
Hari demi hari telah mereka lalui tanpa terasa usia kandungan Nadia sudah menginjak empat bulan. Semua saudara dan kerabat Bimantara berkumpul mengikuti acara bahagia Nadia dan Shaka dalam acara empat bulanan.
Bunda Maya dan suami begitu antusiasnya, begitu juga dengan Shaka dan Nadia yang nampak sangat bahagia dikelilingi orang-orang yang begitu menyayanginya.
”Wah mba Nadia cantik banget pakai gamis syar'i Mas Shaka jadi makin lengket aja!,” goda Tantri mengagumi seraya mengelus perut Nadia yang terlihat membesar.
Nadia tersenyum melirik suaminya yang sejak tadi tidak bosan memandang wajahnya.
”Istrinya dokter Shaka memang selalu cantik.” puji suaminya melingkarkan tangan kekarnya di pinggang Nadia. Seraya mendaratkan kecupan di pipi kirinya.
Tantri dan Nada melebarkan kedua matanya dengan mulut terbuka.
”Ya ampun bikin melting tau nggak! Mas Shaka jadi kangen aku.” seloroh Tantri dengan mimik wajah manjanya.
”Dasar mas Shaka! Mas ku ini emang nggak tahu malu banget. Nggak liat apa ada yang jomblowati sama jones disini.” cerocos Nada melirik kearah Tantri dan kakaknya yang sampai saat ini belum punya pasangan.
”Sayang siapa yang jomblo?” tanya Aldo tiba-tiba dari arah belakang merangkul pinggang ramping Tantri.
”Mas Aldo?!” kejut Tantri.
”Iya ini aku sayang!” ucap Aldo mengusap pipi Tantri dengan punggung tangannya.
”Duhh,, Ada yang patah hati dong!” seloroh Nada lagi menggoda kakaknya yang sudah hampir 8 tahun menjadi dosen di UGM. Mereka pun tertawa lepas saling melempar canda.
”Rame sekali ada apa ini? Sayang,Nadia acara akan segera dimulai. Ayo kita keluar acara tartil Al-Quran sudah di mulai. Shaka tuntun istrimu, sayang!”
”Siap bunda!”
”Ayo sayang kita keluar!” ajak Shaka menggandeng tangan istrinya menuju upacara empat bulanan. Mereka duduk sambil mendengarkan seorang Qori'ah membacakan lantunan ayat suci Al-Quran yang terdengar begitu indah dan merdu.
__ADS_1
Selama pembacaan surat, Shaka tak hentinya mengelus perut Nadia yang membuatnya begitu bahagia. Tidak lama lagi setatusnya sebagai suami akan menjadi seorang ayah. Seperti yang bunda Maya dan ayah Firman inginkan, melihat putranya menikah dengan wanita pilihannya dan memiliki anak yang lucu-lucu.
Tujuan dari upacara empat bulanan itu sendiri adalah sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan. Yang telah memilih wanita untuk diberikan kepercayaan sebuah amanah untuk menjadi seorang ibu. Karena tidak semua wanita diberi zuriat
Dimana ruh telah ditiupkan kedalam janin dan tertulislah empat hal untuk Si jabang bayi Rezeki, jodoh, maut dan takdirnya.
Proses acara 4 bulanan pun di tutup dengan do'a serta jamuan untuk para tamu undangan. Serta ucapan terima kasih atas kehadiran para tamu undangan yang telah hadir mendoakan ibu dan bayi yang ada dalam kandungannya agar bayi lahir dengan selamat.
Setelah Shaka memberi ucapan terima kasihnya kepada para tamu undangan. Satu persatu tamu pamit seraya memberi ucapan selamat pada Shaka dan Nadia dan pulang dengan membawa bingkisan sebagai ucapan terima kasih atas kehadirannya.
Tamu pun mulai berangsur surut, keluarga Baskoro pun pamit pulang. Sedang Tantri pergi bersama Aldo menikmati waktu libur mereka. Andrea dan Ibra pun menyempatkan datang ke acara untuk memberi ucapan selamat.
”Nadia, Shaka selamat untuk kalian. Semoga bayi kalian sehat dan lahir dengan selamat. Dan menjadi ank yang cerdas dan lucu kalian pasti bahagia.” ujar Andrea memberi selamat pada pasang yang memang tengah berbahagia.
”Terima kasih Dokter Andrea, Dokter Ibra. Sudah menyempatkan diri datang ke acara kami,” ucap Nadia mengembangkan senyumnya begitu juga Shaka meski masih terlihat kaku dan hanya tersenyum tipis.
”Disini jangan panggil kami dokter, Nadia. Panggil saja aku Andrea bukan begitu mas Ibra?” tanya Andrea tersenyum canggung.
”Sayang hati-hati jalannya!” titah Shaka menggandeng tangan istrinya dengan posesif.
”Iya, Mas maaf.” balas Nadia seraya mendaratkan tubuhnya di kursi.
”Bagaimana jika kita sekalian makan siang saja sudah hampir pukul sebelas. Kalian pasti lapar bukan?” kehamilan Nadia kali ini sungguh berbeda dari kehamilannya pertama dulu dengan mantan suaminya. Kali ini Nadia lebih enerjik, bersemangat dan sangat cerewet tentunya lebih dia manja.
Nadia memangg asisten rumahnya untuk membawakan menu makan siangnya, yang akan mereka nikmat bersama.
”Bibi, mba Titin! Tolong siapkan makan siangnya. Saya ingin makan disini kelihatannya lebih nikmat jika makan bersama seperti ini.” pinta Nadia antusias.
”Bibi tolong siapkan semua yang istri saya mau,” pintar Shaka pada asistennya yang sudah hampir 20 tahun bekerja untuknya sejak dia kecil.
__ADS_1
”Akan Bibi bawakan untuk Non Nadia.”
”Terima kasih, Bi.” ucap Shaka.
Titin dan Bibi membawa menu makan siang yang Nadia pesan sebelumnya. Ikan gurame bakar dengan bumbu pedas asam manis, sayur cah asparagus dan sapo tahu. Dan aneka junkfood bakar dan goreng.
”Kelihatan sangat enak, Nadia. Apa bayimu menginginkan ini semua?” tanya Andrea tersenyum heran menggelengkan kepalanya ringan.
”Benar Andrea sudah dua hari yang lalu aku sangat menginginkannya. Mas Shaka baru sempat mengajak belanja kemarin. Karena sibuk mempersiapkan acara tadi.” Mereka pun tertawa renyah. Nadia mengisi piring suaminya lengkap dengan lauknya begitulah Andrea melakukan hal yang sama untuk Ibra.
”Nadia! Sayang kalian disini bunda mecarimu didalam.” Bunda Maya mencari menantunya yang tidak kelihatan sejak terakhir sesi foto bersama keluarga.
”Bunda, dimana ayah? Kenapa tidak ikut bergabung makan siang?” tanya Nadia dan Shaka.
”Ayahmu masih sibuk dengan teman-teman medisnya. Bunda sudah sangat lapar dan rasanya seperti mau pingsan saja,” ujarnya seraya menyendok nasi kedalam piring kosongnya.
Andrea melirik kearah bunda Maya. ” Tante!” sapa Andrea dan pria di sampingnya.
”Andrea kau disini? Ya sudah lanjutkan lagi makannya.” bunda menatap sekilas pria yang duduk di sebelah Andrea lalu kembali menekuni makannya. Meski bunda ingin tahu siapa pria itu? Bunda Maya lebih memilih diam tanpa lagi bertanya.
Usai makan siang bersama di kediaman rumah Bimantara, Andrea dan Ibra bersiap untuk pulang. Sebelum pamit Ibra mengatakan sesuatu yang penting pada Shaka dan keluarganya.
”Dokter Shaka kami juga berniat ingin mengundang kalian untuk datang ke acara pertunangan kami dengan Andrea. Jadi kami berharap kehadiran Dokter Shaka dan keluarga.”
”Oh, ya! Aku turut bahagia mendengarnya. Selamat juga untuk kalian” ucapan Shaka memberi ucapan selamat.
”Bunda juga turut senang dengan kabar baik ini, semoga kalian menjadi pasangan yang bahagia.”
”Terima kasih, Tante! Andrea harap setelah semua yang terjadi. Atas nama papa aku mohon Shaka, Nadia tolong maafkan semua kesalahan terbesar papa yang tidak mungkin kalian maafkan.
__ADS_1
Nadi meraih telapak tangan Andrea. ”Kami sudah memaafkan dan melupakan semua yang terjadi. Memang tidak mudah untukku melupakan, lalu dimana salahnya memaafkan orang yang sudah mengakui khilafannya. Aku juga sama seperti dirimu yang memiliki rasa benci, marah, emosi dan cinta. Karena kita adalah sama-sama wanita yang memiliki hati dan perasaan yang sama.” tutur Nadia yang masih mengukir senyum tulus di wajahnya.