Cinta Tianda Ganti (Ketika Cinta Datang Dan Pergi)

Cinta Tianda Ganti (Ketika Cinta Datang Dan Pergi)
Melamar Andrea Dan Meminta Restu


__ADS_3

”Andrea, Kau disini, Sayang?” Tania bertanya pada putrinya dengan suaranya yang lemah.


”Mama...” Andrea memeluk mamanya dengan sayang. ia menangis melihat kondisi mamanya yang lemah menenggelamkan wajahnya diantara bahu dan lehernya.


”Bagaimana dengan kabar Papamu, Andrea? Kenapa polisi menangkap papamu?’’ tanya Tania dalam isak tangisnya. Andrea segera melepaskan dekapan tubuhnya menatap wajah sendu mamanya.


”Mama Andrea akan mencari pengacara untuk membebaskan papa dari penjara.” ucap Andrea berusaha meyakinkan mamanya agar tidak terlihat semakin sedih.


”Papa mu pasti sangat sedih, dia pasti kedinginan tidur tanpa alas lantai dan makannya pun tidak terjamin.” tutur Tania, memikirkan semua hal yang akan suaminya alami didalam penjara. Hidup didalam jeruji besi makan dan minum terasa hambar tidur tak nyenyak diatas lantai yang dingin.


”Mama tidak perlu memikirkan apapun tentang papa. Mama harus sembuh kita akan jenguk papa sama-sama setelah kondisi mama membaik.” pinta Andrea dengan tatapan memohon.


”Selamat pagi, Tante! Bagaimana kondisi tante hari ini, sudah lebih baik?” Tanya Ibra dengan meletakkan parsel buah dan buket bunga tulip di atas meja.


”Dokter Ibra!” kejut Andrea melihat kedatangan dokter Ibra tiba-tiba masuk ke ruang perawatan mamanya dengan membawa bingkisan di tangannya.


”Pagi dokter, Alhamdulillah sudah sudah lebih baik. Apakah dokter yang menangani kondisi saya.” tanya Tania ingin tahu.


”Bukan Saya tante, tapi Dokter Seno. Saya Ibrahim dokter bedah spesialis ortopedi. Kedatangan saya selain ingin menjenguk keadaan tante, saya juga ingin mengenal tante lebih jauh.” ujar Ibra memberanikan diri, untuk mengatakan maksud kedatangan nya ke ruang perawatan dimana mama Andrea di rawat.


”Maksud, Dokter?” tanya Tania tidak mengerti akan maksud ucapan Dokter bersenyum manis itu.


”Jadi Andrea belum sempat cerita apapun pada tante?” Tania menggelengkan kepalanya pelan semakin tidak mengerti yang dokter itu maksud.


”Ee,, Dokter! Mama sudah waktunya m1inum obat. Andrea suapin ya ma?” kilah Andrea mengalihkan kemana arah pembicaraan Ibra pada mamanya.


”Saya ingin melamar Andrea, Tante untuk menjadi istri saya. Dan Saya ingin meminta restu dari tante.” ucap Ibra jujur dengan berani mengatakan pada calon mama mertuanya. Andrea tercengang dibuatnya, kendati Ibra mengatakan langsung didepan mamanya secara gentleman. Andrea menatap pria tampan itu yang berhasil mencuri hatinya dengan binar di matanya.


”Andrea kenapa kau tidak mengatakannya pada mama?” tanya Tania merasa bahagia.


”Mama, Andrea tidak memiliki keberanian untuk mengatakannya. Karena Andrea takut, cinta dan perasaan ku akan bertepuk sebelah tangan.” ucap Andrea tentang perasaannya, yang sebenarnya masih takut untuk kembali menjalin hubungan asmara.


Ibra berjalan mendekati Andrea berdiri di sisinya. ”Jika tante mengizinkan aku akan menikahi Andrea dalam waktu dekat tante.” ujarnya melingkarkan tangannya di pinggang Andrea lalu tersenyum pada Andrea dan mamanya bergantian. Seraya mengeluarkan kotak perhiasan dan menyematkan cincin emas di jari manis Andrea.


Seperti ada bunga yang sedang bermekaran di hati Andrea, setelah Ibra benar-benar menyatakan keseriusan cintanya di hadapan mamanya.

__ADS_1


”Tante senang sekali dengan niat baik, Nak Ibra. Jika kalian sudah saling mencintai kenapa harus di tunda?” tutur Tania merasa bahagia.


”Mama!” protes Andrea lewat sorot matanya malu-malu.


”Sayang, bagaimana jika siang nanti kita jenguk papa. Kita antar makan siang untuk papa.”


”Papa?” tanya Andrea bingung.


”Iya sayang. Tidak lama lagi papa kamu akan menjadi papa ku juga. Bukan begitu, Ma?” lirik Ibra kearah wanita yang terbaring lemah diatas brankar yang tidak lama lagi akan menjadi mama mertuanya. Tania tersenyum menatap wajah putrinya yang merona karena menahan malu karena Ibra terus saja menggodanya.


”Mama merestui hubungan kalian sayang. Andrea jangan buat, Nak Ibra kecewa!” pinta Tania berharap pada Andrea. Agar bisa menerima dan mencintai Ibra yang tulus serius menjalin hubungan dengan putrinya.


...***...


Ibra dan Andrea pergi ke sel tahanan setelah menyuapi dan memberikan obat pada Tania. Setelah makan siang bersama di kantin rumah sakit, mereka tidak lupa membawakan makan siang untuk papanya yang dibelinya di kantin rumah sakit.


”Dokter Ibra, menurutku ini terlalu terburu-buru untuk mengatakan pada papa.”


”Kenapa kau masih memanggilku dokter, sayang Aku tidak suka mendengarnya?” protes Ibra. Andrea melirik Ibra sedikit canggung bercampur malu, untuk mengatakan sayang pada pria yang baru saja melamarnya saja lidahnya terasa kelu.


”Ada yang bisa kami bantu? Dengan Tuan atau nyonya siapa saya bicara?” tanya seorang ajudan kepolisian.


’’Kami ingin bertemu salah satu tahanan bernama bapak Adri Siregar.” ucap Andrea.


”Baik, Silahkan tunggu sebentar!” perintah petugas itu.


Sang ajudan melaporkan pada atasannya, jika ada keluarga tahanan yang ingin bertemu dengan salah satu narapidana.


”Lapor komandan, ada tamu yang ingin bertemu dengan salah satu tahanan sel yang bernama saudara Adri Siregar.” ucap sang ajudan pada atasannya seraya menurunkan tangannya setelah memberi tanda hormatnya.


”Laporan diterima!” balasnya.


Andrea dan Ibra masuk kedalam setelah mendapat izin, sipir pun datang menuju sel membuka gembok.


”Saudara Adri ada kunjungan untuk Anda. Silahkan keluar waktu anda hanya 10 menit.” Adri keluar mengikuti langkah sang sipir.

__ADS_1


”Papa!”


”Andrea!” ujar Adri melangkahkan kakinya mendekati putri satu-satunya. Melirik mengikuti arah pandang matanya pada pria yang terlihat berwibawa di samping Andrea berdiri, dari tatapan papanya yang melirik kearah Ibra Andrea mengerti apa yang ingin papanya tanyakan padanya.


”Siang, Om!” tegur Ibra sopan dengan senyum tipis di wajahnya. Adri hanya mengangguk seraya mengedipkan kedua matanya,


”Papa, Andrea bawakan makan siang. Papa makan ya!” ajak Andrea memeluk papanya lalu melepaskan tubuhnya dari pelukan papanya. Menuntun langkahnya menuju meja dimana Ibra duduk menghadap calon papa mertuanya.


”Siapa pria ikut bersama mu Andrea?” tanya Adri melirik Ibra sekilas.


”Saya Ibrahim, Om,” ucap Ibra memperkenalkan diri mengulurkan tangannya yang disambut hangat Adri.


”Papa makan ya! Atau papa mau Andrea yang suapin papa?”Andrea menawarkan diri memberikan bentuk kasih sayangnya pada papanya. Yang sudah mengorbankan diri juga reputasinya demi membalaskan rasa sakit hati putri kesayangannya karena cintanya yang tak terbalaskan.


”Papa makan nanti saja didalam, Andrea. Papa belum ingin makan.” jawab papanya yang tidak memiliki selera makan sejak mendengar Tania masuk rumah sakit.


”Papa Mas Ibra adalah dokter yang dipindah tugaskan dari rumah sakit lamanya ke rumah sakit milik Om Firman.” jelas Andrea mememberitahu mengenalkan Ibra pada papanya.


”Om, Sebenarnya saya ingin__”


”Maaf, waktu kunjungan kalian telah usai. Saudara Adri Anda harus kembali ke sel tahanan.” tegas sag sipir.


”Tunggu, pak! Tolong berikan saya waktu lima menit lagi, saya masih ingin bertemu dengan papa.” rengek Andrea dengan wajah kelasnya meminta sedikit tambahan waktu kunjung.


”Sayang, Andrea!” panggil Ibra meraih bahu Andrea.


Sayang? Pria itu memanggil Andrea sayang. Apa dia kekasih Andrea?


”Maaf kami tidak bisa. Ini sudah menjadi peraturan.” tegas sang sipir sambil menggiring tubuh dan langkah Adri kembali masuk kedalam sel.


Adri bertanya pada hatinya mencari tahu siapa dokter Ibra itu, dan dia hanya bisa menerka-nerka tanpa bisa bertanya lagi pada putrinya. Karena keterbatasan waktu kunjungan.


”Papa! Mereka membawa papa kembali.” tangis Andrea memeluk Ibra.


”Sayang besok bisa kesini lagi jenguk papa. Masih ada waktu untuk kita bertemu papa, Aku akan bicara pada dokter Shaka mungkin saja dokter Shaka akan berubah pikiran dan kemungkinan besar akan ada keringanan masa hukuman.

__ADS_1


__ADS_2