
"Dokter Andrea!" panggil Ibra.
"Dokter Ibra? Anda di sini?'' Andrea terkejut melihat kehadiran dokter Ibra yang menurutnya aneh.
"Ya. Kau pasti heran bukan kenapa aku bisa ada di sini? Kemarilah!" dokter Ibra menarik lengan Andrea ke arah taman belakang poliklinik umum anak. Di sana terdapat bangku besi panjang yang setiap harinya dipakai berjemur dan duduk santai para pasien.
"Sekarang katakan padaku kenapa kau bisa ada di sini?" Andrea bertanya dengan rasa penasaran bagaimana bisa Ibra yang bertugas di rumah sakit Bandung bisa ada di rumah sakit tempatnya bekerja.
"Yang pertama aku kesini untuk menemui mu," ceplos Ibra sangat santai. Andrea menyipitkan kedua matanya bingung.
"Maksud mu?"
"Eh...Tidak... tidak bukan karena itu saja. Sebenarnya aku ke sini hanya untuk melihat bagaimana kedaan rumah sakit ini sebelum aku ditugaskan disini."
"Apa, jadi maksud mu kau__?"
"Ya. aku di mutasi eh... lebih tepatnya aku di pindah tugaskan di rumah sakit ini langsung dari dinas kesehatan. Awalnya aku pun tidak tahu jika aku terpilih diantara 3 tiga dokter ortopedi di sana. Aku dengar di rumah sakit ini akan ada satu dokter wanita yang juga akan di mutasi di rumah sakit Medan.
"Benarkah? Tapi aku sama sekali tidak tahu menahu soal itu."
"Memangnya kau tidak punya grup whatsapp sesama rekaman medis mu?" Andrea segera meraih ponselnya di saku jas putihnya. Ia mulai menggulir layar pintarnya dari atas kebawah sampai habis ternyata benar ada kabar atau info yang mengatakan akan ada satu dokter wanita yang akan di mutasi.
__ADS_1
"Ya, benar. Tapi aku justru sama sekali tidak tahu info di wilayah ku sendiri." ucap Andrea yang nampak terlihat bodoh di selat Ibra.
Ibra melepaskan nafas beratnya "Itu karena kau teterlalu sibuk dengan perasaan mu sendiri, Andrea. Come on, Andrea lupakan Dokter Arshaka jangan siksa dirimu demi cinta yang tidak akan pernah bisa kau miliki lagi. Bila rasa itu terus saja kau paksa, maka cinta itu tidak akan pernah bisa sama. Dan kau tahu kenapa? Karena rasa itu telah berubah." ucap Ibra menatap manik hitam indah Andrea meraih telapak tangan dan membelai rambutnya lembut.
"Karena kau tidak tahu apa yang aku rasakan. Dan kau juga tidak tahu seperti apa rasanya kehilangan." lirihnya dengan kedua matanya yang kembali berkaca-kaca.
"Kau salah Andrea. Aku lebih dari yang kau rasakan, yang berlalu biarlah berlalu bukalah hidupmu yang baru, masih ada waktu dan kesempatan yang baru pula untuk memulai awal yang baru." pesan Ibra dengan bijak. Berdiri menatap langit malam penuh dengan bintang bertaburan yang diikuti Andrea seperti yang Ibra lakukan.
"Dengan melihatnya semua terasa damai dan sangat indah. Ibra kapan kau mulai bekerja di sini?" tanya Andrea yang tidak melepaskan tatapan matanya ke atas langit.
"Lusa," jawab Ibra singkat yang masih setia memandangi wajah dan senyum Andrea yang mampu selalu hatinya.
🍁🍁🍁
Arshaka memutus sambungan telepon setelah mengabari orang rumah. Arshaka menghampiri istrinya yang telah selesai mengemas barang yang akan di bawa pulang, meraih tangan Nadia lalu memeluknya menyesap aroma wangi yang menguar dari tubuhnya. Harum sabun bunga dan buah yang Arshaka sukai setiap kali memeluk istrinya yang akhir-akhir ini membuatnya candu selalu ingin berada di dekat Nadia tidak ingin jauh barang sejenak.
"Sayang, hari aku ada kunjungan ke pusat layanan kesehatan masyarakat di jakarta barat. Maaf tidak bisa mengantar mu pulang. Nanti pak Lukman dan bunda yang akan kesini menjemput mu." tuturnya mengendurkan pelukannya menatap wajah cantik istrinya.
"Tidak apa-apa mas. Bersiaplah nanti kau terlambat!" ucap Nadia sambil merapikan jas putih kebesaran suaminya.
"Terima kasih, Sayang." mengecup kening Nadia. Mereka keluar dari ruang perawatan menuju ruang kerjanya. Arshaka membawa tas di tangan kirinya sedang tangan kanannya menggandeng tangan Nadia.
__ADS_1
Di sepanjang koridor menuju ruang kerjanya semua pegawai rumah sakit, serta karyawan dari kalangan biasa tersenyum memberikan salam hormatnya pada atasannya. Juga pada Nadia yang kini telah menjadi Nyonya dari pewaris tunggal keluarga Sakti Bimantara.
Tanpa sengaja Nadia dan Arshaka berpapasan dengan Sonya, Nadia menatap wajah Sonya yang nampak mengembangkan senyumnya seraya menundukkan kepalanya sebagai tanda hormatnya.
"Pagi, Dok! Pagi, bu Nadia!" ucap Dokter Sonya menyapa keduanya.
"Pagi," jawab Arshaka dingin.
"Pagi dokter Sonya," Nadia menjawab sapaan dokter Sonya sopan, seperti tidak terjadi masalah apapun diantara mereka. Dokter Sonya menatap Arshaka seperti ingin mengatakan sesuatu yang tertahan.
"Saya tunggu di meja kerja saya," ujarnya datar tanpa lagi menoleh. Dokter Sonya pun memutar arah mengikuti langkah Arshaka bersama istrinya di belakang.
Di dalam ruangan Arshaka suasana nampak dingin dan kaku. Arshaka menyuruh dokter Sonya duduk di kursi yang ada di depan meja kerjanya sedangkan Nadia duduk di sofa dekat jendela sambil menunggu kedatangan pak Lukman dan ibu mertuanya datang.
"Dokter saya benar-benar menyesal atas sikap buruk saya terhadap ibu Nadia, dan saya ingin minta maaf pada ibu Nadia." ucap dokter Sonya sedikit menunduk. Lalu menatap ke arah dimana Nadia duduk di sofa dan bangkit dari kursi menghampiri Nadia.
"Dokter Sonya!" lirih Nadia menatap rekan kerja sekaligus sahabat dari mantan kekasih suaminya, ada rasa tidak tega melihat dokter Sonya yang harus merendah menekan egonya demi seorang Nadia. Siapalah Nadia, hanya wanita dari kalangan rendah yang tidak memiliki pendidikan tinggi bersetatus janda yang diangkat derajat kehidupannya oleh seorang dokter muda yang menuai sukses karena kerendahan hatinya, memiliki sifat kemanusiaan yang tinggi dan ramah pada siapa saja.
"Ibu, Nadia tolong maafkan kesalahan saya. Sikap dan ucapan buruk yang membuat Anda tidak nyaman bahkan ucapan saya yang menyakiti perasaan ibu Nadia." Sonya menyatakan ucapan maafnya dengan segala kerendahan dan penyesalannya.
"Dokter tidak perlu seperti ini, Saya sudah memaafkan dokter Sonya jauh sebelum anda memintanya. Saya dan dokter Sonya tetaplah sama, sama-sama manusia yang memiliki kesalahan kewajiban kita adalah saling memaafkan itu saja."
__ADS_1
"Terima kasih, bu Nadia. Saya berjanji tidak akan melakukan kesalahan yang sama." Nadia mengangguk mengusap punggung Sonya seraya memeluknya. Nadia memberi waktu pada suaminya untuk bicara pada rekan kerjanya yang telah setia mengabdikan dirinya di rumah sakit selama hampir delapan tahun lamanya.