
Satu minggu pun berlalu, Tantri dan Aldo melangsungkan pernikahan di gedung hotel. Yang sudah Shaka dan keluarganya planning setelah tahu Aldo akan menikahi adik iparnya.
Tantri terlihat sangat cantik dengan balutan gaun warna putih ala Eropa, yang keluarga Aldo pilihkan untuk menantunya. Hari spesial dimana mereka menjadi raja dan ratu sehari.
Pesta yang cukup megah, yang dihadiri oleh tamu khusus dari kalangan atas hingga karyawan biasa. Serta sahabat dan kerabat dekat Aldo juga dari pihak keluarga Shaka sendiri.
“Sayang, Tantri hari ini setatus mu sudah berubah. Kau bukan lagi anak gadis yang harus kami jaga seperti Nadia menjaga mu. Tapi sekarang kau adalah wanita yang memiliki gelar seorang istri. Jadilah istri yang baik dan sholehah untuk suami mu, serta menjadi ibu yang baik untuk anak-anak kalian kelak.“ Pesan bunda Maya pada putrinya Tantri.
“Mba juga hanya bisa memberikan do'a terbaik mba untuk kelanggengan hubungan kalian. Mba tidak bisa memberimu kado atau hadiah mahal sebagai tanda mata pernikahan ini. Mba harap kalian bisa saling belajar untuk mendapatkan ridhonya dari ikatan suci yang sudah kalian rangkai dengan sangat indah ini.“ tutur Nadia memberikan wejangan kehidupan untuk adiknya.
Agar bisa saling menerima kelebihan dan kekurangan diri pasangan kita. Karena menikah bukan sekedar hanya perkara suka sama suka atau cinta. Tapi tempat untuk kita belajar menjadi lebih dewasa dalam menghadapi segala situasi apapun, dan bagaimanapun keadaan pasangan kita.
Tantri menggelengkan kepalanya cepat. “Tantri tidak butuh barang mewah atau mahal. Cinta kalian sudah lebih dari cukup, dan aku sangat menyayanginya mba. Terima kasih sudah menjaga Tantri dan semua yang sudah mba lakukan untuk ku, Terima kasih juga untuk ayah, bunda dan mas Shaka.“ Altar pun semakin sepi menyisakan para pelayan dan panitia WO. Hanya ada keluarga mempelai pria dan wanita yang masih berada di gedung hotel yang masih saling ngobrol.
“Nadia sebaiknya kau secepatnya tidur, tidak baik untuk kesehatan mu juga bayimu. Jika kau kelelahan, sayang.“ titah bunda Maya meminta menantunya segera istirahat.
“Iya, bunda. Kami akan segera istirahat. Tantri kau juga istirahat besok pagi Aldo sudah membawamu ke Batam.“ Angguk Tantri mengusao sudut matanya yang mengembun.
Aldo pun beranjak dari kursinya, melihat istrinya yang masih berdiri diantara keluarganya.
“Mau kemana sih, Bro? Baru juga jam sebelas udah ngebet banget loe?“ seloroh Hendrik menggoda sahabatnya. Yang sejak tadi sudah tidak fokus ngobrol dengan ketiga sahabatnya. Yang tidak ingin melepaskan tatapan matanya menikmati makhluk cantik yang kini telah halal menjadi miliknya.
“Gila, sadis banget loe, Hen! Kaya nggak pernah ngalamin aja tuh rasanya unboxing.“ sahut Arka membela.
“Bodo amat, gue capek ngantuk. Sorry bro gue tingal! Kalian bisa nginep bebas pilih kamar yang mana.’’ ujar Aldo melangkah meninggalkan sahabatnya dan menghampiri istrinya.
“Happiness dream, Bro! Selamat buka segel, haaaa.....“ ucap Leo. Hendrik dan Arka mereka tertawa menggoda Aldo habis-habisan.
“Sialan, loe bertiga!“ balas Aldo menoleh pada mereka bertiga yang masih mentertawakan sahabatnya itu.
__ADS_1
“Aldo!“ pangil bunda Maya dan suaminya.
“Bunda, ayah. Aldo mau ajak Tantri istirahat, Sayang ayo kita istirahat!“ ajak Aldo pada istrinya. Tantri tersenyum mengangguk melihat kearah bunda dan suaminya.
“Tantri, Ayo sana nak! Istirahatlah, Aldo sudah menunggumu!“ Angguk Nadia tersenyum canggung pada bunda Maya.
“Ayah, bunda, kami pamit istirahat.“ ucap Tantri.“ Semua pun beranjak meninggalkan tempat dimana Tantri dan Aldo melangsungkan acara penting mereka. Menuju kamar masing-masing, untuk istirahat sebelum besok mereka meninggalkan hotel.
*
*
Malam yang indah dengan bertabur bunga mawar merah, menghias ranjang mereka sebagai pasangan pengantin baru. Dengan aroma wanginya yang memikat, menambah kemesraan malam yang pertama yang Aldo nantikan.
“Malam ini aku tidak perlu meminta izin darimu untuk menerima hak ku, sayang. Apa kau keberatan jika aku memintanya hari ini?“ Sungguh pertanyaan yang sangat konyol, bisa-bisanya Aldo bertanya seperti itu. Sedangkan wajah istrinya sudah merah padam karena ulahnya.
Dia bertanya tapi bibir dan tangannya sudah bergerilya dengan lihainya, menyentuh apapun yang memang sudah halal untuknya.
“Baiklah, kau boleh mandi. Aku akan turun menemui mama sebentar.“ ujar Aldo mengecup kening istrinya.
“Jangan lama-lama, Mas!“ pinta Tantri seraya menurunkan kedua kakinya dari atas ranjang.
“Nggak akan lama, sayang. Mas cuma mau bilang sama mama dan papa. Kalo besok pagi kita belum turun mama dan papa bisa ke bandara lebih awal.“ ucapnya memberitahu Tantri.
Aldo keluar dari kamarnya lalu menguncinya, dan turun untuk menemui kedua orangtuanya. Usai membersihkan diri dari lengketnya keringat, dan make-up. Tantri meraih kopernya mengambil baju ganti yang ia bawa dari rumah kakaknya.
Diraihnya gaun tidur berenda dengan warna merah marun, tapi sesuatu jatuh di kakinya dari lipatan pakaian yang diambilnya tadi.
“Apa ini?“ lirih Tantri meraih sebuah kotak bersampul kertas bermotif bunga, lalu ia membukanya.
__ADS_1
Sebuah foto masa kecilnya bersama kakaknya, Nadia. Dengan menggunakan dress dan bandana yang sama. Mereka seperti anak kembar yang memakai dan memiliki benda atau mainan apapun yang sama. Tantri pun teringat akan kenangan masa kecilnya bersama kakaknya.
“Ibu! Kenapa sepatu mba Nadia lebih bagus dari punyaku? Tantri nggak mau, pokoknya aku nggak mau pakai.“
“Tantri, mba Nadia kan beli sendiri. Ibu dan bapak justru tidak tahu, jika mba Nadia membeli dengan mengumpulkan uang sakunya sendiri.“
“Tantri! Mba juga membeli dua bandana, ini untuk mu dan satunya lagi mba punya.“
Tantri memeluk foto yang ada ditangannya, mengingat semua kenangan indah yang dulu pernah ada. Sebuah keluarga kecil yang penuh makna akan kebersamaan bersama kedua orangtua dan kakaknya.
“Aku akan selalu merindukan kebersamaan ini. Terima kasih mba Nadia, aku akan selalu merindukanmu. Ibu, bapak hari ini putimu sudah menikah, disana kalian pasti bahagia melihatnya.“ Tantri mengusap kedua pipinya yang basah, dan segera menyimpan hadiah berharganya kedalam kopernya semula. Setelah ia mendengar bunyi suara sensor kunci kamarnya secara otomatis.
“Sayang! Apa kau sudah mandi?“ tanya Aldo seiring dengan langkah kakinya menghampiri istrinya yang tengah memakai baju transparannya.
“Aku sudah siapkan air hangatnya mas, buruan mandi!“ pintanya pada Aldo. Suaminya justru memeluknya erat dari arah belakang menciumi bahu istrinya yang menguar aroma wangi sabun yang Aldo suka.
“Iya, nanti mas mandi.“ ujarnya membalik tubuh istrinya hingga mereka saling berhadapan. Mengenduskan indera penciumannya menyesap aroma wangi dari balik tubuh istrinya. “Sayang kamu nangis?“ tanya Aldo melihat jejak basah di kedua sudut mata indah istrinya.
Tantri mendongakkan kepalanya, menatap wajah tampan suaminya. “Aku bahagia, mas. Air mata ini bukanlah sebuah kesedihan, tapu kebahagiaan kita. Terima kasih untuk semua cinta yang kau berikan untuk ku, mas.“ ucapnya seraya memeluk hangat tubuh suaminya.
“Aku akan membuatmu bahagia, sayang. Apapun yang kau mau, aku akan memenuhinya. Selagi mas bisa dan mampu.“ Aldo melepaskan pelukannya, meraih dagu istrinya dan ******* bibir istrinya yang basah karena air mata.
“Terima kasih, mas Aldo.“ ujar Tantri yang mendapatkan usapan lembut suaminya.
Aldo menjeda gerakan sensualnya, lalu meraih handuk kimono yang sudah Tantri siapkan diatas ranjang. Ia segera melesat ke kamar mandi mengguyur tubuhnya sebelum kembali melanjutkan malam pertamanya.
Sambil menunggu suaminya selesai mandi, Tantri membuka layar ponselnya membuka aplikasi whatsapp. Ada banyak notifikasi masuk dari grup kantor tempat ia bekerja. Memberikan ucapan selamat atas pernikahannya, serta pesan dari beberapa teman kantor dan nomor tanpa nama kontak yang tidak ia kenal.
Tanpa terasa ponselnya terjatuh dari tangannya. Tantri tertidur menunggu suaminya selesai mandi. Suara knop pintu kamar mandi tidak terdengar olehnya, Aldo berjalan merangkak keatas ranjang mendekati istrinya yang sudah tertidur.
__ADS_1
“Sayang, kau pasti lelah. Malam pertama kita harus tertunda, tapi besok aku akan menagihnya darimu.“ ucap Aldo tepat di depan wajah Tantri dan mengecup bibir istrinya berkali-kali.