Cinta Tianda Ganti (Ketika Cinta Datang Dan Pergi)

Cinta Tianda Ganti (Ketika Cinta Datang Dan Pergi)
Meluruskan Kesalah Fahaman


__ADS_3

"Atas nama ibu Nadia Chamelia," sebut seorang ojol pria berjaket hijau berhenti tepat di depan Nadia berdiri.


Nadia meletakkan kembali hapenya ke dalam slim bagnya. "Ya benar saya Nadia," ujarnya menunjuk dirinya.


Sang ojol memberikan helm berlogo motor itu pada Nadia dan memakainya sebelum ia naik ke atas motor.


Di tengah perjalanan Nadia tanpa sengaja melihat mobil milik Arshaka, melaju dengan kecepatan cukup tinggi melintas begitu saja melewati motor yang di tumpanginya.


"Mas Arshaka!" sebutnya lirih. Pandangan Nadia terus mengekor mengikuti laju gerak mobil Arshaka yang semakin jauh dan menghilang begitu cepat.


Mas Arsha nampaknya terburu-buru apa ada pasien darurat yang harus ditanganinya.


Pikir Nadia meyakinkan dirinya tanpa ada keraguan, sikap lembut dan santun yang Arshaka miliki membuat Nadia yakin. Jika pria yang baru lima bulan ia kenal adalah laki- laki tepat dan bertanggung jawab sepenuhnya.


Terlebih sikap keluarga Arshaka yang begitu baik terhadapnya dan adiknya, Tantri setelah mereka datang ke rumah untuk saling mengenal kedua belah pihak antar keluarga. Sayangnya Nadia sudah tidak memiliki kedua orangtua, yang ia miliki saat ini adalah adik perempuan yang sangat ia jaga.


"Saya turun di sini saja, Pak," pinta Nadia menepuk bahu sang ojol yang tidak mendengar seruan darinya.


Nadia memberikan helm pada supir ojek online dan tidak lupa ia memberikan uang tips padanya juga agar lebih semangat bekerja.


"Ini untuk saya mba?" tanya sang ojol sambil menunjukkan selembar uang lima puluh ribuan.


"Ya itu untuk bapak," ujar Nadia sambil merapihkan rambutnya karena terpaan angin.


Nadia pun pergi menuju arah gang menuju rumah orangtua Permadi mantan suaminya. Sedang sang ojol masih senyum-senyum menjembreng uang tips yang diterimanya.


"Wah jarang-jarang dapat uang tips segini, baik juga tu orang cantik lagi!" puji ojol itu melirik Nadia yang berjalan menjauh.


Di depan pintu gerbang Nadia melihat suasana rumah mama Dita nampak sepi. Ia sedikit ragu melangkah kan kakinya memasuki halaman rumah mantan mama mertuanya, Nadia melihat pintu pagarnya tidak terkunci sehingga dengan mudah Nadia masuk kedalam tanpa perlu memanggil tukang kebun untuk membuka kan gembok biasanya dikunci.


"Assalamualaikum. Ma, mama!" panggil Nadia dari balik pintu.


"Waalaikumsalam!" jawab Rini asisten rumah mama Dita. " Mba Nadia!" tegur Rini dengan raut wajah bingungnya.


"Mama dimana mba Rini? Nadia ingin sekali bertemu Fafa. Nadia kangen sekali ingin memeluknya." Keluh Nadia yang merasakan rindu pada putranya.

__ADS_1


"Fafa ada di taman belakang mba. Saya akan beritahu bu Dita jika mba Nadia datang." angguk Nadia mengekor di belakang Rini.


Nadia mendengar suara teriakan Fafa yang tertawa lepas mengikuti celotehan omanya. Reflek Nadia lari menghampiri putranya yang tengah bercengkrama dengan omanya.


"Fafa.....!'' panggil Nadia tersenyum menangis.


Mama Dita menolehkan kepalanya mencari sumber suara memanggil cucunya. Sontak mama Dita berdiri menatap Nadia kaget melihat menantunya tiba-tiba berada di rumahnya.


"Nadia!"


"Fafa ini bunda, Sayang." ucap Nadia berjalan mendekati Fafa.


Mama dita langsung meraih Fafa dalam gendongannya. Seakan ingin menjauhkan Nadia pada putranya, Fafa masih tertawa lucu melihat kedatangan bundanya dengan khas ocehannya.


"Nadia, masih punya nyali kamu datang ke sini? Bukannya kamu sibuk dengan urusan asmara mu dengan dokter itu?" ketus mama Dita.


"Ma, Nadia punya hak untuk menemui Fafa kapan pun Nadia adalah ibunya, Ma." jawab Nadia sedih akan kata-kata mama mertuanya.


"Saya akan membatasi waktu untuk mu menemui cucuku. Sejak kamu menghianati putraku saya tidak akan mengijinkan kamu datang dan pergi membawa Fafa semaumu." tukasnya penuh penekanan.


"Kamu itu tidak tahu malu Nadia. Sudah tertangkap basah masih saja mengelak, saya ini belum buta Nadia. Saya melihat semua perbuatan kamu dengan dokter itu termasuk kamu masuk ke apartemen dengan dipeluk laki-kali yang bukan suamimu. Masih bisa kamu membela diri dan mengatakan jika kamu perempuan baik-baik."


Mama Dita memanggil Rini dan memintanya membawa Fafa masuk kedalam. Fafa pun menangis melambai-lambaikan tangannya ke arah Nadia berdiri menatap.


"Fafa_! Ma tolong jangan pisahkan Nadia dengan putraku." mohon Nadia menangis mengikuti langkah Rini. Namun mama Dita mecegah dan menghalangi langkah Nadia masuk kedalam.


"Sebaiknya kamu pulang Nadia. Kamu tunggu saja di rumah orangtua mu! Kapan saya akan mengantar Fafa dan itu pun tidak lebih dari 24 jam." sarkas mama Dita.


"Dulu mama yang memaksaku untuk menerima perjodohan itu. Mama memaksakan kehendak mama sendiri agar mas Permadi mau menikahiku dan memutuskan Kania kekasihnya. Dan sekarang mama juga yang ingin memisahkan Nadia dengan putraku. Seharusnya Fafa masih berada dalam pengasuhan ibu kandungnya, Ma dan mama tahu itu." bantah Nadia membuat mama mertuanya sedikit geram.


"Semua yang kau katakan itu benar Nadia, tapi sayangnya saya tidak akan merubah semua keputusan saya." memutar tubuhnya melangkah hendak meninggalkan dimana Nadia berdiri.


"Bagaimana jika yang sebenarnya putra mama lah yang berselingkuh dan yang berkhianat dengan mantan kekasihnya. Apa mama juga akan memisahkan Nadia dengan Fafa?" tanya Nadia dengan wajah marah.


Mama Dita berhenti melangkah menoleh ke belakang menatap nanar wajah nadia yang sudah merah padam.

__ADS_1


"Sayangnya mama tidak percaya dengan ucapan mu Nadia." kembali melangkahkan kakinya meninggalkan Nadia.


"Mama...." panggil Nadia.


***


Sementara di kantor CV. Cahyo Abadi yang bergerak sebagai supplayer penyedia bahan material bangunan. tengah berada dengan kepala gudang meminta pada karyawannya untuk menghitung ulang barang yang masuk dan keluar.


Ardana Dinata ayah dari Kania sengaja datang ingin menemui Sapto di kantor untuk mengatakan padanya bahwa putranya Permadi telah menjalin hubungan terlarang dengan putrinya.


"Maaf Pak, Bapak ingin bertemu dengan siapa? Dan ada kepentingan apa? Biar saya panggilkan, bapak tidak perlu berteriak karena bisa mengganggu pekerja yang lain mohon pengertiannya," cegah security yang memaksa masuk kedalam ruangan pimpinan.


"Kalo begitu panggilkan pimpinan kamu sekarang juga." perintah Ardana berapi-api.


"Baik saya akan panggilkan, bapak bisa duduk tenang dan menunggu di ruang tunggu." ucap security menunjukkan tempat dengan mengindikkan ibu jarinya.


Melihat situasi kantor yang sedang tidak kondusif Rama asisten kepercayaan Sapto segera menemui pimpinannya sekaligus pemilik kantor.


"Maaf, pak di kantor ada tamu yang ingin menemui Bapak sepertinya sangat penting.'' ujar Rama memberi tahu.


Sapto menjeda pekerjaanya bersama kepala gudang dan meminta Adam, kepala eksekutif untuk mengecek semua barang bersama kepala gudang yang telah di tunjuk Sapto sebelumnya. Sapto menyerahkan berkas di dalam map biru kepada Adam sebelum ia keluar dari gudang menuju waiting room.


"Adam tolong cek semua saya harus menemui tamu!" pinta Sapto pada Adam


Ardana melihat kedatangan Sapto dari arah ujung pintu yang terdapat meja yang merupakan meja resepsionis. Dengan wajah dingin terkesan angkuh Ardana segera bangkit dari duduknya, menghampiri Sapto yang baru akan mendekati dimana ia berdiri menyambut kedatangan nya.


"Ardana Kau?!" tegur Sapto terkejut


"Ya. Ini aku Sapto Kau terkejut melihat Ku?" tanyanya dengan sikapnya yang sombong.


"Sungguh aku terkejut melihat mu ada dikantorku, Ardana."


"Tidak perlu basa-basi kedatangan Ku di sini untuk mengingatkan mu. Katakan pada putramu Permadi jangan pernah lagi berani berhubungan dengan putriku Kania. Atau aku akan menghancurkan semua reputasi putaramu itu termasuk projek barunya di Surabaya. Sudah beristri tapi masih menjalin hubungan dengan perempuan lain tidak tahu malu." geram Ardana meninggalkan Sapto begitu saja.


Menyisakan rasa marah dan malu yang menjadikan bahan gunjingan di kantornya sendiri. Sapto mengepalkan kedua tangannya menahan amarah yang luar bisa ia tahan mengeratkan rahangnya yang kokoh.

__ADS_1


__ADS_2