Cinta Tianda Ganti (Ketika Cinta Datang Dan Pergi)

Cinta Tianda Ganti (Ketika Cinta Datang Dan Pergi)
Membawa Nadia Ke Rumah Sakit


__ADS_3

Permadi menarik tangan Kania ke arah taman dekat dengan parkiran dengan kasar dan menghempaskan tubuhnya lalu menampar pipinya keras


Plakkkk!!


"Kania, kau dengar kata-kataku! Aku tidak menjamin hubungan pernikahan ini lebih lanjut terlebih ayahmu belum bisa memberikan restunya. Dan setelah apa yang kau lakukan pada Nadia kau tidak hanya mempermalukan ku di depan umum. Tapi kau juga menelanjangi dirimu sendiri dengan menunjukkan sifat mu yang sesungguhnya di hadapan teman-teman mu." gertak Permadi memberikan peringatan kerasa pada Kania untuk tidak lagi macam-macam dengan mantan istrinya.


"Kau masih saja memikirkan dia Mas. Dia itu bukan-bukan siapa-siapa kamu lagi." protes Kania tidak terima.


"Kau salah Kania dia tetap ibu dari anakku?" ucap Permadi tanpa menoleh lagi berjalan lurus meninggalkan Kania sendiri yang masih merasakan panas di pipinya akibat tamparan dari suaminya.


"Sayang, Karin ayo kita pulang, Nak." ajak Permadi menggandeng peri kecil kesayangannya.


"Papa ko bajunya basah?" tanya Karina menatap penampilan papanya yang basah kuyup.


"Iya, sayang tadi papa terpeleset." jawab Permadi kilahnya.


"Mama mana, Pah?" Karin bertanya lagi yang memang sudah menjadi ciri khasnya yang suka bertanya membuat orang di sekitarnya sulit menjawab pertanyaannya.


"Nanti mama menyusul tas mama ketinggalan," Permadi terpaksa berbohong lagi pada putrinya. Ia tidak ingin Karin tahu yang sebenarnya apalagi jika mengetahui sifat mamanya yang tidak baik saat di acara tadi, ia takut putrinya menjadi peniru dari tabiat Kania. Cukup dirinya yang gagal menjadi suami serta papa yang baik untuk putranya.


Permadi ingin Karin menjadi putri yang manis dan penurut yang memiliki sifat lembut seperti Nadia.


Kania membuka pintu mobil dan menutupnya dengan kasar membuat Karin terkejut hanya menatap mamanya penuh heran.


"Mama kenapa? Ko wajah mama merah?" Karin menatap wajah mamanya yang nampak diam.


"Mama tidak apa-apa, Sayang," jawab Kania datar yang masih menunjukkan senyum palsunya.


Permadi menyalakan mesin mobilnya bergerak menjauh meninggalkan gedung acara yang masih berlangsung. Menatap Fokus pada jalanan di depannya tanpa ada obrolan hangat dan candaan seperti biasa mereka lakukan saat di dalam mobil.


"Mama sama papa kok diam aja? Mama marah ya atau papa yang marah?" Permadi melirik putrinya yang ceriwis juga cerdik sekilas mengusap rambutnya gemas menarik tubuh mungil putrinya dalam pelukannya.

__ADS_1


"Nggak mau di peluk papa, baju papa basah." tolak Karin menghindari papanya. "Mama tadi aku lihat pangeran tampan seperti yang aku lihat di dvd player ku."


"Oh, ya. Dimana sayang?" tanya Kania datar.


"Di acara teman mama tadi, Mah. Pangeran tampannya loncat ke dalam kolam menyelamatkan princess cantik dan pangeran itu bajunya basah seperti papa. Pah ko princess nggak bisa berenang?" Karin melirik papanya seolah menuntut meminta jawaban dari papanya atas pertanyaannya.''


"Karena dia bukan princess sayang, tapi perempuan bod__"


"Kania!" bentak permadi melarang Kania melanjutkan ucapannya yang Permadi tahu untuk menjelekkan Nadia. Karin menatap kedua orangtuanya bergantian dengan mimik wajah bingung.


🍁🍁🍁


Arshaka membawa Nadia ke rumah sakit untuk memastikan kondisi tubuhnya baik-baik saja setelah ia memberikan pertolongan pertamanya. Fafa melirik bundanya heran kenapa tubuh bundanya basah dan terlihat lemah.


"Ayah kenapa baju bunda basah?"


"Iya, sayang tadi bunda ikut permainan di kolam air." jawab Arshaka bohong.


"Ayah tidak ingin Fafa sakit karena main air malam-malam nanti bisa batuk pilek?" bohongnya lagi.


"Mas kita mau kemana?" tanya Nadia lemah melirik jalanan yang bukan menunjukkan arah pulang di depannya masih dengan posisi memeluk Shaka karena dingin basah di tubuhnya.


"Aku akan membawa mu ke rumah sakit, untuk memastikan saja sayang jika kau tidak apa-apa."


"Aku tidak apa-apa mas. Kita pulang saja istirahat di rumah." pinta Nadia yang tidak disetujui suaminya.


"Tidak...tidak sayang kali ini aku tidak akan menuruti mu. Aku tidak ingin terjadi sesuatu pada mu." Nadia tidak bisa lagi membatah ucapan suaminya yang overprotektif masalah kesehatan ditambah lagi profesinya sebagai seorang dokter.


Setibanya di rumah sakit Arshaka meminta petugas membawakan brankar dan membawanya ke ruang perawatan. Kebetulan di koridor Arshaka bertemu dengan suster sonya yang baru saja keluar dari ruang perawatan. Melihat dokter sekaligus manager utama rumah sakit, sonya segera mendekati brankar yang Arshaka dorong menuju ruangan.


"Suster tolong gantikan pakaian istri saya yang basah dengan pakaian steril rumah sakit. Lalu periksa kondisinya pastikan paru-parunya bersih dari Floating chlorine."

__ADS_1


"Baik dok." Suster Sonya membawa Nadia ke ruang perawatan sesuai perintah atasannya. Dan melakukan apa yang diminta sebagai tugasnya sebagai seorang suster yang merawat pasiennya di rumah sakit.


Setelah memastikan Nadia dalam perawatan Suster Sonya Arshaka pamit pada Nadia untuk pulang mengantar Fafa ke rumah bunda Maya dan mengganti pakaiannya yang basah.


***


"Ayah kenapa bunda di bawa kesini? Kenapa bunda tidak bobo di lumah saja sama ayah? Fafa janji tidak akan nangis lagi ayah juga boleh peluk bunda." Arshaka tersenyum mendengar ucapa polos Fafa yang terdengar sangat jujur ada rasa tidak tega meninggalkan Fafa di rumah bersama bunda Maya.


"Bunda harus di obati dulu biar tidak sakit setelah bermain air baru boleh pulang sayang. Sementara Fafa bobo di rumah bersama oma karena ayah akan menjaga bunda di rumah sakit." Fafa mengangguk menurut ucapin ayahnya.


Seperti biasa Pak Lukman membukakan pintu gerbang untuk tuan mudanya. Rumah terlihat sepi Arshaka mengetuk pintu kamar bunda Maya yang kelihatannya sudah tidur.


"Shaka kenapa pakaian mu basah?" tanya bunda Maya heran dengan penampilan Shaka yang basah kuyup.


"Bunda Shaka ceritanya nanti saja. Shaka mau minta tolong bunda. Malam ini Fafa boleh kan tidur sama bunda dan ayah semalam saja? Shaka harus ke rumah sakit menjaga Nadia." ucap Shaka.


"Apa Nadia di rumah sakit?" kejut bunda.


"Nadia kenapa Shaka?" Firman turun dari ranjang kini ganti ayahnya yang bertanya perihal menantunya di rumah sakit.


"Ya sudah biar Fafa sama bunda cepat sana ganti pakaian mu nanti kamu malah sakit karena kedinginan," perintah bunda.


Shaka naik ke lantai dua untuk mengganti pakaiannya yang basah, Bunda Maya membangunkan asisten rumahnya di kamar belakang yang kebetulan belum tidur untuk membersihkan Fafa dan mengganti pakaiannya sebelum tidur.


Setelah Fafa bersih dan wangi bunda Maya mengajak cucunya tidur di kamarnya bersama opanya. Fafa melihat kamar opa Firman yang luas dan nyaman ada banyak bingkai foto yang terpajang dinding kamar oma dan opanya. Satu persatu Fafa melihat deretan Foto yang belajar tapi yang sama sekali tidak ia ketahui. Diantara banyaknya bingkai foto hanya foto Shaka, Firman, dan Maya saja yang Fafa kenali.


"Sini Fafa sayang bobo sama oma dan opa!" Fafa menoleh setelah puas melihat foto keluarga yang menggantung di dinding. Fafa berjalan mendekati ranjang king size milik opa, omanya Firman mengangkat tubuh gemuk Fafa di tengah-tengahnya.


"Opa itu foto siapa yang pakai topi dan baju macan?" Bunda Maya dan suaminya tertawa akan pertanyaan Fafa yang lucu tentang ayahnya yang menjadi seorang tentara.


Firman pun menceritakan satu persatu siapa yang ada dalam bingkai foto yang menggantung di dinding kamarnya. Sedangkan bunda Maya mengelus-elus rambut Fafa lembut serta menepuk-nepuk bokong Fafa agar tertidur lebih cepat. Akhirnya Fafa tertidur setelah mendengar cerita dari opanya seperti bundanya yang selalu bercerita buku cerita dalam kisah dongengnya.

__ADS_1


Bunda mengganti lampu kamarnya yang terang menjadi lampu tidur yang temeram dengan pencahayaan yang tidak terlalu redup untuk mereka tidur.


__ADS_2