
Andrea meraih ponselnya yang tergelak di atas meja tamu, tertera nama Sriyani asisten rumah tangganya.
~ Halo Sri,
“... “
~ Apa!? Oke! Saya akan kembali ke Jakarta hari ini juga.
Andrea memutus sambungan telepon dari asisten rumahnya.
“Ada apa Andrea? Apa yang terjadi?“ tanya Ibra bingung melihat wajah panik Andrea.
“Mama, Mama pingsan. Saat ini mama ada di rumah sakit.“ ucap Andrea gugup.
“Kita ke Jakarta sekarang. Kemasi semua barang mu akan akan kembali ke hotel. 20 menit lagi aku akan menjemput mu.“ Angguk Andrea dengan kedua matanya yang berkaca-kaca.
Andrea menarik kopernya keluar dari kamar hotelnya untuk melakukan cek out. Sebelum beranjak ke bandara gusti ngurah rai Bali, bersama Ibra yang juga sama-sama sedang melakukan cek out hotel dan bertemu di lobi.
Setelah mendapatkan tiket penerbangan, mereka menunggu waktu jadwal penerbangan di bangku antrian. Bersama penumpang lainnya selama kurang lebih 45 menit.
*
*
__ADS_1
Andrea dan Ibra tiba di bandara internasional Soekarno-Hatta tepat pukul 11 siang. Mereka bertolak dari bandara ke rumah sakit setelah supir pribadi Ibra datang menjemputnya, dan mengantar Andrea ke rumah sakit untuk menemui mamanya yang sedang di rawat.
“Suster, dimana mama saya dirawat?“ tanya Andrea pada suster jaga, yang juga pernah menjadi asistennya saat ia masih bertugas di rumah sakit tersebut.
“Dokter, Andrea! Nonya Tania ada di ruang VIP Cempaka satu.
“Terima kasih!“ ucap Andrea berjalan dengan tergesa-gesa.
“Dokter Ibra!“ tegur suster Vania.
“Suster Vania, Dimana dokter Andrea?“ tanya Ibra yang tidak sempat mengantarnya karena mengisi kartu absennya terlebih dulu.
“Ada di ruang VIP Cempaka satu, Dok. Apa dokter Andrea sudah tahu jika papanya di tangkap polisi, Dok?“ tanya suster Vania ragu tidak berani menatap netra dokter Ibra.
“Apa!? Ditangkap polisi? Jangan bercanda, Sus!“ bukan dokter Ibra yang saja yang terkejut. Bahkan semua pegawai rumah sakit pun tidak percaya pada kabar yang mereka dengar. Bahkan menjadi topik trending di halaman utama media cetak dan di sosial media yang notabene nya bukan orang sembarangan yang bergelut cukup sukses di dunia bisnis.
“Mama! Bangun, Ma. Ini Andrea. Mama, kenapa semua ini harus terjadi? Gara-gara Andrea mama dan papa jadi seperti ini.“ Andrea menangis melihat mamanya terbaring lemah tanpa bisa mendengar suara juga tangisnya.
Ibra menyentuh bahu Andrea yang bergetar karena tangisnya, duduk di samping brankar menggenggam tangan lemah wanita yang selama 25 tahun ini menjaganya dengan cinta dan segenap jiwa raganya.
“Andrea, bersabarlah! Setelah ini akan ada jalan terindah untuk mu. Kau harus yakin pada caranya untuk mu menjadi kuat. Kau tahu bagaimana istri dokter Arshaka menjalani hidupnya, bukan? Tidak mudah baginya menjalani hidup sebagai single parent, bahkan tanpa orangtua sebagai sosok pengganti cinta dari suaminya yang tega berkhianat.“ Andrea semakin sesegukan menangis dalam pelukan Ibra bahkan cengkraman tangannya begitu terasa kuat di kedua bahunya. Rasa bersalah semakin menyerang jiwanya karena sebagian masalah yang terjadi pada Nadia memang ada hubungannya dengan dirinya.
“Aku yang bersalah. Aku yang telah menciptakan masalah besar ini, Aku telah membuat orang lain menderita kini Tuhan telah membalasnya. Aku yang terlalu egois tidak bisa menerima kenyataan.“ Andrea semakin menangis larut dalam kesedihan.
__ADS_1
“Kau menangisi kegagalan mu atau menangisi dosamu?“ ucap Arshaka tiba-tiba dari arah belakang. Andrea tercekat seketika meregangkan tubuh nya melepaskan pelukannya dari dekapan Ibra.
Andrea mengusap kedua matanya yang basah dan mulai membengkak. “Dokter Shaka!“ ujar Andrea menatap kedatangan Arshaka yang kini telah menjadi mantan kekasihnya.
“Maaf aku harus keluar, alangkah baiknya jika kalian bicara di tempat yang seharusnya.“ tutur Ibra mengingatkan sebelum keluar dari ruangan. Terlebih mereka sedang dalam emosi yang tidak stabil, mengingat ada pasien yang butuh ketenangan.
Arshaka melirik Ibra yang keluar menutup pintu lalu menatap Ibra setelahnya. “Aku tidak perlu bicara apapun lagi setelah tahu semuanya.“ Arshaka memutar tubuhnya keluar meninggalkan ruangan dimana Andrea menangis sesegukan menundukkan wajahnya.
“Aku harus menemui papa. Aku akan minta penjelasan dari papa.“ ujar Andrea pada dirinya tapi suara rintihan mamanya menghentikan langkah kakinya.
“Andrea! Andrea dimana papamu?“ lirih Tania pada suaranya yang lemah.
“Mama! Ini Andrea, Mah. Mama maafkan Andrea sudah buat mama dan papa menderita.“ tangisnya memeluk mamanya. Tania kembali diam tanpa lagi bersuara antara sadar dan tidak sadar di helaan nafasnya. Andrea mencium kening dan kedua pipi mamanya penuh sayang lalu pamit pergi untuk menemui papanya.
Di Koridor Andrea melihat Arshaka berjalan menuju ruang Anggrek, ia pun memanggilnya mensejajarkan langkahnya dengan Arshaka.
“Dokter Shaka!“ panggil Andrea.
“Kau tidak perlu menjelaskan apapun Andrea. Sudah cukup kau membuatku terpisah dari Nadia. Papamu berusaha membunuh istriku tapi putranya yang menjadi tameng demi menyelamatkan ibu dan adiknya yang belum terlahir ke dunia.“ jelas Arshaka menatap wajah Andrea yang tidak berani menatap wajahnya.
“Maafkan aku Shaka, maafkan aku. Aku sangat menyesali kebodohanku, karena ego dan emosiku demi cinta yang sudah membuat mata hatiku buta aku telah menyeret orangtuaku kedalam dosa.“ sesal Andrea mengatakan pada Arshaka pada pria yang dulu mencintainya dan sebaliknya.
“Kau terlambat menyesalinya Andrea, setelah semua yang terjadi.“
__ADS_1
“Kau boleh hukum aku Shaka. Kau boleh membenciku aku akan menggantikan posisi papa.Aku mohon bebaskan papa demi mama.
“Tapi sayangnya aku bukan Sang pengadil. Aku juga bukan Tuhan yang bisa menghukum mu dengan caraku.“ ucap Arshaka berlalu menyisakan Andrea yang masih menangis.