
Andrea siap berangkat liburan ke Bali selama lima hari, ia menarik koper keluar menuju ruang depan.
“Andrea, bagaimana sudah siap sayang?“ tanya Adri menarik koper dari tangan putrinya menaruhnya ke dalam bagasi.
“Sayang hati-hati disana segera hubungi rumah jika sudah sampai,“ pinta Tania pada putrinya.
Adri mengantar andrea ke bandara sebelum ia berangkat ke kantor, di terminal dua Andrea duduk menunggu jadwal penerbangannya yang tingal 10 menit lagi.
“Papa harap liburan mu kali ini akan membawa suasana hatimu jauh lebih tenang dan dapat melupakan semua masalah yang menjadi beban pikirannya“ ucap Adri penuh harap, setelah kepulangan Andrea bisa segera melupakan masa lalunya bersama Arshaka. Seorang dokter beda muda yang sukses sehingga sulit membuatnya lupa, begitu saja.
Pesawat dengan tujuan Pulau Dewata telah lepas landas dengan sempurna Andrea duduk sendiri dengan menatap gumpalan awan putih dilangit luas dengan warnanya yang indah.
Seorang pria tiba-tiba duduk di kursi penumpang tanpa permisi membuat Andrea menoleh, siapa yang pindah duduk di sebelahnya?
Andrea menyipitkan kedua matanya. “Dokter Ibra! Kau?“ Kehadiran dokter ahli bedah tulang membuatnya kaget juga heran.
“Iya aku disini?“ jawab Ibra santai.
“Kok bisa? Apakah Kau mengikuti Ku?“ tuduh Andrea padanya tersenyum heran.
“Aku juga memiliki tujuan yang sama ke Bali. Ibuku ternyata ada disana dan memintaku menjemput langsung,“
“Tapi saat itu kau bilang kau akan menjemput ibu dan adikmu di bandara mana yang benar?“ cecar Andrea bertanya seperti seorang wartawan.
“Ibu dan adiku membatalkan penerbangannya, dan mereka lupa menghubungi Ku saat kita berada di rumah sakit saat itu.“ terang Ibra menjelaskan alasannya atau sekedar alasan agar bisa mengikuti kemana Andrea pergi.
“Sungguh menyebalkan!“ sungut Andrea tersenyum tipis.
“Ngomong-ngomong lalu kenapa kau tidak mengatakan padaku jika kau akan pergi liburan ke Bali? Jadi kita bisa berangkat bersama.“
“Ini semua diluar rencana Ku, papa lah yang merencanakan liburan Ku dan menyiapkan semuanya termasuk tiket hotel disana.“ jawabnya jujur.
Obrolan mereka pun terhenti kala pramugari cantik bertanya. “ingin pesan apa?“ dalam dua bahasa yaitu Inggris dan Indonesia.
Mereka pun memesan makanan dan minuman yang sama seperti yang Andrea pesan tiramisu cake dengan cappucino panas. Tidak lama pramugari membawakan menu sesuai pesanannya, Andrea menikmati makanan manis yang Ibra sendiri sebenarnya tidak suka.
Tidak ada salahnya mencoba sesuatu yang yang gadis itu suka sebagai awal permulaan memulai hubungan yang tengah ia raih.
Setibanya di bandara gusti ngurah rai, Ibra mengantar Andrea sampai di lobi hotel Ulu Segara Luxury Suites and Villas.
“Andrea besok aku akan mengajak mu makan malam bersama adikku.“ Adrea mengerutkan dahinya.
“Makan malam?“ lirihnya penuh tanya.
“Ya, Aku ingin mengenalkan dirimu pada keluarga Ku.“ Andrea tersenyum.
__ADS_1
“Maksud mu?“ tanya Andrea lagi tidak mengerti akan maksud ucapan Ibra.
“Ya sudah istirahatlah! Besok aku akan menjemput mu.“ Andrea menggelengkan kepalanya ringan.
Tidak lama pelayanan dan manager hotel menyambut ramah kedatangan Andrea. Dan mengambil alih koper dari tangan Andrea.
“Selamat datang di hotel kami Nona Andreyani Siregar. Kami akan menunjukan dimana kamar Anda,“ ucap pelayan wanita menyatukan tangannya di depan dada, sebagai salamnya menyambut kedatangan Andrea.
“Terima kasih!“ balas Andrea ramah.
Dibukanya jendela yang menghadap langsung ke laut, dihirupnya udara dalam-dalam dan melepasnya perlahan.
“Hahh!“ menjatuhkan tubuhnya keatas ranjang. Ingatannya kembali pada ucapan Ibra, yang akan mengajaknya makan malam bersama keluarganya.
“Apa maksud ucapan Ibra? Tidak mungkin dia tiba-tiba mengajakku makan malam, mengenalkan Ku pada keluarganya jika tidak ada maksud dan tujuannya.“ lirihnya pada dirinya bangkit dari ranjang. Membuka koper meraih baju ganti, yang akan dia pakai ke pantai untuk menikmati pemandangan pantai yang indah.
🍁🍁🍁
"Sayang! Ayah berangkat kerja. Fafa nanti ke sekolah diantar sama oma dan pak Lukman.“ ujar Arshaka.
“Iya, Ayah.“ jawab Fafa mencium tangan ayahnya.
Arshaka mencium punggung tangan bunda Maya. Nadia mengantar suaminya sampai pintu depan.
“Hati-hati mas!“ pesan Nadia mencium punggung tangan suaminya. Sebelum masuk mobil Arshaka mencium kening Nadia lembut. Di susul mobil oma keluar pintu gerbang mengantar Fafa ke sekolah yang pak Lukman kendarai.
Nadia masuk kedalam setelah mobil yang membawa putranya tidak lagi terlihat.
Terdengar suara ponselnya yang berdering begitu nyaring di meja makan.
“Nomor tidak diketahui?“ gumam Nadia melirik layar ponselnya, Nadia memilih membiarkan ponselnya berdering tanpa menjawabnya.
Beberapa menit berhenti ponselnya kembali berteriak, rasa penasarannya memaksa Nadia untuk tahu siapa orang yang menghubunginya.
~ Hallo,
Nadia menjawab telepon.
~Hallo! Assalamu'alaikum, ini siapa?
~ Waalaikumsalam, Nadia!
jawab pria itu dari sebrang telepon dengan suaranya yang terbata.
~ Mas, Permadi?
__ADS_1
~ Ya Nadia. Ini aku. Aku hanya ingin mengucapkan selamat atas kehamilan mu.
~ Darimana mas Permadi tahu nomor ponselku? Sebaiknya mas Permadi tidak perlu menghubungiku. Aku tidak ingin ada kesalah pahaman lagi. Maaf!
~ Tunggu, Nadia!
Nadia menempelkan lagi telepon genggamnya ke telinganya.
~ Mama sakit. Mama sangat merindukan cucunya. Apa aku bisa menemui putraku demi mama?
Nadia diam tidak bisa memberikan jawabannya secara langsung.
~ Nadia!
panggil Permadi memastikan.
~ Maaf aku tidak bisa memberikan jawaban saat ini. Setatus baruku yang telah mewajibkan ku untuk memutuskan segalanya atas izinnya.
Tutt...
Tutt...
Nadia memutus sambungan telepon dari Permadi.
Ia pun memutuskan untuk pergi ke taman belakang menyiram bunga azelea putih kesayangannya. Tapi ponselnya kembali berdering sebelum Nadia melangkahkan kakinya.
Sedikit geram Nadia menggeser ponselnya.
~ Jangan pernah menelpon ku lagi! Atau aku akan mengatakan pada suamiku.
Nadia meninggikan suaranya.
~ Ehm..Ehm! Apa yang ingin kau katakan pada suami mu ini, Sayang?
Nadia mengerutkan keningnya terkejut. Melihat layar ponselnya lalu meletakkan lagi di telinganya.
~ Mas Shaka?! Maaf!
~ Seperti nyonya Arshaka Sakti Bimantara, saat ini sedang marah. Siapa yang sudah menelpon mu dan membuat mu marah sayang?
“Maaf, Mas. Tadi ada marketing dari lembaga keuangan yang menawarkan pinjam secara online.
Jawab Nadia mencari alasan tepat dan masuk akal.
Tanpa Nadia tahu jika suaminya menghubungi nomor ponselnya dengan memakai pesawat telepon kabel.
__ADS_1
~ Mas hanya ingin mengatakan, jika satu jam lagi aku akan menjemput mu, sayang. Untuk menemui dokter obgyn ahli kandungan.
Nadia mengakhiri panggilan teleponnya, dan bersiap sebelum suaminya datang menjemputnya.