
Nadia dan tiga orang perawat membawa ibu Laila ke ruang rontgen, mendorong brankar melewati koridor serta beberapa ruang perawatan diantara deretan kaca-kaca yang besar. Nadia mendorong brankar tempat ibunya berbaring mengikuti langkah kaki di mana para perawat itu akan membawa wanita surganya pergi.
Entah mau di apakan tubuh lemah pucat itu, hatinya semakin teriris melihat wajah ibunya yang meringis menahan sakit di dada dan perutnya. Ketika Nadia mengikuti langkah kaki para perawat yang berbelok ke kiri tiba- tiba ia merasakan ada sesuatu yang mengalir serta basah di bawah sana tepat di bagian intimnya.
Nadia tidak berani meninggalkan ibunya meski hanya sekedar ke toilet, sebentar saja untuk mengeceknya ia lebih menghawatirkan kondisi ibunya. Nadia baru ingat jika bulan ini memang jadwal dia mendapatkan tamu bulanannya.
Dokter Arshaka melihat sekelompok orang yang berbisik-bisik serta tertawa pada lawan bicaranya, yang mengarah pada wanita yang tengah berjalan mendorong brankar. mendapati pemandangan yang tak mengenakan dokter Arshaka berjalan mengikuti langkah Nadia dari belakang dan menghalanginya dari tatapan orang yang menggunjing serta mentertawakan dirinya. Nadia terkejut menoleh ke belakang dan mendongakkan kepalanya sedikit keatas, menatap wajah tampan dokter itu dengan jarak yang begitu sangat dekat. Membuat jantungnya berdebar hebat dan berdetak tak karuan. Bahkan Nadia takut jika dokter yang baru dikenalnya itu mendengar degupan jantunganya yang bertalu saling berkejaran.
"Tunggu! Mau di bawa ke mana pasien ini?" Tanya dokter Arshaka pada tiga perawat itu yang masih berdiri tepat di belakang tubuh Nadia.
"Keruang Rontgen Dok, ini datanya sesuai surat rujukan dari Dokter Arini." jawab suster Faya seraya memberikan data pasien pada dokter Arshaka dan membacanya.
"Biarkan ibu Nadia ikut dengan saya sebentar saja!" pinta dokter Arshaka. Nadia mendongakkan kepalanya lagi menatap Dokter Arsha secara bersamaan.
"Baik, Dok," ucap suster tanpa ada yang berani berkomentar diantara mereka.
"Kamu ikut ke ruangan saya!" Pinta dokter Arshaka pada Nadia. Dokter Arshaka segera melepaskan jasnya dan mengikatnya di pinggang Nadia. Tantri yang datang dari arah berlawanan memergokinya membuat Nadia salah tingkah di depan Dokter Arsha.
"Mba Nadia, mau kemana sama Pak Dokter?" gumam Tantri dengan tatapan menyelidiknya yang fokus pada jas putih di pinggang kakaknya.
Sementara Nadia menatap dokter Arshaka penuh tanya dengan mata indahnya. Dokter Arsha pun membalas tatapan Nadia penuh arti. Hingga akhirnya Nadia menoleh ke belakang dan menyadari kedatangan adiknya, Tantri.
"Nanti saja jelasinnya," Dokter Arsha menarik lengan Nadia menuju koridor. Nadia mengirim pesan singkat pada Tantri memberi tahu jika ibu ada di ruang Rontgen bersama perawat. Setelah membuka pesan dari Nadia Tantri bergegas menuju ruangan yang Nadia kirimkan lewat pesan.
"Ambil ini! Di sana toiletnya." ucap Arsha datar. Nadia menerima satu pack pembalut dan rok span milik Dokter Andrea dari tangan Arsha, dengan rasa malu yang memenuhi wajahnya Nadia melangkah menuju toilet yang Dokter Arsha tunjukkan.
Nadia keluar sedikit risih dengan rok span di atas lututnya yang menampakkan kaki jenjangnya yang putih bersih. Terlebih Nadia memakai sepatu flat shoes hitamnya, bahkan Nadia lebih mirip perawat jika memakai bawahan milik Dokter Andrea yang melekat pas di tubuhnya.
"Terima kasih Dokter, maaf selalu merepotkan. Biar jasnya saya bawa pulang dan akan saya cuci di rumah," ujar Nadia malu.
__ADS_1
Arsha masih tak bergeming menatap Nadia yang nampak berbeda, hanya dengan memakai bawahan yang menampakkan kaki jenjangnya sebatas mengagumi tanpa bisa berharap lebih.
"Dokter!" tegur Nadia dengan melambaikan tangannya ke udara, tepat di depan wajah Arshaka. Membuyarkan lamunannya.
"Ehemm.... Tidak perlu letakkan saja di meja!" ucapnya masih dengan nada datarnya.
"Sudah tiga kali dok," Nadia menunjukkan tiga jarinya di depan Arshaka dan membuat Arsha Menyunggingkan senyumnya.
"Maksudnya?" tanya Arshaka tidak mengerti akan maksud dan ucapan Nadia. Dengan wajah bingungnya.
"Dokter sudah tiga kali menolong saya," jawab Nadia dengan senyum di wajahnya. "Jadi biar saya cuci jas dokter sebagai bonusnya." Nadia membawa jas dan celana kotornya ke dalam plastik yang berbeda. Nadia segera keluar dari ruangan Dokter Arshaka menunju ruangan Rontgen.
Sedangkan Arshaka tersenyum tipis menggelengkan kepalanya ringan, menatap punggung Nadia keluar dari ruangannya.
Nadia segera mencari ruangan rotgen menemui Tantri dan ibunya. Nadia melihat wajah sedih Tantri, Nadia segera melangkah mendekati adiknya dan Tantri menarik tangan kakaknya mengajaknya keluar sedikit menjauh dan menepikan diri agar ibunya tidak mendengar percakapannya dengan Nadia.
"Tantri kenapa kamu nangis apa yang terjadi sama ibu? Bilang sama mba Tantri!!" Nadia mengguncang-guncangkan tubuh adiknya. Dan Tantri memeluk Nadia dengan tubuhnya yang gemetar.
"Dokter mengatakan jika ibu tidak akan bertahan lama mba. Dakit ibu semakin parah dan organ dalamnya telah rusak dan hatinya sudah tidak berfungsi lagi mba," jelas Tantri memaparkan penjelasan dokter Arini. Selaku dokter spesialis organ dalam, tangisnya yang pecah membuat Nadia begitu syok mendengar penjelsan dari Tantri.
Nadia tidak bisa menahan keinginannya untuk menemui ibunya dan memeluknya. Namun Tantri menahan tangan Nadia agar ibunya tidak melihat dirinya dalam keadaan menangis. Dokter Arini melarang pasien untuk tidak mengetahui akan kondisi yang sebenarnya. Agar pasien tidak bersedih hati yang akan membuat keadaannya semakin memburuk. Dan menyarankan untuk memberi kabar yang baik agar hatinya terus bahagia dan tetap tersenyum melawan penyakitnya.
Setelah Dokter dan perawat selesai melakukan Radiologi pada ibu Laila, perawat memanggil Nadia jika Ibu Laila sudah bisa di pindahkankan ke ruangannya kembali. Tantri dan Nadia membawa brankar ibunya keluar menuju kamarnya yang di bantu oleh Suster Faya dan suster Mariyam.
Nadia tidak bisa menyembunyikan kesedihannya melihat keadaan ibunya yang semakin memburuk. Nadia izin pamit pulang ke rumah mama Dita menengok Fafa sebentar dan memastikan bapak di rumah baik-baik saja.
"Tantri, mba pulang dulu ya. Lihat Fafa sebentar, besok mba kesini lagi setelah nengok Bapak juga" pamitnya pada Tantri.
"Hati-hati mba! Mba Nadia pakai motor Tantri aja biar cepet gak usah nunggu angkot." Tantri menyerahkan kunci motornya pada Nadia.
__ADS_1
"Ngngak usah Tantri! Mba naik taksi aja jadi mba bisa istirahat dan tidur sebentar." tolak Nadia yang di angguki Tantri.
🌼🌼🌼
Di Surabaya permadi menggarap projek barunya bersama Kania, banyak yang mengira jika mereka adalah pasangan suami istri. Karena mereka selalu nampak bersama kamana pun permadi berada Kania selalu ada di sampingnya. Selama tiga hari di Surabaya membuat hubungan permadi dan Kania semakin mantap untuk melanjutkan hubungan mereka menjadi lebih serius.
"Sayang kamu beneran kan akan menceraikan Nadia?" tanya Kania dengan nada manjanya. Bergelayut di pundak Permadi yang tetap fokus pada kemudinya dan pada jalanan di depannya.
"Tentu saja aku sudah memintanya untuk menyiapkan diri setelah aku kembali dari Surabaya dan aku akan menceraikan dia secepatnya" sambil mengecup kening Kania mesra.
Permadi mengantar Kania kembali ke hotel untuk cek out mengemasi barang-barang dan balik ke Jakarta bersama Nadia.. Sementara Nadia berdandan secantik mungkin menyambut kedatangan Permadi dari Surabaya, ia pun mengirimkan pesan singkat pada suaminya.
✉️~ Mas aku sudah di rumah, dan aku juga udah masak makan malam.
Permadi membuka pesan Nadia yang hanya di balas dengan kata "Ya"
"Pesan dari siapa mas?" tanya Kania dengan melirik ponsel permadi.
"Dari Nadia Sayang. Kamu lapar? tanya Permadi melirik ke arah Kania. Yang di balas anggukan manjanya.
" Ya sudah kamu istirahat dulu di rumahku kita makan malam bareng disana.'' ujarnya penuh keyakinan.
Kania melepaskan pelukannya dari Permadi dengan tatapan tak percaya.
"Kamu yakin mas, ajak aku makan malam di rumahmu? Tapi ada Nadia istri kamu lho mas." tanya Kania penuh tanya.
"Aku sudah memintanya untuk menyiapkan diri setelah kepulanganku dari Surabaya Sayang, kenapa jadi kamu yang banyak tanya sih." Permadi mencubit dagu Kania dengan gemas.
Sedangkan Nadia sedang mengatur nafas dan detak jantunganya yang bedebar hebat menyambut kedatangan suaminya. Bahkan Nadia tampak seperti layaknya remaja yang baru mengenal cinta.
__ADS_1