Cinta Tianda Ganti (Ketika Cinta Datang Dan Pergi)

Cinta Tianda Ganti (Ketika Cinta Datang Dan Pergi)
Kecewanya Mama Dita


__ADS_3

Di mobil Ayah Kania tak henti-hentinya mendecak kesal memukul kemudi mobilnya sebagai pelampiasan marahnya. Dirinya sungguh merasa terpojok dengan ucapan Arsahaka yang berhasil membuat dirinya malu. Seorang Ardana Dinata harus menjatuhkan harga dirinya di hadapan Arshaka yang di anggapnya seperti anak kemarin sore.


Ayah Kania melajukan kemudinya dengan kecepatan tinggi, membuat Ratna dan Kania merasa sangat takut. Ratna meminta suaminya untuk mengurangi kecepatannya, namun suaminya sudah di kuasai amarah bagai bom yang siap meledak.


"Ayah, tolong pelankan mobilnya Kania takut yah!" pinta Kania merengek menatap wajah Ayahnya dari kaca spion di depannya.


Namun Ardana tidak menghiraukan ucapan dua wanita yang sedang merasa takut bersamanya. Tiba-tiba Ardana menginjak pedal rem mobil secara mendadak hingga membuat mereka terpental.


Hampir saja dahi Ratna membentur dashboard mobil, ia pun menatap ke arah suaminya dengan wajah kesalnya.


"Mas, kita semua bisa celaka dan kita bisa mati konyol." gerutu Ratna dengan lirik mata yang berapi-api. Ardana menatap tajam pada jalanan di depannya pandangan yang memancarkan rasa marah ,malu, dan kesal yang menjadi satu bahkan telah menjadi rasa benci. Ardana menarik nafasnya dalam dan menghembuskannya kasar.


"Sebenarnya seperti apa sih, gadis itu. Yang bisa membuat Arshaka menolakmu Kania?" Kania diam tak bergeming menatap wajah Ratna dan ayahnya bergantian. Ratna pun merasakan hal yang sama merasa kesal atas sikap Arshaka karena telah menolak putrinya.


Ardana kembali menghidupkan mesin mobilnya melanjutkan kembali perjalan pulangnya. Menyisir jalanan kota dengan kecepatan sedang membuat Kania sedikit merasa lega. Untuk saat ini yang ada dalam pikiran Kania adalah Permadi dan Permadi, tidak perduli pada Arshaka yang akan memilihnya atau tidak.


Entah apa yang membuat Permadi begitu cepat berubah, Kania berpikir jika semua terjadi karna Nadia yang selalu berusaha menggoda Permadi lagi.


Sebenarnya apa istimewanya dan menariknya janda miskin itu sampai-sampai dokter muda dan sukses seperti Arshaka juga tergila gila dengan Nadia.


Kania mengepalkan tangannya hingga buku jarinya memucat.


Lihat saja Nadia akan ku buat kau menyesal. Geramnya Kania.


...****************...


Nadia mendekap erat Fafa dalam pelukannya mencoba menenangkan putranya yang sejak sore rewel karena demam. Ada sedikit rasa sesal Nadia mengajak Fafa ke rumah Kakeknya, karena Ayah Nadia kangen ingin bermain dan memeluk Fafa dalam gendongannya. Nurdin pun cemas mendengar cucunya yang merengek dan menangis Nurdin mencoba mendekati Fafa yang masih dalam gendongan Nadia.


"Nadia , Apa kau sudah memberikan obat pada Fafa, Nak?" ayah Nadia berjalan meraba-raba dinding sebagai pegangan caranya mencari jalan. Ayah Nadia mendekat ke arah suara cucunya yang menangis. Nurdin menyentuh kepala dan dahi Fafa yang panas karena demam.


"Tadi Nadia sudah beri Fafa paracetamol Pak, tapi demamnya belum juga turun." jawab Nadia. Yang turut merasakan panas di tubuhnya.


"Sebaiknya kamu telpon Permadi Nadia! Agar dia bisa mengantarmu ke rumah sakit bagaimana pun juga Permadi harus tahu kalo Fafa sakit." pinta ayah Nadia untuk menghubungi Permadi.


ucapnya mengingatkan Nadia putrinya agar secepatnya menghubungi Permadi. Nadia nampak diam dan berfikir apa yang ayahnya katakan memang benar Permadi harus tau kalau Fafa sakit, bagaimana pun juga Permadi adalah ayahnya dan Fafa darah dagingnya.


Nadia pun mengikuti saran ayahnya meraih handphone yang berada di dalam kamarnya belum sempat Nadia meraihnya. Ponselnya berdering dengan kontak nama Mas Arsahaka, tanpa berfikir panjang lagi Nadia langsung menggeser ikon hijau dan mengangkat panggilan telpon dari dokter yang berhasil mencuri hatinya meski perasaan sana.a itu belum sepenuhnya ada.


📞~ Hai Nadia.


📞~ Hallo mas Arsha tolong, datanglah ke rumah Bapak, Mas! D

__ADS_1


Badan Fafa demam dan tubuhnya semakin panas.


📞 ~ Tenanglah Nadia! Aku akan segera ke sana.


📞~ Oke, aku akan kesana. Nadia berikan Fafa motode Hipertermia untuk sementara, kau lepas pakaianmu juga anakmu kau peluk Fafa dekap tubuhnya untuk menetralisir suhu panas di tubuhnya. Arshaka memutus telpon setelah mendapat jawaban dari Nadia.


Arshaka turun dari kamarnya menuruni anak tangga dengan terburu-buru, meraih kunci motor yang tergantung di dinding ruang tamu melihat sikap Arshaka yang tergesa gesa Pak Lukman tidak berani bertanya. Arshaka meminta Pak Lukman membukan pintu pagar.


"Pak Lukman, jika Bunda dan Ayah bertanya katakan saja Saka pergi keluar sebentar," pesan Saka pada Lukman. Seraya membuka pintu garasi mengeluarkan motor mogenya keluar.


" Pak Lukman tolong tutup pagarnya!" teriaknya sembari memakai helm serta mengalungkan tas medisnya. Arshaka menaiki kuda besinya dan memutar kontak motornya yang siap melaju membelah jalanan malam yang sedikit sunyi setelah hujan mengguyur.


" Baik, Den," jawabnya cepat.


Tantri dan ayahnya begitu cemas apakah Nadia sudah menghubungi Permadi suaminya untuk segera membawa Fafa ke rumah sakit.


"Mba gimana masih panas juga?" tanya Tantri pada Nadia yang masih di dalam kamar bersama Fafa.


"Tantri sebaiknya kamu tunggu di luar bukakan pintu untuk dokter Arshaka." pinta Nadia dari dalam. Tantri pun berjalan keluar mengikuti apa yang Nadia minta, dan benar ada suara motor berhenti di depan pekarangan rumah. Tantri melihat dari balik tirai menatap dokter yang pernah menangani almarhum ibunya ketika di rumah sakit yang baru saja sampai, saat membuka helm dan menggantungkannya di kaca sepion.


Tantriana Dewi gadis remaja itu sungguh terpesona pada dokter berwajah tampan dengan bentuk tubuh atletisnya yang begitu sempurna di matanya. Dokter Arsahaka nampak gagah dengan balutan kaos serta celana santainya, sangat berbeda ketika memakai jas putih kebesarannya saat di rumah sakit.


"Malam, Dokter?" sapa Tantri.


"Malam, Dik dimana kakakmu Nadia?" tanya Arshaka sopan dengan senyum tipisnya.


Dengan wajah sedikit kecewa Tantri meminta Arsahaka mengikuti langkahnya menuju kamar Nadia. Tantri mengetuk pintu kamar dan memberi tahu kakaknya jika dokter Arshaka sudah datang.


"Mba Nadia, dokter sudah datang," ujar Tantri memberi tahu.


"Eh, iya tunggu sebentar!" jawab Nadia dari dalam.


Tantri meninggalkan Arshaka yang masih berdiri di depan pintu kamar Nadia, untuk membuatkan minum tamu kakaknya yang sudah membuatnya kecewa. Nadia segera keluar menemui dokter Arshaka bersama Fafa dalam gendongannya.


"Nadia apa putramu masih Demam?" tanya Arsha dengan menempelkan punggung tangannya di dahi Fafa.


"Masih demam, Mas tapi tidak sepanas tadi setelah aku mengikuti apa yang mas Arsha sarankan." tuturnya sembari memberikan botol obat pada Arshaka.


"Biar ku periksa sebentar." Arshaka meraih stethoscope dari tasnya dan menempelkan alat tersebut pada dada serta punggung Fafa.


"Kau tidak perlu khawatir Nadia, hanya demam biasa. Mungkin karena obatnya tidak bekerja secara efektif dengan kandungan ibuprofen dengan dosis ringan coba kau baca petunjuknya untuk usia 0 sampai 1 tahun." ucap Arshaka menunjukan petunjuk obat yang tertera di label botol.

__ADS_1


Arshaka tersenyum simpul menatap wajah Nadia yang terlihat sangat lucu dan menggemaskan baginya, Nadia membalas senyum dokter di depannya dengan senyum manis untuknya juga.


Nadia dapat bernafas dengan lega setelah memberikan Fafa obat sirup yang Arshaka bawakan. Dalam waktu 30 menit Fafa sudah menguap ngantuk, mungkin juga sudah lelah karena menangis.


Mendengar penjelasan dari Dokter Arshaka, Nurdin mengelus dadanya lega dan meminta Tantri untuk mengantarkan ke kamarnya untuk istirahat.


"Tantri, tolong antarkan Bapak ke kamar, Nak! Fafa sudah lebih tenang, dokter terima kasih sudah menolong cucu saya," ucanya pada Arshaka. Ayah Nadia memutar tubuhnya yang di papah Tantri menuju kamar. Sebelum beranjak Tantri mencoba peruntungan meminta Arshaka meminum teh hangat buatannya.


"Sama-sama, Pak." jawab Arshaka dengan tatapan piasnya, melihat keadaan keluarga Nadia yang sangat miris. Arshaka pun iba melihat kondisi ayah Nadia yang mengalami tuna netra karena katarak.


"Dokter, silahkan di minum tehnya!" ucap Tantri sopan, dengan senyum manis terbaiknya yang Tantri tunjukkan berharap Arshaka menatapnya.


Arshaka pun meraih teh buatan Tantri, setelah mengatakan terima kasih dengan nada datarnya tanpa meliriknya. Arshaka meneguk teh hangat buatan adik Nadia dan mengusap bibirnya yang basah karena tehnya sedikit tercecer di bibirnya.


Tantri pun tersenyum puas akhirnya Dokter tampan itu meminum teh buatannya.


" PAHIT" ucap Arshaka. Hingga membuat Tantri menghentikan langkahnya dan membulatkan kedua matanya melirik Arshaka.


"Masa sih pahit?" tanya Tantri terkejut tak percaya.


"Bu_kan maksud saya tangan saya terasa pahit setelah tadi meracik obat," ujar Arshaka meraih tisu.


Nadia tersenyum melihat ekspresi adiknya yang sedikit cemberut memonyongkan bibirnya. Nadia menunjukkan arah dapur pada Arshaka untuk mencuci tangannya. Nadia segera menidurkan Fafa yang sudah tertidur pulas di gendongannya dan menurunkan Fafa ke kasur dengan sangat hati-hati serta menyelimuti tubuh mungilnya dengan lembut.


Nadia keluar menemui Arshaka yang sudah selesai mencuci tangannya di dapur. Tanpa sengaja Arshaka melihat baju yang Nadia pakai sedikit terbuka di bagian dadanya hingga memperlihatkan bentuk belahan dadanya yang sedikit menyembul.


Arshaka menghampiri Nadia, meraih serta mengancingkan bajunya yang tertanggal. Nadia menatap ke arah tangan Arshaka bagaimana cara dia mengancingkan bajunya tanpa sedikit pun menyentuh kulit Nadia. perhatian kecil yang Arsahaka tunjukkan membuat hati Nadia menghangat. Wajah merah padam membuat Nadia malu menatap wajah Arshaka.


"Lain kali jangan seperti ini tidak baik di lihat laki-laki lain!" ucap Arshaka datar yang masih menunjukkan sikap lembutnya.


" Maaf Mas, tadi terburu-buru saat Mas Arsha datang." sesal Nadia akan kecerobohannya.


"Ya, sudah tidak apa-apa jangan terulang lagi karna aku akan sangat marah." Angguk Nadia seraya berjalan bersisian menuju ruang tamu.


Arshaka pun pamit pulang karna malam mulai larut, Nadia mengantarkan Arshaka sampai pintu depan. Arsahaka menyentuh kedua pundak Nadia menatap wajah cantik alaminya dan mengecup keningnya lembut.


"Jaga dirimu baik baik! Besok tidak perlu datang ke rumah sakit kau jaga Fafa di rumah!'' Pintanya yang di balas anggukan Nadia.


Arshaka mengenakan helmnya dan segera menaiki motornya meninggalkan pekarangan rumah setelah Nadia memintanya hati-hati di jalan.


Sepasang mata menatap dengan tatapan kecewanya, Mama Dita seakan tidak percaya dengan apa yang di lihatnya menantu kesayangannya berani berhianat di belakang putranya.

__ADS_1


__ADS_2