Cinta Tianda Ganti (Ketika Cinta Datang Dan Pergi)

Cinta Tianda Ganti (Ketika Cinta Datang Dan Pergi)
Cukup Menjadi Istri Sholehah


__ADS_3

“Saudara Adri, ada kunjungan untuk Anda.“ ucap sang sipir seraya membuka gembok sel tahanan.


“Kunjungan? Siapa yang datang menemuiku Firman ataukah Shaka?“ gumam Adri keluar dari sel mengikuti langkah sang sipir.


Adri terkejut mendapati sang putri semata wayangnya ada di ruangan duduk di kursi dengan tatapan matanya yang sayu.


“Andrea! Kau disini, Sayang?“ Adri bertanya pada putrinya dengan mata berkaca-kaca.


“Papa apa yang sudah papa lakukan? Mengapa papa berbuat sejauh itu, Pah? Papa tidak hanya mengorbankan diri papa saja, tapi mama keluarga kita, dan semua yang papa miliki hancur begitu saja hanya dengan satu kesalahan.“


“Jaga mama selama papa tidak ada. Jaga dirimu baik-baik sayang. Papa tidak perduli pada reputasi papa yang buruk dimata orang, hati papa sangat sakit setiap kali melihat mu bersedih karena cinta yang tidak akan pernah bisa kau miliki lagi Andrea.“ Papa Andrea menangis menggenggam tangan putrinya yang turut menangis menyayangkan tindakan papanya yang anarkis.


“Aku akan mencari pengacara terbaik untuk membebaskan papa. Jika perlu aku akan memohon pada Nadia dan Shaka untuk mengeluarkan papa dari penjara.“ ujar Andrea meyakinkan papanya untuk membebaskannya dari jeratan hukum.


“Tidak. Lebih baik papa menjalani kehidupan papa di penjara daripada papa harus melihatmu mengemis pada janda miskin tidak tahu diri itu.“ tolak Adri mentah-mentah tidak ingin menjatuhkan harga dirinya pada janda miskin yang setatus nya lebih rendah.


“Papa! Cukup, jangan lagi menghinanya dari awal Andrea yang salah. Andrea yang meninggalkan Shaka tanpa pesan dan kabar. Rasa takutku kehilangan dirinya lebih besar dari rasa cinta yang sesungguhnya yang tidak pernah aku mengerti. Cinta yang didasari keinginan untuk memiliki hanyalah sebuah obsesi, Tuhan tidak menakdirkan kami berjodoh. Demi Andrea papa harus menjalani hidup dalam jeruji besi dan papa terperosok dalam lubang dosa yang cukup dalam melenyapkan nyawa yang tak berdosa. Maafkan Andrea, Pah. Andrea sadar ini semua terjadi karena Andrea tidak bisa menerima kenyataan sebuah takdir Tuhan.“


Sebelum Adri melakukan tindakan bodohnya dan dipenjara. Dia sudah lebih dulu menyelamatkan aset dan surat berharganya serta menjual sahamnya pada perusahaan asing dan meminta Andrea untuk membangun usaha sesuai bidangnya. Andrea pamit saat sipir kembali membawa papanya masuk kedalam sel.


Tidak ada lagi tempat untuknya bercerita mengadu dan berkeluh kesah, Tania yang selalu menjadi tempat curahan hatinya kini terbaring lemah dirumah sakit. Adri sosok papa yang selalu ada untuknya memberi cinta dan perhatiannya hanya untuk Andrea putri satu-satunya. Kini harus mendekam di penjara karena sebuah dendam dan benci yang membakar habis dirinya serta keluarganya.


...***...


Di kediaman keluarga Bimantara semua menikmati acara makan malam bersama dengan keluarga adik sepupunya Hana dan Baskoro. Yang dihadiri oleh ketiga anaknya yang berada di luar kota, dengan tujuan untuk mempererat tali silahturahmi.


“Jadi mas Shaka kenal ka Nadia di rumah sakit? Terus nembaknya juga di rumah sakit.“ tanya Nada kepo. Nadia tersenyum melirik suami dan putra dari adik sepupu bunda Maya seraya menyuap nasi kedalam mulutnya.

__ADS_1


“Mau tanya aja atau mau tahu banget?“ canda Shaka pada Nada yang penasaran ingin tahu awal pertemuannya dengan Nadia dan menikahinya.


”Dua-duanya mas selain tanya juga mau tahu.” jawab Nada memotong lauk di piringnya dengan sendok.


“Untung Mas Shaka ganteng mapan, duitnya banyak. Kalo nggak ka Nadia mana mau sama mas Shaka. Kenapa Ka Nadia nggak coba daftar kuliah aja di UGM kampusku mengajar di Yogyakarta? Ka Nadia masih kelihatan seperti anak gadis cantik dan imut.“ seloroh Hanan asal bicara membuat semua yang ada di meja makan ikut tertawa.


“Eitss... Jangan salah istri mas Shaka nggak gitu ya! Iya kan sayang. Istri mas Shaka sangat penurut?“ Shaka sengaja mencium pipi istrinya di depan semuanya membuat suasana sedikit gaduh. Nadia melirik suaminya tajam sedangkan Shaka tersenyum kaku menatap istrinya yang tengah menyorotinya dengan tatapan protes.


“Ya, ampun so sweet banget mas Shaka jadi melting aku.“ seloroh Nada tersenyum manja pada suaminya.


“Idihh,, Itu mah alay kali!“ sambung Hanan cuek.


”Benar apa kata Hanan. Kenapa mas Shaka tidak daftarkan Ka Nadia kuliah saja, lagipula tidak masalah walau Ka Nadia hamil belum terlalu terlihat juga.” ucap Bagas menimpali obrolan antara Hanan dan Shaka, Bunda Maya dan Firman serta yang lain nampak mengangguk melirik Nadia.


”Boleh juga, Nadia bisa kuliah sesuai skillnya.” ujar Firman menyetujui.


Mereka pun melanjutkan kembali makan malam dan bergabung di ruang tengah setelahnya, hanya Nadia dan Nada saja yang berada dikamar menemani dua anaknya yang masih asik bermain lego.


“Berapa usia Ameera sekarang Nada?“ tanya Nadia menggendong Ameera dalam pangkuannya.


“Baru beranjak 8 bulan Ka Nadia,“ jawab Nada.


“Kalo Ameer?“ tanya Nadia lagi.


“Ameer 5 tahun.“ jawabnya lagi


“Lima tahun? Usianya tidak beda jauh dengan Fafa. Seandainya saja Fafa masih ada mungkin mereka akan menjadi teman bermain yang menyenangkan.“ ucap Nadia dengan kedua matanya yang mengembun, teringat akan almarhum putranya Fafa.

__ADS_1


“Sayang, Ko masih disini? Sudah malam ayo kita istirahat!“ ajak suaminya kembali ke kamarnya.


“Ihh... Apaan sih, mas Shaka! Baru juga jam sembilan udah ngajak tidur aja.“ gerutu Nada sebal yang sedang asik ngobrol dengan Nadia.


“Sudah malam Ameera sama Ameer juga sudah ngantuk.“ Shaka melirik dua bocah lucu lewat sorot matanya. Nadia menidurkan Ameera yang sudah lelap dalam mimpinya dengan sangat hati-hati.


“Ameera, selamat tidur sayang!“ Nadia mengelus pipi chubby Ameera dan mengecupnya. Shaka mengacak pucuk rambut Ameer yang masih sibuk merangkai lego menjadi robot mainan.


“Mas Shaka! panggil Nada menghentikan langkah keduanya. Shaka menoleh merasa namanya dipanggil.


”Ya kenapa Nada?” tanya Shaka menatap Nada.


”Mas Shaka bakal kasih izin ka Nadia kuliah kan?” Shaka membulatkan kedua matanya tajam.


”Apa! kuliah? Tidak... Tidak aku tidak mengizinkan istriku kuliah. Cukup diam di rumah melayani suami, mengurus anak dan menjadi administrasi keuangan suami.”


”Haaa..... Mas Shaka pria kolot. Mas Shaka takut jika Ka Nadia di taksir dosen atau mahasiswa lain kan?” Tanpa menjawab Shaka mengeratkan tangannya yang melingkar di pinggang istrinya posesif.


Seperti biasa sebelum tidur Nadia dan Shaka membersihkan diri dan mengganti pakaiannya yang lebih nyaman.


”Mas Shaka ko liatinnya gitu sih? Ada apa mas?” Nadia bertanya pada suaminya yang menatapnya lekat.


”Mas nggak akan izinin kamu kuliah, nanti yang ada semua mahasiswa dan dosen pria sibuk godain kamu sayang.”


”Mas Shaka ngomong apa sih? Nadia cukup jadi istri sholehah nya mas Shaka dan menjadi ibu yang baik untuk anak-anak kita kelak.” ucap Nadia menyenangkan hati Shaka dan menyambar bibir suaminya tiba-tiba. Shaka tidak menyangka jika istrinya bisa agresif juga dan mendekap tubuh suaminya erat dengan gerakan jari lentiknya yang sedikit sensual di dada suaminya yang sedikit ditumbuhi bulu-bulu halus.


Meski ada sedikit rasa cemas karena kondisi kehamilan Nadia yang masih sangat muda dan rentan. Sebagai suami Shaka tidak kuasa menolak keinginan istrinya yang mungkin dalam pengaruh hormon kehamilan. Tanpa ragu Shaka membalas tiap kecupan lembut istrinya, yang perlahan semakin dalam dan menuntut. Hingga mendapatkan apa yang sama-sama mereka cari

__ADS_1


__ADS_2