
Aldo dan Fafa berjalan bergandengan tangan layaknya anak dan papahnya. Tidak hanya Aldo yang merasakan ketenangan batin yang ia rasakan saat ini. Tapi kebahagiaan itu Fafa rasakan sejak lama yang menginginkan sosok seorang papah. Setiap kali Fafa bertanya siapa ayahnya dan berada dimana? Nadia selalu mengatakan jika papahnya berada di luar negeri yang sedang menempuh pendidikan di Afrika.
Nadia memijit pelipisnya yang sedikit pusing karena mabuk perjalanan, yang tidak terbiasa bepergian jauh.
Sedangkan Arshaka berjalan semakin mendekat ke arah dimana Nadia berada. Arshaka benar-benar melihat wanita yang selama tiga tahun ini dicarinya, wanita yang sudah membuatnya tergila-gila sedetik pun ia tidak bisa melupakan wajahnya yang selalu bermain-main di matanya.
"Nadia! Kau kah itu?" lirihnya menatap tak percaya pada wanita yang dulu dikenalnya sangat sederhana, jauh dari kata glamor, dan mewah.
Kini Nadia menjadi sosok wanita yang cantik, modis dan terlihat lebih feminim.
"Nadiaaa!" panggil Arshaka dengan senyunya yang nampak bahagia.
Nadia sangat tekejut dengan apa yang dilihatnya, Nadia beranjak dari duduknya menatap lekat pria tampan yang hingga saat ini sulit untuk ia lupakan. Semakin ia melupakan justru bayangan wajahnya selalu memenuhi pikirannya.
__ADS_1
"Dokter Arshaka?!" ujarnya kaget. Nadia seperti melihat makhluk asing yang membuatnya takut. Nadia segera membalikkan tubuhnya menghindari Arshaka tapi Nadia tidak tahu harus pergi ke arah mana, Alhasil Nadia terpeleset karena jalanan yang masih basah dan licin.
Arshaka segera menarik tubuh Nadia yang hampir melayang dan jatuh ke tanah, beruntung Arshaka berhasil menopang tubuh Nadia kedalam dekapannya. Dalam seperkian detik Arshaka dan Nadia saling bertaut, dan larut dalam tatapan yang sulit mereka artikan. Bayangan awal pertemuan Nadia dan Arshaka di rumah sakit kembali terulang.
"Nadia aku benar-benar merindukan mu." ucap Arshaka tepat di telinganya dan itu membuat tubuh darahnya mulai berdesir aneh.
Pada kenyataannya Nadia masih sangat merindukannya, meski keinginannya adalah ingin melupakan pria yang sudah membuatnya jatuh cinta.
"Dokter, Maaf Anda salah orang. Saya bukan Nadia, Terima kasih sudah menolong ku." ujarnya melepaskan diri dari dekapan Arshaka.
"Anda ini bicara apa Say_ " Arshaka menarik tubuh Nadia dan membawanya sedikit menjauh dari tempat ia berada sebelumnya.
"Dokter, Kau akan membawaku kemana?" tanya Nadia cemas. Ia takut Aldo dan putranya panik mencari dirinya tidak ada di tempat ia duduk.
"Nadia, seharusnya kau tahu apa yang kurasakan saat itu. Bukan malah pergi untuk menghindariku dan meninggalkan ku lagi," ucapnya tepat di depan wajah Nadia bahkan sangat dekat tanpa lagi mengikis jarak.
__ADS_1
Rindu yang memenjara jiwanya tidak dapat lagi Ia tahan, reflek bibir Arshaka telah menyatu dengan bibir Nadia tanpa di sadari dimana ia berada saat ini. Bisa saja jika ada warga atau masyarakat yang melihatnya mereka akan melaporkan perbuatannya pada kepala desa. Bahkan Arshaka dan Nadia bisa sama-sama di gerbek warga karena ketahuan mesum di siang bolong dan di tempat terbuka.
Nadia memejamkan kedua matanya seolah menikmati sentuhan lembut benda kenyal dan manis di bibirnya.
Tanpa mereka sadari sepasang mata menatapnya nyalang rasa benci, marah, kecewa dan terluka sekaligus. Andrea sangat terpukul dengan apa yang dilihatnya Andrea menangis menutup mulutnya agar isakannya tidak terdengar siapapun. Ia lari ke arah posko dimana tenda-tenda berada tanpa sengaja Andrea menabrak dada dokter Ibrahim yang biasa di panggil dokter Ibra. Seorang dokter ahli ortopedi dan organ dalam di rumah sakit Juanda Surabaya. Ibra menangkap tubuh Andrea yang tengah menangis tanpa menatap wajahnya, luka di hatinya yang telah membuatnya tidak perduli siapa orang yang telah ia tabrak tanpa mengatakan kata maaf karena sibuk dengan perasaannya.
"Hey, ada apa? Mengapa kau menangis?" tanya Ibra menarik tangan Andrea.
Tapi Andrea justru berusaha melepaskan diri dari genggaman tangan Ibra, dan menarik tangannya dengan paksa mecari tempat yang jauh dari keramaian untuknya menyendiri.
Mencintai tanpa dicintai adalah hal yang paling menyakitkan, meski posisinya dulu adalah menjadi wanita satu-satunya yang paling dicintai. Hanya sebuah satu kesalahan yang menurutnya wajar yang menganggap cintanya akan tetap ada meski ia berlalu lalu kembali lagi. Hati bukanlah benda mati yang ditinggalkan lalu kembali akan kembali seperti dulu lagi, hati bagai sebuah bunga yang membutuhkan air untuk ia tumbuh dan berbunga semakin lebat.
Begitu pula dengan cinta, cinta tanpa adanya perhatian tanpa adanya kejelasan kemana hubungan akan dibawa, maka cinta itu akan pergi dengan sendirinya. Cinta akan mencari jalanya sendiri kemana ia harus berlabuh.
"Jadi namanya Andreyani Siregar. Sangat cantik," ujar Ibra mengagumi foto Id card milik Andrea yang terjatuh saat tadi tanpa sengaja menabraknya.
__ADS_1