
Mendengar suara mesin mobil yang berhenti di depan rumahnya, Nadia lari keluar secepatnya dan mengira jika mama mertuanya kembali membawa Fafa pulang.
"Mama...." Pangil Nadia antusias.
Arshaka tersenyum menatap Nadia menyebut bundanya dengan panggilan mama, lalu melirik kedua orangtuanya dengan tersenyum. Yang diikuti tatapan iba kedu orangtua Arshaka melihat wajah sedih Nadia menyambut kedatangannya.
"Mas Arsha!" langkah Nadia mendekati mereka.
"Nadia, Apa kau akan membiarkan kami berdiri tanpa menyuruh kami masuk?" tegur Arshaka membuyarkan lamunannya.
"Ehhh, iya mas. Maaf!" Nadia tersentak dari lamunannya.
"Nadia!" sapa bunda Maya.
"Assalamualaikum, Tante!" mencium punggung tangan bunda Maya.
"Ko' tante? Tadi sudah panggil mama!" goda bunda Maya tersenyum.
"Kau bisa panggil beliau Bunda, Nadia dan ayah,'' ucap Arshaka melirik ayahnya yang di balas anggukan kecil.
Nadia mengajak Arshaka dan kedua orangtuanya masuk ke dalam, mempersilahkan duduk dan meminta Tantri mebuatkan teh jahe hangat. Sementara Nadia menemani tamu istimewanya mengobrol, di ruangan yang tidak terlalu luas namun cukup nyaman untuk ditinggali. Bunda Maya mengedarkan pandangan seakan menyapu seluruh ruangan rumah mengamati tiap objek isi rumah Nadia.
Hanya jam dinding kuno serta bingkai foto yang berjejer yang menggantung di dinding. Tidak ada ornamen ataupun hiasan pernak-pernik rumah benda-benda bernilai jual, sofa yang mereka duduki pun sudah sangat pudar dengan sobekan di beberapa sudut dan tempat. Bunda Maya menatap Nadia dengan tatapan iba dan rasa empati untuknya.
" Maaf, Bunda memang seperti ini keadaan kami," ucap Nadia merendah.
"Nadia, tidak apa-apa kedatangan kami ke sini selain ingin mengenalmu sebagai calon menantu.
"Kami juga ingin mengucapkan bela sungkawa meninggalnya ayah mu," sambung Firman tiba-tiba ayah Arshaka.
"Benar sekali, Sayannya putraku Arshaka tidak mengatakan jika di sini sedang ada musibah." timpal bunda Maya lagi.
''Maaf Nadia jika kedatanganku bersama ayah juga bunda cukup membuat mu kaget." tutur Arshaka sopan.
"Iya, Mas aku cukup kaget dan aku kira yang datang tadi ma_", Nadia menjeda ucapannya kala Tantri datang membawakan jamuan.
"Nyonya, Tuan. Silahkan di minum! Akan lebih nikmat jika di minum selagi hangat." ucap Tantri mempersilahkan.
"Terimakasih, Nak. Seharusnya tidak perlu repot-repot!" tutur bunda Maya.
__ADS_1
"Tidak sama sekali Nyonya, hanya ada air dan alakadarnya saja," balas Tantri basa-basi.
Tantri kembali beranjak ke dapur membereskan sisa peralatan makan setelah acara tahlilan selesai. Keluarga Arshaka pun segera mengutarakan maksud dan tujuan kedatangannya. Setelah mendengar penuturan dari dua belah pihak, akhirnya Nadia bisa bernafas lega setelah Arshaka mengatakan pada kedua orangtuanya akan niatannya untuk menikahi Nadia dan diterima baik oleh keluarga Arshaka.
"Tapi ada satu hal yang belum bunda dan ayah ketahui tentang diri saya yang sebenarnya." ucap Nadia ragu menatap Arshaka dan keluarganya bergantian.
Arshaka menggelengkan kepalanya ringan memberi kode pada Nadia untuk tidak mengatakan tentang statunya yang sebenarnya. Nadia menatap pria tampan berkharisma di hadapannya dengan tatapan ragu.
"Memangnya ada hal penting apa yang ingin kau sampaikan Nadia?" tanya bunda Maya penasaran.
"Katakan saja, Nak! Kau tidak perlu ragu sekarang kami adalah orangtuamu." ucap Firman setelah menyesap teh jahe dan meletakkan nya di meja.
"Maaf ayah, bunda. Sebenarnya Nadia__ "
"Nadia!" panggil Arshaka cepat.
Drttt!!
Drrrttttt!!
Ponsel Arshaka berdering memeka telinga panggilan telepon dari rumah sakit. Nadia terpaksa kembali menunda niatannya untuk mengatakan yang sejujurnya masalah setatus dirinya yang sebenarnya.
"Bunda, Shaka harus angkat telpon dari rumah sakit," ucap Arshaka sedikit menjauh untuk menerima telpon dari rumah sakit.
~ Baiklah saya akan segera ke rumah sakit.
"Bunda, Ayah, Shaka harus segera ke rumah sakit ada pasien yang harus segera di tangani. Nadia maaf aku harus ke rumah sakit dan aku akan mengantar ayah juga bunda terlebih dulu."
"Tidak apa-apa, Mas bukankah itu sudah menjadi tugas dan tanggung jawab seorang dokter."
"Nadia kami harus pulang, mungkin kita bisa lanjut dilain waktu. Main lah ke rumah jika ada kesempatan." senyum bunda Maya mengusap punggung tangan Nadia lembut.
"Insyallah, bunda!" jawab Nadia
Nadia dan Tantri mengantar keluarga dokter bedah itu sampai depan. Arshaka mencium kening Nadia sebelum akhirnya ia masuk kedalam dan menyalakan mesin kemudi.
Melihat perlakuan lembut Arshaka membuat hati Nadia semakin yakin dan mantap untuk menerima dokter yang pernah menangani almarhum orangtuanya, sebagai calon imamnya yang kedua sekali untuk selamanya. Itulah yang akan menjadi harapan Nadia dalam kehidupan rumah tangganya hidup bahagia bersama suami dan anak-anaknya kelak.
****
__ADS_1
Pesawat dengan maskapai American airlines mendarat dengan sempurna setelah dua kali transit menuju Bandara soekarno hatta. Setelah sekian lama memendam perasaan menahan rindu serta rasa sesak di dadanya kini Andrea bisa tersenyum lega.
"Kau terlihat sangat bahagia sayang mama senang bisa melihatmu kembali tersenyum," ucap Tania mendekatkan kepalanya di dahi Andrea mengecup kepala putrinya lembut.
"Andrea bahkan sudah sangat ingin bertemu denga Arsha, Ma."
" Mama paham kamu sangat merindukannya, Arsha pria yang baik, sopan dan mama suka semua yang ada pada diri Arsha."
"Terima kasih, Ma atas penilaian mama." angguk Tania.
Andrea dan mamanya turun dari pesawat menuju terminal dengan mendorong troly berisi koper bawaanya menunggu mobil papanya datang menjemput. Andrea melihat mobil Honda HRV putih berhenti tepat di depannya dan bediri dengan segera bereuforia menyambut Papanya.
"Papa, I miss you be youre self, Papa," peluk Andrea penuh semangat.
"My darlingnya Papa. Papa sangat merindukanmu sayang, Bagaimana pengobatan mu di sana sayang?" tanya papanya ingin tahu.
Andrea terdiam menggelengkan kepalanya pelan, dengan mimik wajah sedih melepaskan pelukannya seraya mengusap bulir bening yang telah jatuh di pipinya.
"Pah, kita bicarakan ini semua nanti setelah kita sampai. Andrea pasti lelah dengan perjalannya di pesawat Andrea tidak bisa memejamkan mata barang sejenak saja. Karena kerinduannya pada indonesia benarkan sayang?" Mengusap punggung Andrea.
"Mama benar sekali Andrea sangat lelah dan kangen tidur di kamar Andrea." ujarnya manja di bahu papanya.
"Baikalah darling ayo kita langsung pulang, Apa kau tidak lapar sayang?" tanya papanya lagi.
"Eee...!" Andrea menggelengkan kepalanya cepat.
Andrea menarik pintu mobil dan duduk di kursi belakang penumpang.
"Sayang apa kau tidak ingin duduk di depan saja? Agar lebih terlihat jelas melihat pemandangan kota." tanya Tania memberi saran.
"Untuk hari ini tidak, Ma. Lain kali saja Andrea ingin duduk di belakang istirahat sejenak agar bisa tidur." jawab Andrea denga matanya yang lelah.
"Baiklah sayang terserah kau saja," ujarnya.
Andrea masuk ke dalam mobil menyandarkan tubuhnya di kursi penumpang, setelah mengatur posisi ternyamannya untuknya istirahat dan tidur di dalamnya. Tania menatap sekilas putrinya yang telah memejamkan matanya dan tertidur setelah beberapa menit.
"Bagaimana apa putri kita sudah tidur?" tanya Adri Innez Siregar Suami Tania.
"Sudah, Pah. Putri kecil kita sudah tertidur. Putri kecil kita yang dulu selalu tertawa dan berteriak bahagia setiap kali menyambut kedatangan papanya pulang dari dinas. Tapi kini tawa dan canda itu telah pudar seiring waktu yang telah merenggut kebahagiaanya,"ucapnya menuturkan semua yang kini putrinya rasakan.
__ADS_1
"Papa tahu mama pasti merasakan apa yang putri kita rasakan. Dan papa juga merasakan sakit yang luar biasa tiap kali mama melakukan panggilan vidio call setelah Andrea melakukan kemoterapi." Adri menahan kedua matanya yang berkaca-kaca, agar tetap fokus pada jalanan di depannya.
Tania menyandarkan kepalanya di bahu suaminya mengaduhkan segala curahan hatinya selama satu tahun terakhir menemani putri tercintanya menjalani pengobatan di negri Paman Sam.