
"ARSHAKA...!" teriak Andrea memanggil nama pria yang membuatnya terluka. Andrea menangis sejadi-jadinya mengucap kata Arshaka di tengah tangisnya.
"Arshaka, aku pikir setelah aku sembuh dari sakit dan aku kembali secantik dulu kau akan kembali mencintai ku tapi aku salah. Kau tetap dengan pendirian mencintai janda itu, semakin aku menjauhkan mu dengan cintamu justru cinta itu semakin subur dan semakin aku mengejar cinta mu kau semakin menjauh," ucap Andrea kesal dengan nada bicaranya yang sedikit beroktaf. Kawasan hutan kota di sekitaran jalanan Ambarawa untuk mengeluarkan seluruh curahan hatinya bagai sebuah ledakan yang membakar habis dirinya.
Sedangkan dua insan yang tengah di mabuk rindu yang tak ubahnya bagai dua remaja yang tengah mabuk asmara. Arshaka tidak ingin kehilangan momen pertemuannya dengan Nadia, setelah tiga tahun lamanya ia mencari keberadaannya yang membuatnya hampir gila.
"Nadia, jangan pernah lagi kau meninggalkan ku. Ku mohon tetaplah di sini bersama cinta yang dulu pernah ada dan selamanya cinta itu akan tetap ada untuk mu." ucap Arshaka tanpa mau melepaskan pelukannya yang semakin erat hinga membuat Nadia sulit bernafas.
"Tolong lepas kan aku dokter," pinta Nadia yang sulit melepaskan diri dari dekapan Arshaka.
"Tidak Nadia, aku tidak akan melepaskan pelukan Ku. Kau sudah membuat ku kehilangan mu dan itu sangat menyakitkan ku Nadia dan bersama mu aku bukan dokter kau dan aku sama kita sama-sama dua orang yang saling mencintai." ucap Arshaka dengan posesifnya.
Tiba-tiba saja ucapan pria yang tidak ia kenal memaksa dirinya untuk meninggalkan Arshaka kembali teriang-ngiang di kepalanya.
Pergilah kau jauh di kota ini. Jangan pernah kembali atau Coba-coba menemui Arshaka karena dia adalah milik Andrea, putriku. Yang saat ini tengah memperjuangkan nyawanya karena leukimia stadium akhir. Kau pasti tahu rasanya kehilangan bukan tidak hanya putramu yang akan aku ambil darimu tapi juga adik perempuan mu. Akan kubuat dia kehilangan masa depannya.
__ADS_1
Dan kata-kata itu yang membuat Nadia takut akan kehilangan dua orang yang sangat disayanginya. Dan memilih untuk meninggalkan cintanya tanpa mau memperjuangkan.
Nadia segera mendorong tubuh Arshaka hingga tubuhnya sedikit tersungkur dan mundur beberapa langkah.
"Kau telah menipuku jangan pernah lagi kau mengatakan cinta yang bukan untuk ku, dokter Arshaka yang terhormat. Kembali lah pada dokter Andrea yang masih mencintaimu hingga saat ini dan berhentilah mengejar ku." bentak Nadia memutar tubuhnya meninggalkan Arshaka yang diam mematung. Ia tersenyum kecut mendengar ucapan Nadia yang terdengar kasar dan bernada tinggi.
"Jadi waktu tiga tahun telah merubah dirimu Nadia. Ya aku dapat melihat dengan jelas perubahan itu Nadia kau telah berubah. Kini kau lebih modis, lebih cantik, lebih berani dan lebih pintar. Kau bukan Nadia yang dulu lembut, penyayang, bahkan sangat polosnya yang membuatku jatuh cinta." Nadia hanya mampu menahan tangisnya memejamkan sejenak kedua matanya. Mengingat semua kenangan manis yang dulu ada.
Arshaka menarik pergelangan tangan Nadia, tanpa dia sadari tangan kekar yang selalu melindunginya kini berubah menjadi kasar.
"Aku tidak akan melepaskan mu Nadia." sarkasnya kembali membawa tubuh Nadia ke dalam dekapannya.
Lagi-lagi Nadia dibuat bungkam tanpa bisa melawan. Bahkan tubuhnya tidak menginginkan jauh darinya hatinya menangis bersamaan dengan perasaannya yang terkekang tanpa bisa menjelaskan. Kedua tangannya reflek membalas pelukan Arshaka yang membuat hatinya menghangat, Arshaka semakin yakin bahwa Nadia masih mencintai dirinya.
"Katakan Nadia apa yang membuat mu pergi dariku? Meski kau sudah tentang Andrea tapi, percayalah aku hanya ingin membangun mimpi dan masadepan ku hanya bersama mu. Maafkan aku Nadia karena tidak memberitahu mu masalah Andrea yang sebenarnya. Aku meninggalkannya bukan karena Aku tahu dia sakit leukimia stadium akhir.
__ADS_1
Tapi Andrea lah yang pergi meninggalkan ku tanpa, kabar tanpa kejelasan mengambil keputusan menutup rapat keadaannya. Apa Aku salah jika Aku berpikir dia telah meninggalkan ku dengan sengaja dan akhirnya aku menemukan cinta yang benar-benar membuatku bertekuk-lutut padamu," papar Arshaka menarik dagu Nadia dengan pipinya yang basah.
"Aku tidak tahu harus mengatakan apa? Perasaanku mengatakan. Jika aku sangat mencintaimu Mas Arsha." kata-kata yang keluar dari mulut mungilnya membuatnya ingin ******* habis bibir merah dan basah itu, Arshaka harus menahan buncahan di dadanya menyadari dimana ia sekarang berdiri.
Arshaka menuntun tangan Nadia mengajaknya ke tenda posko, dan berniat memperkenalkan Nadia pada teman-teman relawan lainnya jika Nadia adalah calon istrinya.
"Mas Arsha kau akan membawa ku kemana?" tanya Nadia mengedarkan pandangannya mencari Fafa dan Aldo yang mungkin sedang bingung mencari keberadaannya.
"Mas, Fafa pasti mencari ku," ujar Nadia menyusuri pandangannya di sekelilingnya.
"Oh, ya Kau mengajak Fafa ke sini juga lalu dimana dia? Aku sampai tidak menyadari Fafa dia pasti sudah besar dan pintar." Nadia tersenyum menanggapi ucapan Arsha.
"Iya mas dia sudah besar dan sangat pintar, dan suka sekali bertanya dan itu membuat ku pusing karena tidak bisa menjawab pertanyaannya yang konyol."
"Oh ya. Dan itu pasti sangat menyebalkan." Nadia mencubit kecil pinggang Arshaka dan membuatnya memekik.
__ADS_1
"Aww, sakit sayang. Kau sudah berani padaku Nadia, lihat saja aku akan memberimu hukuman." goda Arshaka berjalan seraya menggandeng tangan Nadia mencari Fafa setelah Nadia memberitahu.
"Bundaaaaa!"