Cinta Tianda Ganti (Ketika Cinta Datang Dan Pergi)

Cinta Tianda Ganti (Ketika Cinta Datang Dan Pergi)
Tertembaknya Atfa Rahendra Permadi


__ADS_3

“Om Aldo, Oma, Opa! Fafa takut,“ Teriak Fafa lari takut menghampiri orang yang dipanggilnya.


“Fafa! Ada apa sayang?“ tanya Permadi menggendong putranya. Yang belum Fafa tahu jika dia adalah papa kandungnya.


“Takut, Om sama itu!“ Fafa mengadu pada Permadi yang Fafa sebut dengan Om, betapa sedih dan perihnya hati Permadi. Mendengar putranya tanpa memanggilnya papa.


“Sayang, Fafa! Panggil Om Pa__“


“Fafa, Sayang kenapa, Nak?“ panggil Opa Firman.


Fafa merentangkan kedua tangannya pada Opa Firman. “Fafa takut Opa,“ Adunya pada Opa Firman.


Gagal lagi Permadi mengajak Fafa dengan maksud untuk mengatakan pada putranya jika dirinya adalah papanya yang sebenarnya. Dan meminta Fafa untuk memanggilnya Papa.


“Mau ke Ayah sama bunda, Opa.“ rengek Fafa minta ke ayah bundanya.


“Maaf, Nak Permadi Fafa minta ke Ayah dan bundanya,“ ucap Firman pada Permadi.


“Silahkan, Pak Firman!“ dengan berat hati Permadi melihat putranya di bawa oleh Opa dari papa sambungnya.

__ADS_1


Arshaka meminta bunda Maya untuk mengantarkan Nadia, istrinya istirahat di kamar yang telah disediakan oleh tim panitia.


Sayang kamu istirahat saja di kamar temani Fafa! Biar bunda yang antar ke kamar.“ Nadia mengangguk menapaki anak tangga yang dibantu suaminya. Bunda Maya menggendong Fafa yang sudah kelelahan bermain.


“Hati-hati, Sayang! Nggak papa kan ditemani bunda dulu? Nanti mas menyusul masih ada teman-teman mas disini.“ ujar suaminya merasa tidak enak pada teman-teman Arshaka, yang sedang menatapnya dari kejauhan sambil berbisik pada lawan ngobrolnya sambil senyum-senyum kearah mereka.


“Iya mas. Sudah sana temui mereka, Mas!“ pinta Nadia mengindik bahunya.


Entah kenapa Fafa tiba-tiba minta turun dari gendongan Omanya dan menggandeng bundanya.


“Fafa mau turun sayang?“ tanya Omanya Fafa mengangguk lalu meraih jari tangan Nadia. Tanpa sengaja Fafa melihat orang yang tadi melihatnya takut berada di anatara guci besar dan karangan bunga dengan ukuran jumbo dia antara sudut ruangan.


Fafa melihat orang itu dengan wajah seramnya memegang pistol dengan sorot mata yang menakutkan. Fafa melirik bundanya setelahnya, rasa takut kembali datang Fafa berjalan pelan memegangi kaki bundanya.


“Nadia! Jangan angkat Fafa berat, Nadia,“ omel bunda Maya yang sudah hampir marah.


’’Sama Oma, ya Nak?“ Fafa menggeleng tanpa menjawab melirik Omanya sekilas.


Disaat sang pengintai membidikkan pistolnya kearah bundanya, Fafa menonjolkan kedua matanya membelalak tajam dikuti rasa takut yang tiba-tiba menyerang batinnya. Ketika jarinya mulai memantik dan membidik ke arah Nadia. Fafa berteriak sekencengnya memanggilnya bundanya. Anak laki-laki yang baru menginjak diusianya yang hampir enam tahun itu, mengambil posisi menghalangi tubuh bundanya yang tengah membungkuk mengambil sesuatu yang terjatuh di kakinya.

__ADS_1


FaFa menjerit histeris. BUNDA...... “


DOR......


FAFA....!“ teriak Nadia dan bunda Maya histeris, yang di iringi teriakan histeris para tamu dan pengunjung lainnya yang masih berada di dalam. Penjahat itu lari secepatnya menabrak guci besar dan menginjak apapun disana hingga hancur.


“Fafa! PutraKu!“ Permadi lari sekencengnya menghampiri putranya yang jatuh tertembak. Tolong berikan anakku padaku. “AKU MOHON!“ teriak Permadi pada Arshaka.


“Tangkap dia, CEPAT!“ perintah Arshaka membentak panik pada para penjaga.


Semua orang lari berhamburan entah kemana, sedang para keluarga dan kerabat lari mendekati Fafa yang sudah tergeletak dilantai dengan darah yang mengalir di punggungnya.


Nadia pingsan seketika kala melihat darah mengalir membasahi gaunnya.


“Bertahanlah sayang ini Papa, Nak.“ ucap Permadi menangis membawa tubuh putranya yang lemah tanpa daya kedalam mobil membawanya ke rumah sakit. Yang diikuti keluarganya dibelakang Permadi.


Arshaka membawa Nadia yang jatuh pingsan ke rumah sakit yang sama dimana Fafa dibawa oleh Papa kandungnya.


“Fafa cucu kita, Pah,“tangis Oma Dita pada suaminya. Tanpa bisa berkata-kata, mereka terlalu syok dengan kejadian yang terjadi diluar dugaan.

__ADS_1


“Fafa! Dimana Fafa? Dimana putra Ku...?“ teriak Nadia dengan suaranya yang kembali melemah dan pingsan.


“Sayang, tenanglah tidak akan terjadi sesuatu pada Fafa. Putra kita akan baik-baik saja,“ menenangkan Nadia.


__ADS_2