
Nadia mengenakan gamis dusty dengan hijab warna grey untuk menyambut kedatangan keluarga Aldo. Berkali-kali Nadia melirik jam dinding yang menggantung di dinding ruang tamu.
Menunggu kedatangan suaminya pulang dari rumah sakit, namun masih belum terdengar mobil Shaka memasuki halaman.
Tidak usah cemas, sayang. Suamimu pasti pulang mungkin kejebak macet di jalan.“ ucap bunda Maya membuat tenang Nadia yang terlihat gelisah.
“Iya, Bunda. Mas Shaka juga mengatakan jika hari ini jadwal di rumah sakit cukup padat.“
Kita do'akan saja semoga semunya lancar dan tidak ada halangan apapun. Begitu juga dengan acara hari ini, semoga niat baik Aldo untuk melamar Tantri di berkahi dan di lancarnya segalanya.“ ujar bunda mendo'akan kebaikan buntu semuanya.
“Aminn.... “ ucap Nadia dan Tantri mengaminkan do'a bunda Maya.
“Tantri! MasyaAllah cantik sekali kamu sayang. Aldo pasti klepek-klepek liat kamu cantik begini.“ ucap bunda Maya menggoda Tantri yang di make over oleh make-up artists yang bunda pesan dari media online.
“Wah, Tantri! Hari ini adik mba benar-benar perfect cantiknya.“ puji Nadia menunjukkan jarinya yang membentuk huruf O.
“Sayang, Tantri kamu benar-benar cantik, Nak. Bunda pangkling melihat penampilan mu, sayang. Bagaimana, Apa kamu suka gaunnya?“ Tantri mengangguk bahagia. Memeluk bunda Maya dan berkata,
“Terima kasih bunda, Tantri suka sekali. Terima kasih untuk semuanya yang sudah bersusah payah menyiapkan semua untuk ku.“ Senyumnya seraya memeluk bunda dan kakaknya.
“Semua ini untuk putri bunda. Bunda sayang kalian, kewajiban orangtua adalah membuat bahagia anak-anaknya.“ ucap bunda dengan kedua matanya yang mengembun.
“Tapi istriku jauh lebih cantik. Apa lagi kalo perutnya membesar seperti ini, jadi makin cantik.“ seloroh Shaka mengecup pipi Nadia tanpa malu meski, ada banyak orang di sekitarnya.
“Mas Shaka, ko aku nggak dengar suara mobil kamu mas?“ pikir Nadia heran akan kedatangan suaminya tiba-tiba.
“Shaka! Kebiasaan selalu diingetin kaya anak kecil.“ omel bunda melihat Shaka masih mengenakan pakaian dinas lengkapnya.
“Sudah steril bunda! Sebelum pulang Shaka sudah cuci tangan pakai hand sanitizer juga.“ bantah Shaka lagi.
“Mandi! Pokoknya mandi dulu, baru boleh pegangan-pegang istri kamu. Bunda nggak mau ya cucu-cucu bunda ketularan bandelnya kaya kamu!“ semua tertawa melihat kearah Shaka, yang dimarahi bundanya layaknya anak kecil. Yang selalu diingatkan untuk mandi setiap kali pulang kerja.
“Buruan mandi, Mas! Sebentar lagi Aldo dan keluarganya sampai lho!“ perintah Nadia.
“Iya. Mas mandi, sayang.“
“Bajunya sudah aku siapin di atas tempat tidur, Mas.“ ucap Nadia sedikit tinggi karena suaminya sudah melangkah sedikit menjauh dari tempatnya berada.
“Hhmm,“ jawab Shaka cukup singkat.
__ADS_1
Tantri berjalan sedikit menjauh dari kakak dan yang lain, untuk menerima panggilan telepon dari Aldo.
"Mba, Tantri angkat telepon dulu sebentar.“ujar Tantri berjalan menuju ruang tengah.
Setelah menerima panggilan telepon dari Aldo, Tantri memberitahu Nadia dan bunda jika Aldo akan sampai dalam lima menit.
“Mba, bunda, ayah. Aldo akan sampai lima menit lagi.“ Tantri memberitahu keluarganya, akan kedatangan keluarga Aldo dalam beberapa menit lagi.
Tinnn... Tinnn....
Pak Lukman membuka pintu gerbang menyambut kedatangan keluarga besar Aldo.
“Assalamu'alaikum pak Lukman,“ ucap Aldo pada pak Lukman.
“Waalaikumsalam, Nak Aldo. Selamat datang semuanya.“ Aldo dan orangtuanya mengangguk sopan membalas sapaan dari pak Lukman.
“Itu pasti suara mobil Aldo dan keluarganya.“ kata Tantri berjalan keluar menemui mereka.
“Aldo sudah datang, Sayang?“ tanya Shaka melingkarkan tangannya di pinggang istrinya.
Sepertinya mereka sudah datang, Tantri keluar untuk memastikan setelah tadi mendengar klakson mobil.“ jawab Nadia menata hidangan di meja makan.
“Assalamu'alaikum,“ ucap Aldo dan keluarganya memberi salam pada tuan rumah.
“ Terima kasih. Kami yang seharusnya minta maaf membuat kalian menjadi sibuk menyambut kami.“ ucap Devina ibu dari Aldo. Menarik mundur kursi lalu mendudukinya.
“Kedatangan kami selain ingin mengenal lebih jauh calon menantu. Kami juga ingin meminta izin dari kalian untuk merestui hubungan putra Kami Aldo dan putri ibu dan bapak Firman yang bernama Tantri.“ tutur Abbas suami dari Devina atau ayah Aldo.
“Kami sebagai orang tua hanya bisa memberikan do'a dan restu, pada mereka. Karena yang menjalani hubungan ini adalah Nak Aldo dan Tantri. Dan kami setuju dengan niat baik Aldo untuk melanjutkan kearah yang lebih serius. Bukan begitu nak Aldo?“ tanya Firman kearah Aldo yang sejak tadi menatap Tantri tanpa jeda.
Bunda dan semua menggelengkan kepalanya tersenyum lucu, melihat sikap konyol Aldo yang memandang wajah cantik calon istrinya.
“Ehhh,,, Iya, ayah terima kasih. Sudah memberikan restunya pada kami.“ jawab Aldo gugup. Nadia dan Tantri tersenyum melihat mimik wajah Aldo yang di serang rasa nervous tiba-tiba.
...***...
Beberapa jam ngobrol saling mengenal satu sama lain, sambil menikmati hidangan jamuan yang bunda pesan lewat jasa catering dengan menu masakan padang.
“Jadi Nadia adalah adalah kakak mu, sayang?“ tanya Devina pada calon menantunya.
__ADS_1
“Iya, Ma. Mba Nadia adalah kakak Tantri.“ jawab Tantri.
“Setelah kalian menikah nanti, mama juga ingin sekali langsung di kasih hadiah sama Tuhan. Punya cucu yang banyak, Iya kan pah?“
’’Benar, Mah. Papa juga berharap do'a yang sama seperti mama.“
“Mama...!“ ujar Tantri malu dengan rona merah di wajahnya.
“Mama udah dong ngobrolnya! Aldo mau ajak Tantri duduk di taman. Ayo sayang sayang kita duduk di taman dekat kolam, besok pagi-pagi sekali aku dan semuanya akan kembali ke Batam. Jadi aku mau menikmati waktu denganmu.“ Tantri menerima ajakan Aldo untuk duduk di taman dekat kolam.
“Ya sudah sana, Sayang! Temani Aldo dia memang sangat merindukanmu.“ perintah Devina.
Aldo menggenggam tangan Tantri membawa langkah mereka di taman. Dan mengajaknya duduk di bangku besi yang ada di sana.
“Sini sayang kita duduk di sini. Sambil menikmati suasana romantis di bawah cahaya bulan. Kamu tahu aku tersiksa menahan rindu ingin selalu ada di dekatmu.“
“Bukannya kita lebih sering ketemu. Dan kamu sering sekali menemuiku di tempat kerja dan di tempat kost ku?“ tutur Tantri, yang sudah tahu apa yang Ado mau setiap kali berkata rindu padanya.
Aldo merubah posisi duduknya lebih dekat kearah Tanti. Dan menangkup wajah cantik calon istrinya. “Hari ini ku cantik sekali sayang,“ puji Aldo yang semakin mencondongkan kepalanya untuk menyetuh bibir Tantri dengan bibirnya. Meski sudah terbiasa Aldo mencium Tantri tiap kali bertemu dan melepas rindunya. Mereka masih menjaga batasan mereka dalam berpacaran, Tantri tidak ingin mengecewakan Nadia dan keluarganya.
Agar tetap bisa menjaga kesuciannya sebelum melangkah ke jenjang pernikahan.
“Rinduku semakin bertambah setelah aku tahu keseriusan mu pada hubungan kita, mas.“ ucap Tantri setelah Aldo melepaskan pagutannya. Dan mengusap bibir basah calon istrinya karena ulahnya.
Sementara para orangtua tengah membahas tanggal pernikahan mereka, yang sepakat akan diadakan di hotel bintang lima di bilangan Jakarta Barat. Yang akan di gelar satu minggu setelah acara lamaran.
Waktu pun berputar lebih cepat Aldo dan Tantri seakan tidak ingin saling meninggalkan satu sama lain.
“Aldo, Tantri harus dipingit. jangan sering-sering ketemu dulu. Nggak surprise nanti.“ ucap mamanya. Yang diiringi senyum tawa papanya.
“Nggak mau, Mah! Jaman sekarang mana ada mitos seperti itu.“ tolak Aldo tiak ingin dilarang bertemu dengan calon istrinya.
“Aldo.....!“ protes mamanya menyentil daun telinga putranya.
“Iya... Iya.... Mah!“ seru Aldo memegangi cuping telinganya.
“Sabar Aldo, ikuti saja aturan mainnya. Semua ada waktunya.“ ucap Shaka bijak sembari menepuk pundak Aldo.
“Mas Aldo, mama dan Papa. Menginap di hotel mana?“ tanya Tantri ingin tahu.
__ADS_1
“Kami akan menginap dirumah yang ada di cikarang, sayang. Mama dan papa ingin sekali ke sana. Sudah lama mama dan papa tidak lagi ke sana setelah meninggalnya nenek Aldo.“ kata Devina menuturkan.
Aldo dan keluarganya pamit undur diri, pada keluarga Bimantara. Untuk pulang ke cikarang sebelum kembali ke Batam.