
Akhirnya malam pun tiba waktu yang dinanti bagi pasangan halal untuk melaksanakan hak dan kewajibannya sebagai suami istri. Meski malam pertama ini bukanlah yang pertama bagi Nadia tapi masih saja rasa nervous itu tetap ada, bahkan tiba-tiba saja rasa malu dan gugup menyerangnya di kala Arshaka mulai menyentuh ceruk leher Nadia dengan bibirnya.
Tangan nakal suaminya pun mulai bergerilya menjamah apa saja yang dia suka, melepas kait yang sedikit sulit membuatnya meracau tak karuan dan melempar satu persatu pakai Nadia yang dianggapnya penghalang. Mereka kini telah polos dalam satu selimut yang sama.
Tubuhnya mulai meremang saat sentuhan itu mulai merayap di bagian sensitifnya, dan meninggalkan beberapa jejak di sana. Lenguhan kecil mulai terdengar dari mulut Nadia membuat Arshaka semakin jauh menjelajahi mengeksplor tiap inci yang membuatnya semakin memabukkan dan tubuhnya bergetar.
Hawa dingin di bawah kaki bukit membuat suasana malam mereka semakin panas. Malam surprise yang Arshaka inginkan benar-benar ia dapatkan terlebih ini adalah yang pertama ia melakukannya pada wanita yang kini telah menjadi pasangan halalnya. Suara ******* dari keduanya mulai memenuhi ruangan, tanpa terasa waktu terus berputar hingga menunjukkan pukul satu dini hari. Keduanya terkapar lemas setelah sama-sama mendapatkan apa yang mereka cari.
Mata mulai terasa berat mengingat dirinya belum membersihkan diri Arshaka memaksakan matanya untuk tidak tidur sebelum ke kamar mandi. Melihat sang istri lelah dan lelap Arshaka tersenyum mengecup bibirnya seraya mengatakan sesuatu di telinganya.
"Terima kasih istriku untuk malam panjang bernilai ibadahnya. Terima kasih untuk pahala malam ini," ucapnya mencium pucuk kepala Nadia. Lalu beranjak ke kamar mandi membersihkan diri, setelah Tuhan telah memberikan nikmatnya yang dia sendiri tidak bisa mendustakan.
Arshaka telah rapi dengan piyamanya dan membangunkan Nadia untuk membersihkan diri sebelum lanjut tidur.
"Sayang ayo ke kamar mandi dulu bersih-bersih," panggilnya dengan membelai lembut pipi Nadia.
"Males mas, masih lemes," jawab Nadia malas yang tidak mau membuka kedua matanya.
"Sayang bangun dong, ini wajib lho setelah melakukan itu kita harus bersih. Masa istrinya dokter jorok," bujuk Arshaka sambil terus mengusik tidur Nadia sampai dia bangun.
"Iya mas tunggu aku melek dulu mas," jawabnya manja.'' Nadia duduk membuka matanya ia lupa jika dirinya tanpa pakaian yang melekat di tubuhnya. Arshaka segera menutupi bagian atas tubuh istrinya dengan selimut dan meraih handuk kimono untuk Nadia dan melesat ke kamar mandi, Arshaka tersenyum mendengar istrinya ngedumel.
"Habis mandi jangan lupa wudhu, sayang!" perintahnya lagi sebetulnya Nadia menutup pintu kamar mandi.
"Iya, Mas," jawab Nadia singkat.
Sebenarnya Nadia malas dan enggan masuk ke kamar mandi, tapi harus bagaimana lagi menuruti perintah suaminya adalah kewajibannya dan sudah menjadi kodrat sebagai seorang istri. Nadia keluar dengan rambutnya yang basah meraih handuk untuk mengeringkan rambutnya agar airnya tidak menetes di lantai lalu mengganti pakaiannya dan kembali tidur setelah mengeringkan rambutnya dengan hairdryer.
Mereka kembali tidur saling memeluk mencari posisi ter- nyaman sebelum akhirnya saling terbawa ke alam mimpi.
__ADS_1
🍁🍁🍁
Jika malam ini Nadia dan Arshaka merasakan sebuah kebahagiaan yang selama ini ia cari dan melewati malam bahagianya bersama wanita yang dicintainya. Tapi tidak untuk Andrea ia semakin tersiksa akan perasaan cintanya pada Arshaka yang terlalu berlebihan. Andrea masih belum bisa melepaskan Arshaka pada pilihannya dan rencana untuk menggagalkan pernikahan Arshaka dan Nadia gagal sudah.
Ia juga tidak tahu dimana Arshaka dan Nadia berada, orang suruhan papanya pun tidak behasil menemukan mereka. Apa lagi Ibrahim semakin gencar mendekati dirinya mengembalikan id cardnya hanyalah sebuah alasan. Sehingga ia sedikit sulit menghubungi papanya tugasnya sebagai relawan pun akan segerakan berakhir tinggal menunggu beberapa hari saja ia berada di Ambarawa.
"Dokter Andrea, kau sakit? Seperti dokter sangat gelisah sejak tadi?" tanya dokter Ibra melihat wajah Andrea yang sejak tadi nampak gusar.
"Eh, iya dokter Ibra. Saya memang sedikit pusing dan lelah." jawabnya bohong.
"Biar saya antar dokter ke rumah bapak kepala desa untuk istirahat,"
"Tidak perlu saya bisa sendiri. Jangan khwatir saya baik-baik saja dok," tolak Andrea sebal karena dokter Ibra tidak juga entah dari hadapannya.
Hari ini sial sekali kemana pun aku pergi selalu saja ada dia. Mau sarapan, makan siang, malam selalu ketemu dokter Ibra apa sih maunya dia?
Hatinya menggerutu tak hentinya, selain dongkol karena orang suruhan papanya salah sasaran justru pernikahan orang lain yang di rusak sungguh memalukan. Andrea juga merasa jengkel dan kesel karena dokter Ibra kini mengganggunya.
Andrea pun memaksakan diri untuk pergi dari hadapan Ibra karena merasa kesal.
"Dokter Andrea jika tugas kita di sini sudah sama-sama berakhir aku akan datang ke Jakarta menemui mu." teriak dokter Ibra. Membuat Andrea membulatkan kedua matanya menghentikan langkahnya sejenak lalu kembali berjalan dan berdecak.
Sementara Aldo dan Fafa berada di hotel setelah merasa lelah berjalan- jalan di mall dan belanja semua mainan kesukaannya. Aldo menatap bocah gembul di sampingnya yang selama tiga tahun ia jaga meski tidak setia hari Aldo ada bersamanya. Setiap kali merasakan rindu ia akan menyempatkan diri untuk menemui Nadia dan putranya. Angan tinggalah angan, mimpi hanyalah mimpi pada kenyataannya cinta tak sejalan seperti yang dia inginkan.
Aku cukup mencintainya dalam diam, dan membiarkan yang kucinta memilih cintanya.
Aldo selalu meyakinkan dirinya untuk bisa menerima semua keadaan dengan ikhlas, melihat Nadia bahagia bersama pria pilihannya terlebih mereka saling mencintai sejak lama.
Lambat laun Aldo pun tertidur di samping Fafa setelah sibuk dengan hatinya yang kacau.
__ADS_1
**
Pagi-pagi sekali Fafa telah terbangun dari tidurnya padahal jam baru menunjukkan pukul 4 Fajar. Melihat Paman Al masih tidur di sampingnya, Fafa turun dari ranjang melihat ke sisi kanan dan kirinya mencari sesuatu tapi yang di carinya tidak ada. Ia melihat di atas nakas ponsel milik Aldo tergeletak di sana , Fafa segera meraih ponsel Aldo dan mencari sebuah nomor kontak WhatsApp milik bundanya.
Ia menggeser layar pintar benda pipih tersebut dan dengan mudah Fafa membuka ponsel itu karena tidak di kunci. Setelah beberapa menit mencari nomor kontak dan menemukan foto ibunya ada di aplikasi Wa Fafa segera menekan ikon berlambang gagang telpon itu dan terhubung.
Drtttt... Drttttt
ponsel Nadia bergetar memeka telinga, mendengar suara getar ponsel milik istrinya Arshaka segera meraih ponsel Nadia dan melihat siapa yang melakukan panggilan di pagi buta.
"Aldo! Ada apa? Atau mungkin Fafa menangis," pikir Arshaka lalu segera menggeser layar terkuncinya.
~ Hallo.
~ Ayah!"
~ Sayang, Fafa kenapa, Nak?
~ kangen ayah!
Fafa terdengar merengek di sebrang telepon.
~ Fafa mau pulang, Sayang? Dimana Paman Al?
~ Paman Al masih bobo.
~ Nanti bunda sama ayah akan jemput Fafa tunggu ayah di sana okey!
~ okey Ayah!
__ADS_1
Fafa memutus sambungan telponnya dan meletakkan ponsel Aldo kembali ke tempat semula dan kembali berbaring di samping Paman Al-nya.