
“Sayang kenapa sedih?“ tanya Shaka pada istrinya. Nadia mendongak menatap wajah suaminya, yang kini beralih duduk disisinya sambil mengusap perut Nadia yang membesar sempurna di usia kandungannya yang sudah sembilan bulan.
“Tiba-tiba saja aku ingat Tantri, mas. Tidak terasa waktu berputar begitu cepat, dulu dia anak yang sangat manja dan pemarah. Tapi sekarang dia sudah menjadi wanita dewasa dan sudah menjadi seorang istri.“ ucap Nadia menyandarkan kepalanya di bahu suaminya.
“Roda kehidupan akan terus berputar sayang sesuai rotasi yang sudah Tuhan tentukan. Kita sebagai hambanya hanya bisa mengikutinya saja jangan sedih lagi, Tantri masih bisa bolak-balik Batam Jakarta jika dia kangen dengan kedua keponakannya.“ Shaka masih mengusap lembut perut Nadia yang bergerak aktif.
“Mas aku ingin sekali ke makam Fafa. Apa boleh aku kesana hanya sebentar saja? Aku janji tidak akan lama.“ pinta Nadia dengan wajah melasnya.
“Iya, sayang. Hanya sebentar saja tidak lebih dari lima menit bersiaplah mas akan minta mba Titin memetik beberapa tangkai bunga.“ Shaka beranjak dari duduknya keluar menemukan asisten rumah tangganya untuk memetikkan beberapa jenis bunga.
“Titin! Kenapa bunganya dipetik?“ tanya bunda Maya menghampiri Titin.
“Maaf bun, tadi mas Shaka yang minta katanya mau ke makam Almarhum den Fafa.“ jawab Titin memberitahu.
“Ya sudah lanjutkan lagi!“ Titin mengangguk kembali melanjutkan memetik bunga dan menaruhnya kedalam keranjang kecil.
Shaka yang sudah rapi dengan baju koko dan sarung. Memanaskan mesin mobilnya sebelum berangkat ke makam, melihat bundanya berjalan ke arahnya Shaka segera mematikan mesin mobilnya dan keluar dari dalam mobil.
“Bunda,“ panggil Shaka.
“Shaka, kamu mau mengajak Nadia pergi ke makam?“ tanya bunda.
“Iya bunda. Nadia ingin sekali kesana hanya sebentar saja bunda.“ ujar Shaka.
“Hati-hati, Shaka. Bunda hanya khawatir mengingat usia kandungan Nadia sudah sembilan bulan segera hubungi bunda jka terjadi sesuatu.“ titah bunda pada Shaka. Shaka tersenyum mengedipkan kedua matanya mengangguk paham.
“Bunda, Nadia pamit izin sebentar ke makam Fafa.“ pamitnya seraya mencium punggung tangan ibu mertuanya.
“Iya sayang hati-hati, bunda khwatir dengan usia kandunganmu yang semakin tua.“ Nadia masuk kedalam mobil dengan membawa keranjang bunga di tangannya.
__ADS_1
“Mas setelah dari makam kita mampir ke rumah bapak boleh ya?“ tanya Nadia menoleh pada Shaka suaminya.
Shaka masih diam nampak berpikir sebelum memberi jawaban pada istrinya. “Maaf sayang kali ini mas menolak. Ingat pesan bunda tadi jangan terlalu lama di jalan. Sebelum pergi tadi bukankah tadi sudah janji tidak akan lama, hemm?“ ujarnya mengingatkan kembali istrinya. Nadia hanya menghela nafasnya pasrah mengikuti apa yang suaminya inginkan.
“Iya, mas maaf.’’ balas Nadia meski ada guratan kecewa di matanya.
“Terima kasih, sayang sudah mau nurut.“ angguk Nadia.
Setibanya di makam dengan hati-hati Shaka menuntun langkah istrinya menuju makam kedua orangtuanya lebih dulu sebelum ke makam putranya Fafa. Nadia menaburkan bunga diatas gundukan tanah dan mendo'akan keduanya yang dipimpin suaminya. Lalu beranjak ke makam Fafa yang jaraknya tidak jauh dari kakek dan neneknya.
“Assalamu'alaikum, Nak. Ayah dan bunda datang untuk mendo'akan Fafa. Fafa pasti senang sebentar lagi adik Fafa akan lahir,“ ucap Nadia sambil menaburkan bunga keatas pusara.
“Sayang, ayah dan bunda pamit. Kami akan selalu mendoakanmu, Nak. Karena Fafa adalah kunci surga ayah juga bunda. Semoga kelak Tuhan mempertemukan kita disana.“ ujar Shaka meremas lembut bahu istrinya yang terlihat semakin lemah. Karena terbawa perasaannya yang terlihat sedih dengan matanya yang mulai berkaca-kaca.
Nadia beranjak dari makam Fafa menuju tempat parkiran. Tiba-tiba saja perut Nadia mendadak sakit tapi, ia masih bisa menahan rasa sakit di perutnya. Semakin lama rasa sakit itu semakin intens dan seakin sakit.
“Mas, perutku rasanya sakit sekali.“ ucap Nadia pada suaminya. Karena tidak tahan dengan rasa sakitnya.
“Perutku sakit sekali mas, Air ketubannya juga sudah pecah.“ Shaka semakin panik melihat wajah istrinya yang pucat menahan rasa sakit.
“Iy__Iya sayang kita ke rumah sakit sekarang.“ ucap Shaka gugup. Menyalakan mesin mobil segera membawa Nadia ke rumah sakit.
~ Bunda tolong siapkan semua yang Nadia perlukan sepertinya si kembar akan lahir.
~ Iy__Iya sayang bunda akan siapkan semuanya.
Shaka segera memutus sambungan teleponnya, dan kembali fokus mengoperasikan mesin kemudinya. Sedang tangan kirinya sibuk mengelus lembut perut istrinya, untuk mengurangi sedikit rasa sakit di perut istrinya.
Setibanya di rumah sakit Shaka memarkir mobilnya dan keluar untuk meminta bantuan petugas medis. Shaka semakin tidak tega melihat istrinya yang sudah basah mandi keringat karena menahan sakit.
__ADS_1
“Suster! Tolong bantu istri saya, bawakan brankar sekarang!“ perintah Shaka pada petugas.
“Baik dokter Shaka.“ jawab mereka.
“Sayang bertahanlah! Aku akan menemanimu di ruang persalinan.“ ucap Shaka memberi semangat pada istrinya yang tengah berjuang melahirkan buah cintanya mereka.
Perawat dan dokter Sandra segera membawa Nadia ke ruang persalinan yang ditemani suaminya. Setelah alat medis terpasang dokter segera menyuntikkan obat melalui selang infus.
“Tarik nafas bu Nadia lepaskan lewat mulut, ayo bu Nadia anda harus semangat jangan mengejan sebelum saya beri aba-aba.“
“Sayang kamu pasti bisa. Kamu adalah wanita kuat, demi anak kita bertahanlah! Rasa sakit ini hanya sementara dan rasa sakit itu akan berubah menjadi kebahagiaan untuk kita.“ Shaka terus memberi kata semangat dan kekuatan untuk istrinya yang sedang berjuang melahirkan si kembar.
Ditengah rasa sakit yang hampir mematahkan seluruh tulangnya, Nadia berusaha kuat dihadapan suaminya meski rasanya ia hampir tidak sanggup.
“Ayo bu Nadia mengejan sekali lagi! pembukaannya sudah sempurna, tinggal sedikit lagi.“ Dokter memberi sedikit dorongan di perut Nadia. Shaka menghujani wajah istrinya dengan ciman sayangnya memberi semangat untuknya berjuang.
“Sakit mas, rasanya sakit sekali!“ keluh Nadia merasakan sakit yang mencabik-cabik habis tubuhnya.
“Ayo sayang kamu pasti bisa! Aku sangat mencintaimu demi anak kita.“ Nadia berusaha sekut tenaga berjuang demi melahirkan si kembar.
“Aaaaa.....!“ teriak Nadia diakhir perjuangannya. Si kembar pun lahir setelah sang adik lebih dulu lahir dan di susul kakak selang 4 menit.
Ooee... Ooeee....
“Alhamdulillah!“ ucap Shaka dan segera sujud syukur setelah mencium kening istrinya.
Semua bernafas lega setelah beberapa jam berjuang membantu kelahiran si kembar.
Bunda Maya dan suami menangis bahagia setelah mendengar tangisan kedua cucunya.
__ADS_1
“Alhamdulillah, Yah si kembar sudah lahir!“ ujar bunda bahagia.