Cinta Tianda Ganti (Ketika Cinta Datang Dan Pergi)

Cinta Tianda Ganti (Ketika Cinta Datang Dan Pergi)
Membawa Hati Pada Sang Pemiliknya


__ADS_3

Nadia, Bagaimana jika kita menikah dalam waktu dekat?'' tanya Arshaka masih dalam posisi memeluk bahkan lebih erat lagi.


Nadia masih dalam diam hanya kedua tangannya saja yang membalas pelukan pria yang di yakininya adalah miliknya.


Sepasang mata menatap tajam dua insan manusia yang tengah diterpa badai dilema masing-masing. Masalah yang mereka hadapi bahkan semakin rumit, bagai benang kusut yang sulit untuk di gulung kembali.


"Nadia berjanjilah kau akan tetap mempercayaiku. Apa pun yang terjadi kau tetap percaya padaku." ucap Arshaka dengan hatinya penuh was-was menciumi buku jari wanita pilihan hatinya.


"Mas Arshaka kenapa bicara seperti itu. Aku selalu percaya pada mu, setelah pertemuan itu bersama ayah juga bunda maya. Aku sangat percaya pada mu mas." Arshaka kembali memeluk Nadia menahan tangisnya.


Ponsel Nadia kembali bergetar tertera nama mba Rini, Arshaka mengendurkan pelukannya memberi Nadia kesempatan meraih hapenya dan menerima panggilan telpon.


~ Mba Nadia cepat ke sini mba Fafa masih menangis.


~ Iya mba Rini saya sudah ada di jalan. Tolong jaga Fafa sebentar, saya akan sampai 10 menit lagi.


Nadia menutup panggilan telponnya, Arshaka kembali menyalakan mesin kemudinya menyisir jalanan yang masih ramai di lalui pengendara lain. Membanya pada tujuan mereka masing-masing.


Adri Papa dari Andrea menyaksikan langsung mobil Arshaka pergi membawa wanita cantik yang berada di dalamnya. Adri semakin yakin jika wanita yang berada di dalamnya adalah kekasih Arshaka pengganti putrinya. Adri menghubungi rumah menanyakan bagaimana keadaan putrinya setelah bertemu dan bicara pada Arshaka?.


Terdengar deringan telpon memeka telinga hingga terdengar dari kamar belakang tempat para asisten beristirahat, Lita yang baru saja keluar kamar mandi langsung menuju meja ruang tamu yang terdapat pesawat telpon itu berada.


~ Halo (Lita)


~ Bu Lita? (Adri)


~ Iya Pak Adri. Apa ada yang ingin di sampaikan?


~ Bagaimana Andrea apa dia baik-baik saja?


~ Alhamdulillah Non Andrea baik-baik saja, Pak Adri. Baru saja saya turun Non Andrea sudah tidur.


~ Terima kasih.

__ADS_1


Adri memutus panggil telponnya, memutar kunci mobil dan melanjutkan perjalanan nya srgera menuju rumah.


Papa tahu kau pasti sedang menangis di kamar Andrea. Papa tahu itu, sejak dulu kau memang lebih pandai menyembunyikan luka hatimu, Nak.


***


Flash back on,


"Sri, Apa aku terlihat cupu dan jelek dengan penampilan Ku seperti ini?" tanya Andrea sambil mekirik pantukan dirinya di cermin.


Tinnnnn....


Tinnnnn.....


"Non, itu pasti dokter Shaka," ujar Sri lari menatap ke luar jendela kamar Andrea. "Lihat Non Andrea itu dokter Shaka, MasyaAllah dokter Shaka ganteng sekali Non." puji Sri melirik Andrea dan Arshaka setelahnya.


Andrea tersipu malu menatap Arshaka yang berjalan masuk menuju pintu depan.


"Sri, bantu aku turun. Aku ingin sekali bertemu Shaka." pinta Andrea mendorong kursi rodanya.


"Shaka....." panggil Andrea menangis.


Arshaka tertegun, tatapan matanya terpaku melihat penampilan Andrea yang nampak berubah drastis. Tubuhnya seakan terpasung kaku begitu melihat Andrea nampak begitu jelas ada di depan matanya. Tubuh kurus, lingkar mata terlihat menghitam, wajah layu.


"And_rea..." panggil Arshaka.


"Shaka!'' ucap Andrea menangis menundukkan wajahnya menatap Arshaka malu.


Air matanya pun jatuh Andrea tidak kuasa menahan buncahan di dadanya yang begitu sesak di dadanya. Arshaka berjalan mendekati kursi roda dimana Andrea berada, duduk berjongkok menggunakan kaki kirinya sebagai tumpuan memegangi kursi roda.


"Andrea, jadi selama ini kau sakit tanpa aku tahu?" tanyanya. Andrea menganguk cepat terdengar isak tangisnya yang sesegukan.


"Tapi kenapa kau menyembunyikan semua ini, Andrea?" Andrea hanya menangis dan menangis sesegukan.

__ADS_1


"Ak_a_ku, malu Shaka, dan pada saat itu aku takut menerima kenyataan pahit. Jika aku telah divonis leukimia stadium tiga, dan aku memutuskan untuk diam tanpa memberitahu siapa pun. akhirnya mama dan papa tahu, papa segera membawaku ke Boston untuk melakukan pengobatan di luar negri. Dan aku pikir pengobatanku tidak akan lama karena mendapat penanganan dokter terbaik di Amerika, aku menutup semua akses komunikasi agar semua tidak tahu jika sakit. Kecuali dokter Sonya dia selalu memberitahuku semua tentangmu Shaka, termasuk wanita bernama Nadia." Isak tangisnya kembali terdengar.


"Dengan caramu yang seperti ini Kau telah menganggap Ku tidak ada, Andrea. Apa kau tidak berpikir betapa sulit dan susah payahnya diriku mencari Mu? Selama itu pula aku mencari kabar tentang Mu." ucap Arshaka marah mengguncang-guncangkan kursi roda yang Andrea duduki.


"Maaf, Maafkan aku Shaka,"


"Aku sungguh kecewa pada Mu Andrea."


Flash back on,


Adri mengetuk pintu kamar Andrea setelah kepulangan nya, yang sengaja mengikuti mobil Arshaka keluar dari rumahnya setelah bertemu Andrea. Adri sekedar ingin tahu kemana Arshaka melabuhkan dirinya setelah tahu keadaan putrinya yang sebenarnya. Dan ternyata benar dugaannya, Arshaka datang ke rumah wanita muda dan cantik. Arshaka pun memeluk nya erat, Adri yakin jika wanita itu adalah wanita pengganti putrinya.


Tokkk


Tokkkk


"Andrea, Sayang! Papa tahu kamu belum tidur sayang," panggil Adru sedikit keras.


"Papa!" panggil Tania istrinya.


"Mama!" ujarnya menoleh ke belakang.


"Papa kenapa ketuk pintu kamar putri kita? Biarkan Andrea tidur dan istirahat, Pa. Andrea pasti sudah tidur apa lagi tadi sudah minum obat 15 menit yang lalu.


"Papa hanya ingin memastikan jika Andrea baik-baik saja, Ma." jawab suaminya khawatir


"Andrea baik-baik saja, Pah. Papa juga tahu kan tadi Andrea terlihat bahagia setelah bertemu Shaka." Adri mengangguk lalu merangkul istrinya turun ke bawah tanpa lagi berkata.


Di dalam kamar Andrea menangis menyesali keputusannya, ia telah keliru mengambil keputusan. Bahwa dia akan menerima apapun konsekuensinya setelah Arshaka tahu akan kondisinya yang sebenarnya. Dan siap menerima keputusan Arshaka, seandainya Arshaka tidak lagi mencintainya. Tapi bukan itu yang membuat Andrea menangis, akan tetapi ucapan Arshaka yang membuat nya haru.


Seandainya saja kau jujur sejak awal Andrea, dan tidak menyembunyikan kondisi dan keadaan mu yang sebenarnya mungkin aku masih akan tetap mencintai mu. Dan aku sendiri yang akan membawa mu berobat sampai kau sembuh. Dan kau sudah tahu jika saat ini hatiku telah ada cinta yang lain.


"Maafkan hamba ya Allah pada kenyataannya. Aku tidak rela kehilangan dirinya, maaf Nadia aku tidak sanggup melepas Shaka, maaf jika aku egois," lirih Andrea pada dirinya sendiri.

__ADS_1


Akhirnya Arshaka dapat bernafas dengan lega setelah mengatakan pada Andrea, dan ia mau menerima dan mengerti akan keputusannya. Arshaka pulang ke apartemen setelah mengantarkan Nadia ke rumahnya dan mengajak Fafa pulang bersamanya. Sesampainya di loby apartemen Arshaka memarkir mobil dan menguncinya sebelum masuk menuju pintu lift.


__ADS_2