Cinta Tianda Ganti (Ketika Cinta Datang Dan Pergi)

Cinta Tianda Ganti (Ketika Cinta Datang Dan Pergi)
Di Ceraikan Ketika ibunya Meninggal


__ADS_3

Nadia menatap wajahnya di cermin sesekali ia touch up riasan mike upnya agar tampil sempurna di depan permadi. Merapikan kembali rambutnya, dan di biarkannya rambut itu tergerai indah menyematkan jepit rambut motif mutiara di atas telinganya.


Mendengar deru mobil dari luar Nadia semakin salah tingkah, ia gugup harus berbuat apa? Nadia keluar masuk kamar kembali bercermin sekali lagi merapikan dressnya. Suara ketukan pintu membuat degup jantungnya berdebar berdetak begitu cepat. Nadia segera berjalan mempercepat langkahnya membukakan pintu menyambut kedatangan permadi dengan senyum bahagianya.


"Mas Permadi, kau pul__ " Nadia menghentikan ucapannya menatap suaminya dengan tatapan nanar. Menatap wanita cantik di samping Permadi saling menautkankan tangan satu sama lain.


"Mas.... Wanita ini siapa?" tanya Nadia lirih. Dengan suara yang nyaris hampir tak terdengar.


Permadi menggandeng tangan Kania membawanya masuk kedalam rumah. keduanya berjalan melewati Nadia tanpa rasa bersalah dan peduli.


"Apa maksud semua ini mas? Apa yang sebenarnya membuatmu berubah? Tuhan ini pasti mimpi, aku yakin ini adalah mimpi, ini adalah mimpi."


Berkali kali Nadia meyakinkan dirinya apa yang di lihatnya adalah sebuah ilusi. Nadia menutup pintu dan mengusap air matanya yang mengalir di kedua pipinya, Nadia melangkahkan kaki gontainya masuk ke dalam seakan tidak lagi mampu menopang beban tubuhnya. Sekujur tubuhnya seakan berubah menjadi jelly begitu lemas tanpa daya, Nadia menatap suaminya dan Kania bergantian yang telah duduk bersama di kursi meja makan. Hidangan makan malam yang Nadia buat demi menyambut kedatangan Permadi dari Surabaya. Semuanya hancur dan remuk tak bersisa setelah Nadia menangkap akan arti sebuah ucapan permadi, ketika dirinya berada di rumah sakit saat Permadi menemuinya untuk pamit berangkat ke Surabaya.


A****ku** pergi selama tiga hari jadi aku harap siapkan dirimu setelah aku pulang nanti**.


"jadi ini maksud dari ucapanmu itu mas? Jahat kamu mas, tega kamu mas.


Hatinta bemonolog dengan tangisnya dalam hati.


"Nadia ko malah bengong sih! Ayo siapin makan malamnya, kamu masak spesial ini untuk menyambut kedatangan kami kan?" tanya Permadi dengan senyun kecutnya.


Nadia diam tanpa ada jawaban sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya.

__ADS_1


"Rasanya tidak penting lagi aku menjawab pertanyaanmu mas?"


Sedangkan Kania sibuk mencicipi masakan Nadia satu persatu yang memang rasanya begitu nikmat. Ia pun berpikir jika nanti Permadi menikahinya apa dia bisa masak seenak masakan Nadia?


Nadia pun menyendokkan nasi kepiring kosong permadi dan mengisinya dengan lauk serta sayur dan sambal yang menjadi favorit suaminya. Dan meletakkannya di depan suaminya dan Permadi pun meraih piringnya yang telah diisi menu makanan kesukaannya. Permadi meraihnya tanpa lagi memikirkan perasaan istrinya yangberdetak


"Makan lah mas hidangan ini dari tanganku! rasakan dan nikamati lah rasanya hingga kedalam rongga mulut Mu! Sehingga kau tak akan pernah lagi mengingin rasa apapun itu dari tanganKu. Sampai kau benar-benar lupa bagaimana rasa itu pernah ada."


Nadia berusaha keras menahan air matanya agar tidak tumpah di depan dua manusia hina di hadapannya. Sayangnya Nadia tidak memiliki kekuatan untuk itu. Air matanya tidak bisa ia hentikan dan dikendalikan dengan mudah. Setelah Kania makan dengan begitu nikmatnya akhirnya Kania mengutarakan isi hatinya pada Nadia.


"Nadia Aku akui masakan Mu, sangat enak dan terima kasih kau telah menyambut kami dengan sangat baik," ucap Kania dengan senyum seringainya.


"Mas Permadi, bagaimana jika setelah menikah nanti aku tidak bisa masak masakan seenak Nadia?Apa kau juga akan mencari pengganti ku kelak?" tanya Kania dengan sorot mata yang mengarah pada Nadia.


Nadia benar-benar tidak tahan dengan apa yang di lihatnya, juga yang ia dengar. Nadia benar-benar sudah muak melihat sikap suami dan mantan pacarnya yang sangat menjijikan. ia pun beranjak dari duduknya. Nadia pun pergi dari duduknya karena tidak sanggup lagi hatinya menahan kobaran api cemburu, yang siap membakar habis dirinya yang hanya bisa diam tanpa bisa membalas.


🌼🌼🌼


Sedangkan di rumah sakit ibu Laila berjuang melawan sakitnya tidak ada yang bisa Tantri lakukan selain berdo' a. Tidak mungkin ia menghubungi Nadia kakaknya di rumah, sedang kakak iparnya baru saja pulang dari luar Kota.


Tantri menekan tombol bel yang berada di atas nakas meminta bantuan Suster, tidak lama Dokter dan perawat lainnya datang memeriksa ibu Laila. Dan Dokter Arsha pun ikut menangani kondisi terakhir ibu Laila. Dokter Arshaka kembali mencoba memacu kembali detak jantungnya, yang semakin melemah dengan meletakkan defibrillator di dada pasien. Namun gelombang di layar monitor menunjukkan bahwa jantung pasien tidak lagi berdetak dan tidak ada lagi adanya tanda-tanda kehidupan.


Hanya gambar garis lurus membentuk Horizontal yang nampak pada layar monitor. Ibu Laila telah menghembuskan nafas terakhirnya, tidak ada kata maupun pesan terakhir yang keluar dari mulut pucatnya. Tatapan matanya berubah nanar Tantri merasa semua tiba-tiba menjadi gelap, seketika pandangannya menjadi gelap. Dunia seakan berputar sangat cepat, air matanya tidak bisa lagi ia tahan.Tantri yang merasakan sesak di dadanya luruh dan terjatuh di lantai yang dingin, pihak rumah sakit menghubungi Nadia memintanya untuk datang ke rumah sakit secepatnya.

__ADS_1


Nadia segera berangkat ke rumah sakit setelah pihak rumah sakit menghubunginya. Permadi dan Kania mengantar Nadia ke rumah sakit untuk melihat kondisi terakhir ibu Laila. Sesampainya di rumah sakit Nadia secepatnya menemui ibunya di ruang Perawatan.


Dilihatnya Tantri terbaring di brankar di samping brankar milik ibunya, yang seluruh tubuhnya telah di tutup oleh kain putih. Suster pun meninggalkan kakak-beradik itu di dalam ruangan. Permadi dan Kania turut ikut berada di antara mereka.


Nadia mengguncang -guncangkan tubuh Tantri yang masih terbaring lemah. Menyadarkan adiknya agar segera tersadar Nadia beranjak mendekati brankar dimana ibunya telah terbujur kaku tak lagi bernyawa. Tangis Nadia semakin mendera hatinya bagai di cabik-cabik tak ada tempat untuknya menyandarkan segala rasa pedih.


Selain pada pria yang telah memberikan cinta pertamanya selama 23 tahun bersamanya. Tantri yang tersadar dari pingsan memeluk erat Nadia menangis meracau tak karuan mengenang kenangan bersama ibunya.


"Bapak..... Bapakkk!!" Nadia tak akan sanggup mengatakan pada ayahnya. Jika ibunya telah tiada, sedangkan di rumah mama Dita Fafa tak hentinya menangis.


Fafa sama sekali tidak mau minum susunya Opa Sapto tak tahu lagi bagaimana cara merayu cucunya agar berhenti menangis. Akhirnya Sapto menghubungi Permadi menanyakan keberadaannya sekarang dan memintanya datang bersama Nadia. Permadi menarik lengan Nadia keluar ruangan menepikan diri untuknya bicara berdua.


"Nadia Kamu dengar baik-baik! Jangan pernah menceritakan masalah apapun tentang hubungan kita di depan mama juga papa. Aku akan menanggung semua biaya rumah sakit serta mengurus jenazah ibumu. Mulai hari ini, detik ini aku melepaskan semua tanggung jawabKu terhadap mu Nadia. Kau bukan istriku lagi". Talak Permadi tanpa perasaan.


Nadia yang tadi menangis menundukkan wajahnya seketika mengangkat wajahnya membelalakkan kedua matanya sempurna.


"Apa? Kau menceraikan Ku mas? Jahat kamu mas, tega kamu mas salahKu Apa mas?" tanya Nadia menangis menarik-narik kemeja permadi. Kania yang begitu senang mendengar permadi mentalak istrinya secara terang-terangan di depannya menyunggingkan senyum kemenangan.


"Aku dan Kania masih saling cinta, kami merencanakan mimpi bersama Kania yang dulu tertunda. Tapi semua hancur setelah aku tahu mama menjodohkanku denganmu." sarkasnya. Nadia menghapus air matanya kasar


"Lalu kenapa kau menerima perjodohan kita? Seharusnya kau dulu menolaknya. Selama dua tahun kita menikah, kau terlihat bahagia dan kau juga sangat menyayangiku ditambah dengan kehadiran Fafa. Lalu kau anggap Apa selama dua tahun menjalalani pernikahan?" tanya Nadia meninggikan suaranya.


"Misi. Aku menikahiMu hanya untuk sebuah Misi. Dan aku berhasil membuatmu jatuh cinta, dan mama sudah mendapatkan keinginannya yaitu mendapatkan cucunya. Aku tidak akan mengijinkan Mu mengambil Fafa dari Mama." Permadi melangkahkan kakinya meninggalkan Nadia sendiri. Menyandarkan tubuh lelahnya pada Pilar rumah sakit menjatuhkan dirinya ke lantai yang sudah tidak mampu lagi menyangga tubuhnya.

__ADS_1


Tantri membekap mulutnya dengan tangannya sendiri, dia pun tidak percaya dengan apa yang dia lihat dan Tantri dengar. Kakak ipar yang ia lihat begitu baik, perhatian selama dua tahun ini ternyata hanya sebuah kebohongan. Tantri seakan merasakan kepedihan yang Nadia rasakan.


__ADS_2