
"Mama, tolong bujuk ayah untuk tidak melarang Kania membesuk tante Dita," ucap Kania memohon pada Ratna.
"Kania sudahlah turuti saja apa kata ayahmu. Mama juga tidak ingin kau berhubungan lagi dengan Permadi dan keluarganya."
"Tapi, Ma_"
"Kania! Cobalah untuk mengerti!" perintah Ratna penuh penekanan.
Kania pun melepas tatapan pada mamanya, menjauhkan diri menuju anak tangga menapakinya dengan perasaannya yang hancur sudah hampir dua minggu Kania tidak bertemu Permadi ponselnya pun sulit di hubungi.
Kania tidak tahu lagi dengan cara apa dia bisa keluar dari rumah tanpa sepengetahuan ayahnya. Kania masuk ke dalam kamar mengunci pintu kamar melempar tas hand bagnya di ranjang sembarangan. Menelungkupkan tubuhnya membenamkan wajahnya di atas bantal dan terus menangis keinginannya untuk bertemu Permadi pupus, sudah karena ayahnya melarang keras untuk bertemu dengannya.
Permadi dimana kamu sekarang? Setidaknya kau bisa menghubungi Ku.Tapi kau sama sekali tidak memberiku kabar.
Tangis Kania, tiba-tiba perutnya pun kembali mual dan ingin muntah. Ia secepatnya menuju kamar mandi memuntahkan semua cairan yang keluar dari mulutnya. Memegangi perutnya yang masih terasa nek,
"Kenapa aku jadi seperti ini?" Kania bertanya-tanya pada dirinya sendiri menatap wajahnya di cermin yang terlihat pucat.
Ia pun teringat sesuatu lalu keluar dari balik pintu kamar mandi meraih kalender kecil yang berada di atas nakas.
"Ya Tuhan, Aku sudah terlambat dapat tamu bulanan hampir tiga minggu, Tapi bagaimana bisa aku dan Permadi selalu menggunakan pengaman dengan benar? Apa telah terjadi sesuatu di malam itu?" kejut Kania menutup mulutnya dengan telapak tangannya.
Aaggghhh!!
"AstagfirullahalA'zim!"
Asisten rumahnya sangat terkejut mendengar sesuatu seperti ada barang yang pecah. Yang sengaja di banting begitu keras yang kebetulan asisten rumahnya yang sedang membersihkan lantai atas. Setelah menyapu kamar milik tuan besarnya dan beralih ke lantai atas.
"Suara apa tadi ya? seperti pecahan kaca?'' ujarnya tanpa berani bertanya.
Ia pun kembali melanjutkan pekerjaannya sampai selesai dan turun setelah semua beres.
🍁🍁🍁
"Mama!" sebut Nadia pada wanita paruh baya yang terbaring lemah dengan infus di tangannya.
Nadia duduk di kursi samping brankar dimana mama mertuanya terbaring, mengusap lembut telapak tangan yang sampai saat ini masih ia hormati sama seperti ia menghormati dan menyayangi kedua orangtuanya.
"Nadia, ma_af_kan mam_ma." panggil mamanya lirih dengan suaranya yang lemah.
__ADS_1
"Mama, mama harus banyak istirahat! Jangan memikirkan apapun yang bisa mengganggu kesehatan mama," larang Nadia mengelus punggung tangan mama Dita.
"Nadia, kembali lah pada Permadi, Nak. Maafkan Permadi dan mama." ujar mama Dita menangis.
"Mama, kita bahasnya nanti saja ya! Mama harus sembuh dulu biar mama bisa main dan gendong Fafa lagi.'' bujuk Nadia lembut.
Namun deringan ponsel menjeda obrolan dua wanita beda generasi, Nadia melirik ponsel dari slim bagnya.
"Tantri!" lirih Nadia.
"Mama, Tantri telpon mungkin Fafa rewel. Nadia mau angkat telpon Tantri dulu," Mama Dita mengangguk lemah mengindikkan kedua matanya.
~ Ada apa Tantri? Apa Fafa rewel?
~ Fafa tidak rewel mba tapi tadi ada orang yang mencari mba Nadia.
~ Ada orang yang mencari mba, siapa Tantri?
~ Tantri juga tidak tahu mba.
Tantri mengakhiri panggilan telponnya karena Fafa sudah mulai merengek botol susunya sudah kosong. Nadia pun pamit pada mama Dita untuk segera pulang ke rumah.
"Terima kasih sayang. Kamu memang anak yang baik menantu pilihan mama.'' puji mama Dita menyesali sikap kasarnya pada Nadia sebelumnya.
Nadia melangkah keluar dari ruangan mama Dita, terdengar suara bariton menginterupsi langkahnya memanggil namanya.
"Nadia, kau sudah menemui mama Dita?" tanya papa mertuanya.
"Papa! iya Pah Nadia sudah bertemu mama." jawab Nadia.
"Nadia apa kau bersedia kembali pada Permadi?" tanya Sapto dengan pertanyaan yang lebih ke arah pribadi.
"Papa, Nadia minta maaf jika Nadia tidak bisa kembali pada mas Permadi. Mas Permadi sudah mentalak Nadia dan Nadia pun sudah menandatangani surat cerai yang mas Permadi berikan lima bulan yang lalu."
"Apa! Permadi sudah mentalak Mu, Nadia?" tanya Sapto terkejut. Nadia mengangguk lemah menundukkan kepalanya.
"Keterlaluan, Permadi," geramnya mengepalkan kedua tangannya keras.
"Papa tidak perlu mengatakan apapun pada mas Permadi toh, semua telah terjadi dan Nadia sudah melupakan semuanya."
__ADS_1
"Tapi Permadi sud_''
"Ayah, Maaf Nadia harus segera pulang tidak bisa terlalu lama. Nadia takut Fafa rewel.'' ucap Nadia jujur.
Setelah pamit pada papa mertuanya Nadia beranjak pergi melewati koridor rumah sakit. Nadia berjalan lurus melewati diantara ruang yang berjajar bersisian. Tanpa Nadia sadari seseorang telah menarik tangannya dan membawa dirinya ke arah jalan yang berbeda diantara dinding tebal koridor. Nadia melirik sekilas sedikit mendongak ternyata pria tampan yang telah berhasil mencuri hatinya,
"Mas Arshaka?!
"Sssttt!" meletakkan jari telunjuknya di bibir mungil Nadia.
Arshaka membawa Nadia ke dalam ruangannya dan menguncinya serta menutup tirai ruangannya. Melihat sikap Arshaka membuat Nadia bingung dan bertanya.
"Mas Arshaka, Kenapa membawa ku kesini, lalu kenapa ruangannya di kunci?" tanya Nadia heran.
Tanpa ada jawaban yang keluar dari bibirnya, Arshaka memeluk Nadia dari belakang begitu erat bahkan sangat erat. Nadia pun bingung di buatnya oleh tingkah dokter bedah sekaligus pemilik rumah sakit dimana ia berada sekarang.
"Diam lah Nadia! Kau terlalu banyak bertanya dan bicara. Biarkan aku memeluk mu mu seperti ini." pintanya tanpa melepaskan pelukannya.
Menyesap aroma wangi bunga dan buah yang menguar dari balik tubuhnya. Arshaka menyesapnya dalam-dalam hingga ia merubah posisi memeluk Nadia dan saling berhadapan. Menatap sepasang hazel yang membuatnya damai dan teduh setiap kali mata itu saling menembus pandang.
"Nadia, aku tidak akan melepas mu. Aku mencintaimu Nadia, sangat mencintai mu." ucap Arshaka meletakkan dagunya di pundak Nadia.
"Mas, katakan apa yang terjadi? Aku merasa ada sesuatu yang membuatmu gelisah,'' tanya Nadia yang seolah tahu apa yang sedang Arshaka rasakan.
"Aku merindukanmu, Nadia. Kau membuat ku tidak bisa tidur dengan tenang setiap malam," senyum Nadia yang membuat Arshaka tidak bisa menahan hasratnya sebagai laki-laki normal pada umumnya.
Cuppp
Arshaka mengecup kening Nadia penuh cinta, rasa sayangnya yang entah bagaimana lagi caranya ia mengungkapkan nya. Bahkan kata-kata pun tidak cukup untuknya melukiskan gambaran cinta yang tengah di rasakannya.
"Kau tidak ingin berbagi padaku Mas, Apa yang sebenarnya terjadi pada mu?" tanya Nadia meyakinkan Arshaka.
Arshaka masih diam keinginannya untuk mengatakan pada Nadia tentang masalah dirinya dan masa lalunya dengan Andrea masih ragu. Arshaka tidak sanggup melihat Nadia kembali bersedih setiap kali mengingat kejadia pahit tentangnya. Antara jujur dan menutup rapat tentang Andrea yang masih menganggap dirinya adalah kekasihnya. Terlebih diantara mereka tidak ada kata putus yang menjadi kejelasan status hubungan diantaranya.
Entah setan apa yang telah merasuki dirinya? Sehingga dengan beraninya Arshaka merobohkan benteng pertahanan dirinya untuk tidak menyentuh wanita tercintanya sebelum resmi mengikatnya dengan ikatan yang lebih suci yaitu pernikahan yang ia impikan bersama bidadari syurganya.
Mereka saling terhanyut pada perasaan mereka masing-masing. Bibir itu saling menyatu tanpa lagi bisa berpikir secara logis, merasakan manis madu cinta yang baru mereka rasakan kembali setelah sekian lama sendiri. Lidah itu pun semakin pandai menari dan mengeksplor tiap sensasinya. Hingga yang mereka rasakan adalah sesak karena kurangnya pasokan oksigen. Arshaka melepaskan pagutannya saling memberikan kesempatan untuknya menghirup oksigen dalam-dalam.
Arshaka ******* habis benda kenyal yang terasa manis baginya, hingga bibir mungil yang Nadia miliki terlihat sedikit bengkak. Ia mengusap bibir Nadia yang basah dengan ibu jarinya, Arshaka kembali menetralkan suasana canggung dan tegang yang sempat membuatnya beku.
__ADS_1