Cinta Tianda Ganti (Ketika Cinta Datang Dan Pergi)

Cinta Tianda Ganti (Ketika Cinta Datang Dan Pergi)
Arti Sebuah Cinta Yang Sesungguhnya


__ADS_3

”Ayah dengar semalam kamu kamu ke tahanan, Shaka?” tanya Firman seraya meletakkan koran disisinya.


”Benar, Yah. Om Adri mengalami demam tinggi dan sesak nafas. Ya mungkin karena tidak terbiasa dengan kondisinya yang sekarang. Tidur dilantai sel dengan hawa dingin dan lembab serta pola makan yang tidak sehat.” jelas Shaka lalu menyesap teh hangat buatan istrinya.


Jadi tahanan yang semalam mas Shaka periksa adalah papanya dokter Andrea. Kasihan sekali, dia pasti sangat kedinginan tidur dilantai tanpa alas hingga membuatnya sakit dia jua pasti sangat merindukan keluarganya.


Ucap Nadia pada hatinya seolah ikut merasakan apa yang saat ini Adri rasakan.


”Non! Non ko melamun?” tanya Titin dari arah belakang. Membuyarkan lamunannya dan berpikir ingin menjenguknya.


”Eee, iya Titin mana nasi gorengnya biar saya bawa ke meja makan.” Titin menyerahkan mangkok besar berisi nasi goreng lalu membawa telur omelette dan acar timun buatan Nadia.


”Sedap sekali bau masakanmu, Nadia.” puji Firman melirik nasi goreng yang Nadia tuangkan kedalam piring kosong milik ayah mertuanya dan suaminya.


”Ini hanya nasi goreng biasa ayah. Tidak ada yang istimewa ataupun yang spesial, bumbu yang dibuat pun seperti biasa pada umumnya orang buat.” ujarnya merendah


”Sudah cukup, Sayang! nanti suami ini bisa kekenyangan, dan tidak bisa konsentrasi bekerja. Karena selalu ingin pulang untuk makan masakan mu, Sayang.” goda Shaka memuji kelihaian istrinya yang memang pintar memasak.


”Bunda suka sekali nasi goreng buatan Nadia. Menantu kita memang pintar sekali memanjakan lidah keluarganya.” kini giliran bunda Maya memuji Nadia. yang menurutnya sangat berlebihan memujinya.


”Bunda bisa saja membuat Nadia bahagia. Hari ini bunda mau pergi?” tanya Nadia akhirnya, melihat penampilan ibu mertuanya yang rapih dengan pakaian formalnya.


”Iya hari ini bunda ikut ayahmu. Untuk melihat apotek yang baru selesai dalam pembangunan.” tutur bunda Maya lalu menyuap nasi goreng dalam mulutnya.


Usai makan pagi bersama, seperti biasa Nadia mengantarkan suaminya sampai pintu depan. Sedangkan bunda Maya dan suaminya lebih dulu berangkat lima menit sebelum Shaka.


”Sayang, Mas berangkat. Hati-hati di rumah, dan jaga bayi kita baik-baik!” pesan Shaka pada Nadia seraya mengecup lembut kening dan perutnya yang buncit. Serta membisikkan kata-kata pada calon bayinya sebelum dia masuk kedalam mobil.

__ADS_1


”Mas!” panggil Nadia ketika suaminya menutup pintu mobil yang baru setengahnya.


”Iya, Sayang ada apa? Apa bayi kita menginginkan sesuatu? Atau kau ingin sesuatu?”


”Aku ingin meminta izin mu mas. Apa boleh hari ini aku pergi keluar? Aku bosan di kamar terus atau hanya ke taman belakang saja.” Shaka tersenyum lalu bertanya dan Nadia mendekati pintu mobil suaminya.


”Hari ini sayang ingin pergi kemana? Biar mas yang antar. Tapi tidak hari ini, Mas ada jadwal operasi pagi ini mungkin besok mas bisa mengajakmu jalan-jalan.” ucap Shaka mencoba memberi tawaran bernegosiasi.


”Tapi bayi kita minta hari ini mas.” ujar Nadia mengusap perutnya yang mulai membesar.


”Apa ini juga termasuk ngidam?” tanya suaminya lagi, yang masih menunjukkan senyum hangatnya.


”Iya mas pokoknya aku ingin pergi hari ini. Ada pak Lukman yang akan mengantarku pergi kan?” eyel Nadia sedikit memaksa ssuaminya.


”Ya sudah sayang boleh pergi hari ini tapi ingat. Sayang harus hati-hati dan jaga bayi kita baik-baik! Jangan lupa hubungi mas.” pinta Shaka pada istrinya. Nadia mengangguk senang setelah mendapat izin dari suaminya.


Nadia segera mengganti dasternya dengan pakaian syar'i dengan hijab yang berwarna senada. Gamis denga warna soft cerah yang ssuaminya hadiahkan untuknya saat Nadia memutuskan untuk berhijab ketika akan keluar rumah.


”Non Nadia mau kemana cantik sekali?” tanya Titin mengagumi wanita cantik istri tuan mudanya.


”Nadia mau keluar sebentar bosan di rumah terus.” jawab Nadia cukup singkat.


”Cckkk...! Cantik banget Non Nadia. Pantes saja den Shaka hampir gila cari Non Nadia selama tiga tahun itu.” decak Titin mengagumi dan berlalu membawa sekeranjang pakaian bersih ditangannya untuk di setrika.


...***...


Setibanya di lapas Nadia diantar sang sipir masuk kedalam untuk menjenguk Adri setelah mendapatkan izin dari inspektur kepolisian.

__ADS_1


Nadia melangkahkan kakinya masuk, dilihatnya tubuh paruh baya ringkih dan layu itu. Tidur meringkuk memeluk lututnya sendiri tanpa alas lantai sesekali terbatuk dengan kedua matanya yang terpejam.


”Pak Adri! Apakah Anda sudah merasa baikan?” tanya Nadia sedikit takut karena mengusik tidur pria tua yang usianya tidak jauh beda dengan ayah mertuanya.


Adri segera membuka kedua matanya lebar-lebar, sedikit mendongakkan kepalanya melihat siapa yang datang menjenguknya.


”Kau? Untuk apa datang kesini ? Aku tidak ingin bertemu atau bicara pada siapapun.” ujar Adri mengabaikan kehadiran Nadia tanpa ekpresi di wajahnya.


”Aku datang kesini bukan sebagai korban, yang menuntut sebuah hukuman pada tersangka. Meski kebenarannya Anda lah pelaku dibalik penembakan itu. Karena aku bukan Sang pengadil yang bisa memberi hukuman seperti yang kumau. Tapi aku datang untuk menemui orang yang memiliki posisi tinggi sebagai seorang ayah dan aku adalah seorang anak. Dan aku telah memaafkan kekhilafan seorang ayah atas semua kesalahannya.”


”Tapi sayangnya aku tidak butuh maaf dari mu.” ucap Adri dengan sifat dan sikapnya yang arogan.


Seorang wanita menutup mulutnya yang menganga dengan tangannya tidak percaya. Mendengar percakapan antara Nadia istri Shaka dengan Adri suaminya.


”Mama tidak percaya akan ucapan papamu yang begitu angkuhnya, Andrea.” Tania mengadukan isi hatinya pada putrinya. Andrea hanya diam tanpa bisa berkata-kata meremas pelan bahu mamanya.


”Mama, mungkin Papa masih terbawa emosi.” ucap Andrea berusaha meyakinkan mamanya. Agar tidak terjadi kesalah pahaman antara papanya dan mamanya.


”Apa kau tidak dengar tadi yang istrinya Shaka katakan Andrea? Dia masih peduli dan mau memberikan maaf setelah kematian putranya karena papa mu. Dan menjadi seorang pembunuh.” isak Tania menyayangkan akan sikap dan tindakan suaminya yang anarkis. Tania kembali keluar dan mengurungkan niatnya menemui suaminya.


Adri tersenyum kecut melirik Nadia yang berdiri di depan sel. ”Putriku kehilangan pria yang dicintainya. Dan kau juga telah kehilangan putramu yang kau sayang. Kita sudah impas sama-sama kehilangan orang yang kita cintai. Sekarang pergilah dari sini!” sarkasnya dengan nada perintahnya yang tinggi.


”Anda salah pak Adri, jika Anda berpikir aku telah kehilangan putraku. Karena cinta yang kumiliki untuknya mampu membuatnya melindungi wanita yang dicintainya yaitu ibunya. Sedang cinta yang Anda miliki untuk putrimu telah mengantarmu kedalam lubang dosa yang terdalam. Karena arti sebuah cinta yang sebenarnya tidak butuh sebuah balasan. Kecuali jika cinta itu telah terbalut sebuah dendam dan rasa ingin memiliki.” Nadia menghapus jejak basah di kedua pipinya dan pergi meninggalkan ruang tahanan dan menitipkan dua kotak makan untuk Adri dan satunya lagi untuk pelaku penembakan di gedung WO.


Maafkan aku, Nak. Aku tidak pantas menerima maaf dari mu. Dan aku telah mengingkari kebenarannya. Kau memang orang baik dan Shaka pantas mendapatkan mu.


Hatinya bermonolog mengakui ketulusan Nadia. Jauh dari lubuknya yang terdalam Adri sangat malu berhadapan langsung dengan Nadia. Dan berusaha menutupinya dengan sikap angkuhnya yang terkesan arogan.

__ADS_1


__ADS_2