
Di villa yang bangunannya tidak terlalu besar dan mewah namun cukup nyaman dan asri. Berdiri di bawah kaki bukit pegunungan yang hamparannya luas sangat indah, suasana yang damai menambah keromantisan membuat penghuni nya semakin betah serta jauh dari keramain hingar-bingar udaranya pun masih sangat bersih.
Sayangnya keindahan itu tidak dapat dinikmati di gelapnya malam hanya ada beberapa lampu penerangan di sudut jalan, dan tempat-tempat tertentu saja karena masih jarang rumah penduduk disekitarnya.
Mobil Arshaka memasuki gapura dimana villa itu berada, seorang penjaga villa membukakan pintu gerbang. Arshaka keluar dari mobil sambil membawa tubuh Fafa dalam gendongnya si penjaga menyambung kedatangan Arshaka dan Nadia dengan sangat ramah.
"Selamat malam Tuan dan Nyonya. Selamat datang di villa. Saya penjaga villa ini panggil saja saya Pak Bowo, Tuan Bahtiar sudah memberitahu jika tuan dan nyonya akan menempati Villa ini. Jika butuh sesuatu panggil saja saya Tuan, saya permisi," pamit Bowo pada Arshaka dan Nadia seraya menyerahkan kunci Villa pada Arshaka.
"Terima kasih, Pak Bowo," ucap Arshaka.
Bowo pun pergi menuju rumahnya yang tidak jauh dari Villa yang ia jaga dan ia rawat setiap harinya. Arshaka memutar hendel pintu dan masuk dengan menyeret koper di tangannya, dan menidurkan Fafa di ranjang. Nadia meletakkan koper di samping lemari dan menghampiri Arshaka setelah menidurkan putranya.
"Sebenarnya ada apa ini mas? Kenapa harus pindah di tengah malam seperti ini?" tanya Nadia yang masih bingung pada Arshaka yang masih belum mengatakan apapun.
"Nadia besok saja mas ceritanya sekarang kamu tidur lagi aja Istirahatlah! Besok kita masih ada acara yang harus kita siapkan. Jadilah pengantin yang paling cantik untuk Ku." ucap Arshaka meraih kedua bahu Nadia.
Nadia mengangguk tersenyum mengusap pipi Arshaka lembut, "Iya mas aku istirahat sekarang. Selamat malam mas!" ucapnya untuk kali pertama Nadia memberanikan diri mencium kening calon imamnya meski sedikit sulit ia harus jinjit karena tubuh Arshaka yang tinggi.
"Terima kasih, sayang," ujar Arshaka memberikan balasan yang sama dengan seperti apa yang Nadia lakukan padanya.
Arshaka menutup pintu kamar Nadia dan ia tidur di kamar satunya yang bersebelahan dengan kamar yang Nadia tempati.
***
Pagi pun menjelang kicauan burung yang saling bersahutan mengusik mimpi bocah gembul berusia lima tahun. Memaksakan membuka matanya menatap langit-langit rumah dimana ia terbaring dengan kedua matanya yang masih terasa berat karena kantuk.
Melirik sisi kanan dan kirinya yang nampak aneh dan berbeda, mendapati bundanya yang sudah nampak cantik bak peri yang Fafa lihat di buku dongengnya.
__ADS_1
"Bunda, kita ada dimana kenapa kamar kita belubah? tanya Fafa sambil lari menuju jendela dan membukanya lebar-lebar.
"Waoo... indah sekali, Bunda. Lihatlah bunda ada gunung yang indah di kamal kita? Ada bulung-bulung banyak di taman." Fafa berdecak kagum memandangi taman hijau dan indahnya bukit yang menghadap langsung dengan jendela kamar di a tidur.
"Fafa, sayang ayo mandi, Nak. Baru nanti kita sarapan!'' bujuk Nadia dengan tangannya yang sibuk mengaplikasikan serangkaian cream di wajahnya.
Karena hari ini hari spesial untuknya, Nadia ingin ia terlihat cantik di depan Arshaka yang tinggal beberapa jam lagi akan menyandang gelar barunya sebagai istri dokter Arshaka Sakti Bimantara. Yang mengikuti jejak ayahnya sebagai seorang dokter dan juga ahli farmasi di kota X yang membesarkan namanya di bidangnya.
Meski Arshaka besar dalam didikan kakeknya Suryo Sakti Bimantara seorang aparat negara, sebagai TNI angkatan udara. Karena ayah Firman yang suka dengan dunia medis dan memilih menempuh pendidikan kedokteran di Swiss. Mungkin karena kecintaannya pada dunia kesehatan dan medis hingga jejaknya menuruni pada putranya, Arshaka.
Setelah Fafa rapi dan wangi Nadia juga menyuapi putranya dengan nasi goreng kesukaannya yang Nadia buat sebelum Arshaka bangun dan kembali ke posko. Susah payah Nadia membujuk Fafa untuk mandi karena Fafa sempat ngambek karena Arshaka sudah berangkat sebelum Fafa bangun. Dan ingin dimandikan oleh papanya akhirnya Nadia berhasil merayu dan membujuknya meski masih sedikit cemberut masih dalam mode ngambek.
"Fafa jangan cemberut terus, sayang nanti jelek ilang gantengnya." bujuknya membuat Fafa mengerti.
"Bialin. Papa kan ganteng jadi Fafa juga ganteng seperti Papa." bantahnya dan itu membuat Nadia tertawa lucu.
Melihat Nadia menangis membuat Fafa merasa bersalah, Fafa segera memeluk Nadia dan meminta maaf pada bundanya.
"Bunda, maaf. Fafa minta maaf," Fafa memeluk bundanya sambil menangis. Nadia mengusap kepala putranya lembut mengusap sudut matanya yang basah.
"Sayang, bunda sudah memaafkan Fafa. Sekarang lanjutkan lagi sarapannya. Bunda mau buka pintu itu pasti papa." Nadia segera berdiri dari kursi untuk membuka pintu melihat siapa yang menekan bel.
Yang ternyata tukang rias yang sudah Aldo pesan sebelum ia keluar dari hotel sebagai hadiah pernikahan Nadia.
**
"Maaf dengan mba Nadia Chamelia?" tanya gadis cantik berhijab pink dusty tersebut.
__ADS_1
"Benar saya sendiri," jawab Nadia.
"Saya Nilam beauty house, yang diminta pak Aldo datang untuk merias mba Nadia.'' ucap gadis itu dengan membawa koper ditangannya.
Nadia mempersilahkan masuk gadis bernama Nilam dengan satu rekannya yang ada di sampingnya. Sebelum Nadia dirias ia membuatkan dua minuman segar untuk tamunya dan makanan ringan yang telah tertata di nampan.
Nilam dengan tangan dinginnya mulai memainkan alat tempurnya dan mengaplikasikan prodak skincarenya di wajah cantik Nadia. Fafa hanya menatap heran bundanya yang dirias sedemikian cantiknya oleh make-up artist pilihan Aldo.
Setelah merias wajah selesai kini Nadia harus mengganti pakaiannya dengan kebaya putih kali ini sesuai pilihan Arshaka sendiri. Nilam meminta Nadia mengganti pakaiannya yang di bantu asistennya, kamar pun tertutup setelah Nadia masuk kedalam. Tidak lama kemudian Aldo datang dengan membawa bucket bunga yang indah dan meletakkannya di atas meja tamu.
Melihat kedatangan Aldo, Fafa lari berseru antusias langsung minta di gendong.
"Paman Al!" seru Fafa melempar mainannya sembarangan, lari mendekati uncle-nya yang selama tiga tahun bersamanya. Meski tidak setiap hari Aldo ada di tengah-tengah mereka hanya di hari-hari tertentu saja.
"Hai, sayang Fafa. Bagaimana semalam nyenyak tidurnya?" Fafa mengangguk cepat menjawab pertanyaan paman Al.
"Kenapa hotel kita belubah, Paman?"
"Oh, ya berubah bagaimana, Fafa?
"Iya, belubah ada di dalam hutan,'' ujarnya dengan sangat polos. Aldo tertawa mendengar ucapan polosnya menurunkan tubuh gembul Fafa yang katanya semakin berat.
Nadia pun keluar setelah orang rias membantu mempercantik dirinya dengan kebaya yang membalut tubuh indahnya. Aldo dibuat tertegun dengan penampilan Nadia yang terlihat anggun bak putri Indonesia, bahkan Nadia terlihat seperti masih gadis tidak terlihat seperti janda pada umumnya. Baby face yang dimilikinya merupakan nilai plus untuknya,
Sungguh suami bodoh jika ada laki-laki yang mencampakkan mu Nadia. Mungkin aku tidak akan sanggup melihatmu menjadi istri orang lain Nadia.
Gumam Aldo menatap kecantikan Nadia yang tidak seperti biasanya setiap hari ia lihat. Bahkan aura kecantikannya terlihat berkali-kali lipat.
__ADS_1
"Eheemm!" suara Arshaka berdehem mengejutkan Aldo dari lamunannya.