
"Bundaaaa.... Ayaahhhh...!!'' teriak Fafa keras dalam tidurnya memanggil ayah, bundanya.
"Fafa! Ada apa dengannya?" ucap keduanya penuh tanya. Arshaka turun dari ranjang yang diikuti Nadia di belakangnya mengenakan rompi untuk menyamarkan gaun tidurnya yang terlampau tipis.
"Sayang, Fafa! Ada apa, Nak?" Nadia memeluk Fafa erat tubuhnya nampak gemetar dipenuhi keringat dingin di keningnya.
"Fafa, takut ayah, bunda,"
"Fafa mimpi buruk sayang?" Bocah berpipi cubby itu mengangguk cepat menjawab pertanyaan ayahnya. Arshaka memeluk putranya yang masih dalam dekapan Nadia sehingga keduanya berada dalam pelukan pria yang kini tengah melindunginya dari apapun.
"Fafa tidak perlu takut ada bunda dan ayah sayang." sambung Nadia memberi rasa aman pada putranya yang tengah ketakutan.
"Fafa, mimpi kakek dan nenek ajak aku pelgi, Nda," ucapnya dengan suara yang masih gemetar.
"Kakek, Nenek!" lirih Nadia sedih menatap wajah suaminya.
"Ada apa, Sayang kenapa kau menangis?" tanya suaminya. Nadia membenamkan wajahnya diantara leher dan bahu suaminya.
Ada banyak luapan hati yang ingin Nadia sampaikan tentang semua yang kini dirasakannya, pada pria yang selama ini memberikan rasa nyaman dan aman padanya. Arshaka mengusap punggung Nadia lembut menciumi pucuk kepala putranya bergantian. Semakin Arshaka menujukkan perhatian dan cintanya tangis Nadia justru semakin sesegukan.
"Entahlah mas aku sendiri tidak tahu, Apa yang sebenarnya terjadi pada diriku." jawab Nadia bingung. Yang Arshaka sendiri sulit mengartikan dalam situasi apapun.
__ADS_1
"Kita akan tidur disini saja menemani Fafa," ujar suaminya mengatur posisi tidur Fafa yang sudah lebih dulu tertidur kembali di pangkuan Nadia.
Mereka pun tidur dalam posisi saling memeluk, hingga waktu pun berputar. Jarum jam menunjukkan di angka 4 fajar seruan merdu tartil sayup-sayup terdengar dari kejauhan, dengkuran halus dari kedua pria yang kini masih erat dipeluknya bahkan enggan untuk jauh dari mereka.
Nadia tersenyum polos membelai pipi suaminya dan putranya bergantian. Memandangi wajah keduanya tanpa bosan dan mengecup lembut pipi mereka. Setelah puas melakukan pada keduanya Nadia berniat kembali ke kamarnya untuk mengganti pakaian transparan nya dengan daster rumahan yang nyaman dipakai aktifitas selama di dapur. Tapi suaminya lebih dulu mencekal pergelangan tangan sebagai tanda protesnya kembali meraih tubuh Nadia dan memeluknya dengan posesif.
"Mas, sudah hentikan!" pintanya. Nadia merasakan hawa panas mulai menjalar di wajahnya.
"Kenapa aku harus menghentikan nya, sayang? Kau yang memancing ku duluan." Arshaka semakin mengeratkan tangan kekarnya di perut istrinya.
"Jadi mas sudah bangun waktu ak__" suaminya sudah lebih dulu membungkam bibirnya dengan mulutnya. Yang Nadia lakukan saat ini adalah pasrah dengan serangan yang terjadi di pagi buta.
Lagi dan lagi kegiatan malam penuh candu itu kembali terjadi di saat malaikat kecil mereka masih dalam lelapnya tidur. Tidak lebih dari satu jam mereka menuntaskan urusan hasrat, keduanya telah selesai mandi selepas adzan subuh dan solat berjamaah bedua di kamar.
"Eemm, bau sedap masakan bikin perut jadi lapar," seru Firman ayah mertua Nadia berjalan menuju meja makan.
"Menantu kita memang pintar masak, Yah." timpal bunda Maya menarik kursi disamping duduk suaminya.
"Secantik apapun fisik perempuan kalo tidak bisa masak akan terlihat bodoh juga, Nda." sambung Firman lagi yang bicara apa adanya. Dan Nadia masih bisa mendengar semua dengan baik percakapan ayah dan ibu mertuanya bagaimana mereka memuji Nadia.
"Itu artinya Shaka pintar memilih istri dan ibu untuk anak-anak Shaka kelak 'kan Yah, Nda?" sapanya tiba-tiba memecahkan obrolan keduanya.
__ADS_1
"Ya kami memang mengakui kehebatan mu dalam memilih istri Shaka. Dan itu karena ayah yang mewarisi kelihaian mu itu," ucap Firman yang diam-diam memuji dirinya sendiri yang secara tidak langsung mengagumi sosok wanita bdi sisihnya.
"Kau dengar itu sayang jika ayah sedang memuji dirinya sendiri karena berhasil mendapatkan bunda bukan karena ingin memuji kita," bisik Arshaka di telinga istrinya sambil mengecup pipi kiri Nadia mesra. Sontak sikap agresif suaminya yang berani membuat Nadia risih dan malu sebab suaminya melakukannya didepan mertuanya. Wajah Nadia memerah seketika menahan malu dan itu tidak luput dari perhatian bunda maya.
"Tidak perlu malu, Nadia. Nanti kau juga akan terbiasa dengan sikap Shaka. Dulu ayah Firman juga sering melakukan hal yang sama seperti yang Shaka lakukan pada bunda." tutur ibu mertuanya mengurai rasa yang tidak biasa Nadia rasakan saat ini. Nadia hanya tersenyum mendengar penuturan ibu mertuanya.
Melihat Fafa sudah rapih dengan seragam barunya, Nadia memanggil putranya yang menuruni anak tangga bersama asisten rumahnya.
"Fafa sudah siap ke sekolah? Kemari sayang bunda ambilkan sarapan!" seru Nadia menarik kursi di sampai suaminya.
"Fafa mau diantar ayah atau diantar opa ke sekolahnya?" tanya omanya meraih roti tawar yang diolesi selain coklat kesukaan Fafa.
"Fafa mau diantar ayah, Oma," jawab Fafa dengan suara imutnya.
"Baiklah, kalo begitu opa berangkat kantor dulu," ujar Firman memundurkan kursi duduknya seraya mencium pipi gembil cucunya. Bunda Maya mengantar suaminya yang telah siap ke kantor sampai depan.
Begitu juga Arshaka yang akan berangkat setelah mengantarkan Fafa ke sekolah. Fafa mencium punggung tangan oma dan bunda nya sebelum masuk mobil.
"Mas hati-hati di jalan!" pesan Nadia pada suamiy seraya melambaikan tangan pada putranya yang sudah duduk di kursi depan. Arshaka mengedipkan kedua matanya sebagai jawaban lalu mencium kening dan bibir istrinya singkat. Meski Nadia ingin protes tapi rasanya percuma akan sindrom mesum suaminya yang sewaktu-waktu menyerangnya tanpa tahu tempat.
"Daaa.... Bunda!" seru Fafa dari dalam saat mobil bergerak meninggalkan halaman.
__ADS_1
"Daaa... Sayang!" balas Nadia.