kehabisan daya batre, sedangkan Ibra masih mengikuti langkah Andrea yang sudah hampir menyerah karena cuaca terik membuatnya lelah berjalan.
Ibra mengimbangi langkah kaki Andrea yang semakin lambat. Sesekali monoleh ke belakang melihat taxi yang kemungkinan leeat. Tapi tak satu pun taxi melintas mau tidak mau ia menekan sedikit egonya juga tengsinnya.
"Bagaimana masih kuat jalan sampai depan 10 menit lagi?'' tanya Ibra setengah mengejeknya. Akhirnya Andrea menarik pintu belakang mobil duduk di kursi penumpang di belakang Ibra.
"Saya ini bukan supir ya! Dan saya tidak mau profesi saya berubah karena posisi duduk kamu,"
"Hiiii, Ngeselin banget sih! Nggak tahu apa capek dari tadi," Andrea semakin menggerutu. Membuka pintu mobil lalu menutupnya kasar, Ibra melirik Andrea dengan senyum kemenangan.
"Coba sejak tadi seperti ini pasti kita sudah sampai di tujuan. Aku mengantarkan mu pulang dan aku pulang ke rumah ku." ujarnya menatap sekilas ke arah Andrea yang masih menunjukkan wajah kesal karena ulahnya.
Karena lelah dan pegal di kakinya Andrea pun tertidur bersandar di kursi kemudi, Ibra menatap wajah jutek wanita yang sedang ia perjuangkan hatiny. berharap lambat laun ia akan menyadari bahwa masih ada cinta lain yang siap mencintainya dengan tulus.
"Kau cantik Andrea tapi sayang kamu galak," Ibra memandangi wajah Andrea dengan senyum konyolnya.
Puas memandangi wajah cantik wanita di sisinya Ibra kembali melajukan kemudinya dengan kecepatan normal. Sialnya mobil yang mereka tumpangi tiba-tiba mogok, Ibra mencoba memutar kunci mobil mesin hidup lalu kembali mati berulang kali ibra mencoba menyalakan lagi tapi mesin mati lagi.
Mendengar suara mesin hanya mengerang tanpa bergerak membuat Andrea terbangun dari tidurnya, karena AC mobil ikut mati merasakan panas dan gerah di dalam mobil. Andrea mengedarkan pandangannya ke sisi kanan dan kiri jalan.
"Kenapa berhenti di sini? Ini masih jauh," tanya Andrea bingung.
Ibra berusaha menyalahkan mesin mobilnya lagi, tapi mobil tak kunjung menyala.
__ADS_1
"Andrea maaf. Biar aku periksa dulu mesinnya." Andrea semakin berdecak kesal. Ibra memeriksa mesin mobil ternyata ada kabel sekring putus ia juga tidak membawa kotak alat, Andrea keluar dari mobil dengan bersungut-sungut.
"Bagaimana apanya yang rusak?" tanya Andrea marah.
"Kabel sekringnya putus dan aku lupa membawa kotak alat. Sepertinya kita harus membawanya ke bengkel."
"Bengkel!? Kau lihat kita ini ada di mana sekarang. Seharusnya aku sudah sampai di rumah satu jam yang lalu dan kau tidak berhak melarangku apapun keputusan ku untuk sampai pada tujuanku. Termasuk mencintai laki-laki yang aku cinta." ucapnya dengan menunjukkan jari telunjuknya dihadapan Ibra. rasa amarah yang sudah memuncak tidak bisa lagi Andrea tahan dan berlalu pergi membelakangi punggung pria yang berprofesi sebagai ahli ortopedi tersebut.
Ibra menarik tangan Andrea yang berjalan menjauh melewatinya membawa tubuh lelah Andrea kedalam dekapannnya, hingga tubuhnya yang gemetar menahan marah dapat Ibra rasakan ada sesuatu yang ia tahan namun sulitnya untuk ia ungkapkan.
"Aku tidak akan membiarkan mu jatuh dan tersungkur dalam masa lalu mu yang tidak mungkin bisa kau raih kembali Andrea. Kau wanita sama seperti dia yang kau benci yang ingin menjaga perasaan mu, berusaha menghindari mu karena tidak ingin kau semakin terluka dengan melihat kehadirannya." jelas Ibra menyimpulkan tentang Nadia istri dari rekan kerjanya selama bertugas di tenda posko selama menjadi relawan.
"Bagaimana kau tahu? Dan menyimpulkan nya secepat itu tentang dia yang sudah merusak hubungan ku,"
"Aku memang tidak tahu apapun tentang masalah diantara kalian. Antara dirimu, dokter Arshaka dan istrinya. Setahuku mereka orang baik dan dokter Arshaka sangat mencintai istrinya." Ibra sedikit mengendurkan pelukannya mendekap Andrea yang terlihat lebih tenang dari sebelumnya yang nampak marah berapi-api seperti macan betina. Ibra menyeka bulir bening yang luruh di pipi lembut wanita di hadapannya, menyadari tubuhnya masih berada dalam pelukan dokter Ibra Andrea melepaskan diri menghindari kontak fisik dengannya.
"Maaf, aku sudah marah padamu. Sikapku membuatmu jadi ilfeel." ujar Andrea merendah nada bicaranya tidak lagi kasar seperti biasanya.
"Kalo lembut seperti ini kau terlihat sangat dokter Andrea. Tapi jika sedang marah kau seperti singa betina yang menakutkan," Andrea menyorot Ibra dengan tatapan mata tajamnya.
"Iy_iya maksudku Kau singa betina yang cantik. Ee... bukan...bukan Andrea Kau..." Andrea justru tertawa melihat mimik wajah Ibra yang terlihat aneh di matanya. Tapi di tengah tawanya Andrea terdiam mendengar bunyi perutnya yang lapar dan segera menyilangkan tangannya menutup perutnya keroncongan. Membuat Ibra kembali terkekeh dengan suasana yang tiba-tiba berubah jenaka, Andrea tertawa menutup mulutnya dengan telapak tangannya yang menurutnya sangat lucu.
"Kau lapar Andrea?" tanya Ibra kali ini dengan mimik wajah serius. Mengedarkan pandangnya menyisir sudut jalanan yang mungkin ada kedai atau warung kecil di pinggirran jalan.
__ADS_1
Ibra mengajak Andrea berjalan mengikuti langkahnya mencari rumah warga yang bisa dimintai pertolongan setidaknya untuk menumpang charger untuk mengisi daya batre ponselnya. Agar bisa menghubungi montir mengurus mobilnya yang mogok.