
~ Hallo! Ayah kapan ayah pulang Fafa kangen ayah.
Seru suara mungil bocah laki-laki dari seberang telpon menghubungi ayahnya. Yang merasakan kerinduan semenjak bundanya keluar dari rumah sakit setelah insiden malam itu di pesta acara reuni. Jadwal Arshaka sangat padat terlebih di rumah sakit miliknya kini disetiap hari jumat mengadakan kegiatan amal membagikan makanan untuk para penunggu keluarga pasien tiga kali makan pagi, siang, sore.
~ Iya sayang ayah akan segera pulang, Tunggu ayah di rumah bye sayang.
~ Bye, ayah!"
Sama halnya dengan Arshaka yang merasakan rindu pada keluarganya setelah beberapa hari disibukkan oleh jadwalnya sebagai petugas medis. Melayani kesehatan masyarakat pada umumnya, tidak sedikit pula ia memberikan keringanan pada keluarga pasien yang tidak mampu membayar biaya rumah sakit. Dengan hanya membayar separuh dari biaya yang dibebankan atau memberikan pelayanan kesehatan secara cuma-cuma bagi mereka yang benar-benar tidak mampu.
PRRAKK!
Seseorang menabrak Arshaka di lobi hingga ponselnya terjatuh. "Maaf, Pak dokter saya tidak sengaja." uujarnya melanjutkan langka kakinya tergesa-gesa.
"Tidak apa-apa," jawabnya Arshaka sambil meraih ponselnya di lantai, tanpa melihat siapa gerangan yang tadi menabraknya.
Sedangkan orang tadi secepatnya menyalakan mesin motornya meninggalkan area rumah sakit. Disusul keluarnya mobil milik Arshaka yang secepatnya segera sampai di rumah menyandarkan lelah dan penatnya bersama orang tercintanya.
Mendengar suara klakson mobil ayahnya, Fafa lari tertawa riang melihat pak Lukman membuka pintu gerbang.
__ADS_1
"Ayah!" teriak Fafa dengan seruannya melambaikan tangannya yang di balas senyum hangat dari sosok pria yang di nantinya.
Kemudian disusul deruan mesin mobil milik Firman yang memasuki pintu gerbang. Membuat Arshaka menoleh kearah objek benda tersier di samping mobil miliknya.
"Ayah, bunda juga baru pulang?" tegurnya seraya menutup pintu mobil.
"Iya Shaka, Ayah dan bunda seharian sibuk mengurus data__" Bunda Maya menjeda ucapannya yang hampir saja kelepasan jika suaminya tidak segera meraih telapak tangan serta menekan ibu jarinya.
"Ayah meminta Bunda mencari data kepegawaian di klinik yang lama," sambung Firman cepat.
Hampir saja Bunda Maya keceplosan mengatakan jika ia dan suaminya seharian pergi untuk mengurus data Arshaka dan Nadia. Untuk di serahkan pada badan kepengurusan agama, serta membooking gedung yang belum terjadwal mengingat padatnya acara yang menggunakan fasilitas gedung serta hotel di jakarta.
Nadia menyambut kedatangan suami dan mertuanya mencium punggung tangan mereka dengan takzim, begitu pula dengan putra sambungnya yang sangat menyayanginya. Nadia meraih tas kerja Arshaka membawanya ke dalam kamar lalu kembali keluar membuatkan teh panas dan menyiapkan makan malam bersama. Sementara Fafa masih ingin bercengkrama dengan ayahnya duduk di sofa tamu.
Nampaknya Fafa tidak menggubris ucapan bundanya bocah lucu itu masih bercerita mengeluhkan keinginannya yang direspon baik oleh ayahnya sebagai pendengar yang baik. Sesekali Arshaka tersenyum menanggapi ocehan polosnya yang terdengar lucu di telinganya.
"Ayah boleh ko' bobo sama bunda. Fafa kan sudah besal mau belajal bobo sendili," ocehnya yang diikuti tatapannya pada Nadia yang seliwar-seliwer dari dapur menuju meja makan menata menu.
"Oh, ya sejak kapan Fafa sudah berani bobo sendiri." tanya ayahnya sambil membenarkan duduk Fafa di pangkuannya.
__ADS_1
"Sejak bunda dali lumah sakit, Ayah." jawabnya jujur memainkan kancing kemeja ayahnya.
"Buruan mandi, Mas! Kita makan malam sama-sama." pinta Nadia kini dengan nada sedikit memaksa.
"Iya, Sayang." jawab Arshaka sedikit sensual seraya menurunkan Fafa dari pangkuan. Ia pun meminta pada bocah gembul yang masih menyiratkan baby face gemasnya duduk di sofa menunggunya selesai mandi.
"Arshaka, sejak tadi kamu belum msndi? Ya ampun makin kesini makin jorok aja!" omel bunda Maya mendapati Arshaka yang masih mengenakan pakaian lengkapnya yang sejak pagi tadi masih melekat di tubuhnya.
"Ini bersih bunda, Shaka selalu steril sebelum atau sesudah keluar dari rumah sakit." bantahnya membenarkan pendapatnya.
"Tidak ada alasan," debat bunda Maya tidak peduli akan argumen putranya sebagai dokter.
"Kebisaan," gerutu Firman mengambil posisi duduk di samping istrinya.
Hanya butuh waktu sepuluh menit untuknya mandi dan mengganti pakaiannya sebelum ikut bergabung makan malam bersama keluarga. Didalam Arshaka melihat Nadia menyiapkan baju ganti untuknya dan meletakkan kaos oblong putih simple lengkap dengan celana santai di tepi ranjang.
"Aku sudah siapkan air hangatnya mas, cepat mandi!" ucap Nadia memerintah pria di depannya yang sudah tidak fokus pada tujuan utamanya.
Arshaka menarik pergelangan tangan istrinya kedalam pelukannya mendaratkan bibirnya sempurna ******* lembut bibir basah pink alami Nadia.
__ADS_1
"Aku kangen, malam ini aku menginginkan mu," ujarnya yang masih belum mau melepaskan pagutannya.
Nadia yang sudah terpantik oleh hasratnya membalas lembut cumbuan suaminya. Nadia mengatur nafasnya yang terengah yang hampir kesulitan bernafas karena permainan kecil dari suaminya. Lirih suara lenguhan lembut keluar dari mulut istrinya, Arshaka segera menyudahi aktifitas panasnya sebelum putranya berteriak memanggil nya dan masuk ke kamar mandi.