Cinta Tianda Ganti (Ketika Cinta Datang Dan Pergi)

Cinta Tianda Ganti (Ketika Cinta Datang Dan Pergi)
Sebuah Rasa Yang Sulit Di Jabarkan


__ADS_3

Pagi pun menjelang setelah melakukan pembedahan pada pasien kecelakaan tunggal pada pria berusia sekitar 29 tahun. Arshaka bersiap-siap sebelum pulang ia membersihkan diri mandi dan wudhu selepas adzan subuh menjalankan ibadah dua rakaat.


Waktu berjalan begitu cepat Arshaka kembali tertidur setelah solat fajar, tanpa sadar ia telah tertidur selama tiga puluh menit diatas meja kerja sambil memegangi buku tebalnya. Ia pun terbangun di jam enam pagi melirik ponselnya yang tergeletak di atas kabinet menggeser layar pipihnya yang terkunci.


Arshaka nampak tercengang melihat benda pipih sejuta umat ditangannya yang terdapat lima panggilan tak terjawab dari nomor wanita yang dulu pernah ada untuknya. Wanita yang pernah mencintainya dan dicintainya dengan tulus tanpa ada latar belakang embel-embel yang melekat pada dirinya.


"Andrea?! Mana mungkin nomor ini kembali aktif. Aku bahkan sudah berulang kali menghubungi nomor Andrea setelah sekian lama tapi kenapa nomor ini kembali aktif dan menghubungi ku lagi?"Arshaka bertanya-tanya pada dirinya sendiri.


Ia mengira jika dirinya tengah bermimpi, mengedipkan kedua matanya berusaha menepis apa yang di lihatnya tidak lah nyata. Melirik ke arah jam dinding sudah menunjukkan pukul 06.35 menit. Arshaka mencoba menghubungi nomor Andrea melalui telpon kabel, ternyata nomor Andrea masih sama tidak bisa dihubungi dan tidak aktif.


Arshaka lebih memilih membasuh wajahnya di kran washtafel yang terdapat di samping meja kerjanya, menatap pantulan dirinya pada kaca di depannya. Meraih tisu dan mengusap wajahnya dengan perasaanya yang campur aduk. Bayangan wajah Andrea dan Nadia tiba-tiba muncul memenuhi pikirannya.


Bagaimana jika Andrea benar-benar datang dan berharap cintanya kembali seperti dulu lagi? Tapi Bagaimana dengan Nadia? Aku tidak mungkin menghianati cinta dan kepercayaannya setelah beberapa bulan menunggu masa iddahnya berakhir. Aku bahkan sudah tidak memiliki perasaan apapun pada Andrea, Mengapa ini harus terjadi disaat aku berusaha ingin melupakanmu Andrea??


Arshaka terus bertanya pada dirinya sendiri, yang ia sendiri tidak tahu apa jawaban atas pertanyaannya. Setelah semalaman berada di ruang operasi, ia merasa tubuhnya sangat lelah yang dibutuhkannya saat ini adalah istirahat dan tidur. Arshaka berniat pulang ke rumah bundanya istirahat sejenak di sana sebelum kembali ke apartemennya sore nanti.


"Dokter, pasien di ruang IGD sangat urgent," ujar seorang perawat dengan nafas memburu.


"Kau bisa hubungi dokter Pranata dan saya sudah kirimkan pesan pada beliau." jawab Arshaka sambil terus berjalan menyusuri koridor menuju loby rumah sakit.


"Baik, Dok. Maaf sudah mengganggu aktifitas dokter," pamit nya sedikit sungkan.


Rasa lelah di tubuhnya memaksa dirinya untuk segera istirahat, jika ia memaksakan diri untuk menangani pasien di khwatirkan akan memberikan dampak buruk pada kondisi pasien. Arshaka semalam terpaksa menginap di rumah sakit setelah melakukan tindakan operasi darurat karena waktu sudah terlalu larut malam dan rasa kantuk pun menyerang tak tertahankan.


Tanpa sengaja dokter anestesi yang merupakan sahabat Andrea yang turut membantu jalannya operasi semalam, menatap wajah Arshaka yang terlihat tegang dan cemas.

__ADS_1


Pasti dokter Arshaka sudah tahu jika Andrea telah kembali ke Indonesia, tapi_ Apa dokter Arshaka juga sudah tahu tentang kondisi Andrea yang sebenarnya? Apa dokter Arsha juga tetap akan menerima Andrea meski tidak sesempurna dulu lagi. Ya Allah berikanlah keajaibanmu pada Andrea. Semoga saja dokter masih mencintainya dan rasa cintanya masih tetap sama dan tidak berubah.


Gumam Sonya yang masih setia menatap punggung kekasih dari sahabatnya Andrea yang semakin menjauh dari penglihatan nya.


***


Mobil Papa Andrea baru saja melintasi jalan yang mengarah pada rumah sakit dimana dulu Andrea bekerja bertugas sebagai dokter ahli kulit dan kanker. Tapi justru profesinya sebagai seorang dokter tidak dapat di pungkiri jika dirinya pun mengalami sakit yang mungkin dulu pernah pasiennya alami.


Dan kemungkinan besar ia juga yang turut menangani pada penderita yang sama. Namun Adri bersyukur karena Andrea putrinya masih bisa melakukan pengobatan sampai ke luar negri dengan biaya yang tidak sedikit.


Sedangkan diluaran sana banyak orang yang mati konyol karena sakit dan tidak bisa melakukan pengobatan karena kendala biaya yang sangat mahal. Serta tempat juga peralatan medis dengan teknologi yang kurang canggih sehingga masyarakat sulit mendapatkan perawatan secara intensif dan berkala.


Di lampu merah Arshaka melihat mobil yang dulu pernah Andrea bawa bekerja di rumah sakit miliknya, Honda HRV putih yang melintas dari arah jalan yang saling bersebrangan.


"Andrea!" panggil Arshaka tanpa sadar.


Adri pun melirik sekilas ke arah seberang jalan yang menarik perhatiannya.


"Ada apa Pah? Apa telah terjadi sesuatu?" tanya Andrea parau suara khas bangun tidurnya.


"Entahlah, sayang sepertinya begitu," jawab Papanya tanpa lagi menghiraukan jalan yang sempat menarik perhatiannya.


"Kenapa sudah bangun, sayang kan belum sampai rumah?" tanya Tania menoleh ke belakang kursi penumpang.


"Andrea sudah tidur meski baru beberapa menit tapi Andrea sudah merasa segar, Mah." jawab Andrea sambil melirik ke arah luar jendela.

__ADS_1


Andrea memicingkan kedua matanya mengerutkan keningnya tak percaya, tatapan matanya fokus pada satu objek mobil Alparth hitam mengkilat yang diyakini milik om Firman ayah Arshaka. Yang bergerak maju semakin menjauh dari pandangan nya.


"Pah, Papah stop Pah! Andrea tadi lihat mobil om Firman pasti Arshaka juga bersama ayahnya." ujarnya dengan semangat antusias.


"Sabar sayang Andrea, tolong kendalikan dirimu, Nak!" pinta papanya cemas.


"Andrea mungkin saja mobil itu sama seperti milik ayah Arshaka. Bukan kah mobil seperti itu sudah banyak orang miliki sayang?" ucap mamanya menenangkan.


Andrea kembali menyandarkan tubuhnya di kursi penumpang segera menyadari sikap nya yang kekanak-kanakan


"Maaf kan sikap Andrea Pah, Mah." ucap Andrea memejamkan kedua matanya yang kembali lelah.


Akhirnya Andrea pun sampai di rumahnya tepat pukul 9 pagi. Semua asisten rumah tangga yang bekerja di rumahnya menyambut kedatangan putri majikannya yang sudah satu tahu lebih meninggalkan rumah, demi kesembuhan penyakitnya berobat di negri orang.


"Selamat datang Nona Andrea!" ucap tiga orang asisten mamanya.


Andrea tersenyum tipis sedikit malu menatap orang-orang rumah yang dulu sangat dekat dengan nya.


"Pagi Sri, Bu Lita, Mbok Atik. Terima kasih sudah menyambut kedatangan saya!"


"Kami semua sangat merindukan kehadiran Nona Andrea. Kami berdo'a untuk kesembuhan Nona Andrea." ucap Mbo Atik mewakili rekan nya yang berdiri saling bersisian.


"Terima kasih atas do'a nya Mbok," tutur Andrea mengusap sudut matanya yang basah seraya mengayunkan langkahnya masuk ke dalam rumah.


"Tolong buatkan makanan kesukaan Andrea, Bu Lita! Sri kamu ke atas bantu siapkan keperluan mandi Andrea," perintah Tania pada asisten rumah nya.

__ADS_1


Mereka pun menjalankan tugas sesuai permintaan tuan rumahnya.


Mbok Atik pengasuh Andrea ketika berusia lima tahun, asisten senior yang masih bekerja di usianya yang menjelang senja. Namun masih terlihat bugar dan sehat yang masih kuat membantu Lita memasak di dapur hanya sekedar kupas-kupas dan mengiris sayuran. Bahkan Andrea menganggap Mbok Atik adalah nenek nya bukan sebagai asisten rumah tangga pada umumnya. Begitu juga Tania dan suami yang menganggap nya sebagai orangtuanya sendiri.


__ADS_2